Rabu, 21 November 2012

Strategi Bisnis Pendukung dan Penantang


 

 Mungkin Anda pernah melakukan beberapa strategi bisnis agar usaha yang Anda lakukan bisa maju dan berkembang. Tidak ada salahnya jika Anda mencoba salah satu ide bisnis yang paling sederhana, singkat, dan efektif yakni mendorong orang agar membentuk kelompok pendukung dan penantang.
Ide yang telah banyak dipraktikan oleh banyak organisasi di seluruh dunia ini, merupakan sebuah cara yang sangat diperlukan untuk membangun kerja tim, produktivitas, dan efektivitas di tempat kerja.

Ada beberapa ide misalnya sebuah kelompok pendukung dan penantang terdiri dari empat atau lima pekerja yang memiliki level atau status yang sama, yang mengadakan pertemuan informal secara rutin (mungkin sebulan atau seminggu sekali).

Setiap orang secara bergantian menjelaskan tantangan atau masalah yang mereka hadapi selama kurang lebih sepuluh menit. Sementara yang lain mendengarkan lalu mengajukan pertanyaan, yang akan membantu rekan kerja mereka memahami persoalan utamanya dan solusi- solusinya. Hal ini sebaiknya dilakukan tanpa menentukan sebuah solusi; kuncinya adalah mendukung individu tersebut dan menantang pemikiran serta asumsinya.

Jaringan apotek ritel Inggris, Boots, merupakan salah satu organisasi yang sukses menggunakan teknik ini. Kelompok pendukung dan penantang efektif untuk beberapa alasan.
  1. Membicarakan sebuah persoalan atau tantangan dapat membantu memberikan perspektif dan memperjelas masalah, bahkan tanpa adanya komentar dari para kolega.
  2. Pandangan orang lain dapat memberikan pendekatan yang berbeda terhadap sebuah tantangan atau sekedara hanya memberikan dukungan dan kekuatan. Dengan demikian, keterlibatan orang lain sangatlah membantu.
  3. Orang akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai persoalan dan tantangan yang mereka hadapi. Dengan menyadari adanya persoalan yang sama akan mendorong orang untuk lebih berkolaborasi.
  4. Mendengarkan tantangan orang lain dapat membuat individu mempertajam pemikiran dan pendekatan mereka sendiri.
  5.  
Bagaimana penerapan ide ini bisa dilakukan
  1. Kumpulkan sekelompok kolega, jelaskan konsepnya (untuk memberikan dukungan serta menantang pemikiran satu sama lain), dan aturlah pertemuan rutin.
  2. Salah seorang memperhatikan waktu-waktu yang digunakan untuk menjelaskan tantangan yang dihadapi sebaiknya tidak lebih dari sepuluh menit.
  3. Pastikan semua yang hadir benar-benar menyimak penjelasan tanpa menginterupsi.
  4. Ajukan pertanyaan dan berikan komentar secara bergantian. Pendekatan dengan menggunakan pertanyaan biasanya efektif.
  5. Lanjutkan ke individu selanjutnya dan ulangi prosesnya.

Semoga teknik ini bisa membantu bisnis Anda, agar bisa terus bersaing dengan bisnis yang lain.

Teknik Pengobatan Jitu Tanpa Zat Kimia


 

 Namanya manusia hidup pasti pernah merasakan keluhan-keluhan ringan seputar kesehatan.
Banyak penyebabnya mulai dari stres dengan pekerjaan kantor, beban kuliah yang menumpuk, ataupun masalah keuangan yang tak berujung selesai dan banyak lagi masalah lainnya.
Memang kadangkala penyebab keluhan itu bisa berakibat pada keluhan fisik seperti pusing, tidak selera makan, mual, kram perut, dan rasa menyesak di dada.

Dengan keluhan-keluhan itu, banyak orang yang sudah ketergantungan dengan obat yang mengandung zat kimia. Memang memakai obat-obat yang mengandung zat kimia kadang kala sembuh secara instan. Tapi, alangkah baiknya dengan keluhan yang ringan bisa disembuhkan tanpa obat yang mengandung zat kimia.
Berikut beberapa metode penyembuhan tanpa obat yang dapat Anda lakukan sehari-hari yang di lansir dari beberapa sumber.

1. Meditasi
Adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang membebani, maupun mencemaskan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak manfaat meditasi yang bisa Anda rasakan baik secara langsung maupun tidak langsung secara fisik. Dari sudut pandang fisikologis, meditasi adalah anti-stres yang paling baik.
Selama Anda melakukan meditasi biasanya detak jantung melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stres menurun.
Dr. Herbert Benson, seorang ahli jantung dari Universitas Harvard, menjelaskan manfaat-manfaat dari meditasi yang telah dipraktikan orang selama berabad-abad adalah:
  • Apabila Anda secara rutin melakukan meditasi, organ-organ tubuh dan sel tubuh akan mengalami keadaan baik dan bekerja lebih terartur.
  • Mampu menerima suka dan duka, kesulitan, dan kebaikan hidup dengan baik.
  • Mampu mengerti perasaan sesama.
  • Selalu bertekun dalam hidup yang baik, sebagai berkah bagi sesama.

2. Menghirup aroma terapi
Perlu Anda ketahui pengobatan aroma terapi sudah ada sejak 6.000 tahun yang lalu. Kata “aroma terapi” digunakan oleh kimiawan Perancis, Rene-Maurice Gattefosse pada tahun 1920-an, yang mencurahkan hidupnya untuk meneliti sifat penyembuhan minyak esensial setelah musibah labolatorium parfumnya.
Aroma terapi memiliki berbagai jenis aroma. Masing-masing aroma dalam aroma terapi tersebut memiliki berbagai fungsi yang tidak hanya berguna untuk mengharumkan ruangan atau wewangian namun juga memiliki berbagai fungsi luar biasa bagi kesehatan Anda.
  • Aroma terapi Basil,  mengatasi sakit perut, kejang otot dan pegal linu, masalah pernapasan, flu dan demam, lelah mental, sakit kepala, sulit konsentrasi dan mudah gugup.
  • Aroma terapi Clove, mengurangi sakit gigi, diare, kudis, kurap dan kadas.
  • Aroma terapi Cubeb, untuk penyakit anorexia, selulit dan kurang nafsu makan.
  • Aroma terapi Cypress, mengatasi tekanan darah rendah, system sirkulasi, wasir, selulit serta mengurangi keringat yang berlebihan dari dalam tubuh.
  • Aroma terapi Ginger, melindungi tubuh dari rasa kedinginan, demam, mual-mual, pencernaan, anti peradangan, infeksi saluran kencing, kandung kemih, menghancurkan segala jenis parasit usus dan menormalkan tekanan darah.
Ada banyak lagi aroma terapi yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit.

3. Teknik Pernapasan
Salah satu teknik pernapasan adalah menarik nafas panjang untuk mengurangi ketegangan dalam pikiran. Saat menarik nafas  kita menghirup udara sebanyak banyaknya dan menghembuskan secara perlahan. Lakukan berulang-ulang secara perlahan sambil menyadari tarikan nafas dan saat menghembuskannya.
Bayangkan bahwa saat menarik nafas dan mengambil oksigen untuk tubuh, berarti Anda sedang menarik energi dan kekuatan positif dari alam. Ketika Anda menghembuskan jangan terburu-buru, pejamkan kedua mata dan lakukan perlahan seolah-olah Anda sedang melepaskan energi negatif bersama dengan tiupan halus dari mulut.
Dalam teknik pernafasan ini juga baik untuk mengurangi keluhan nyeri saat haid, pada saat melahirkan dan nyeri luka jahitan setelah bersalin. Tehnik relaksasi dengan pernafasan ini dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan daya kerja sel syaraf serta sistem hormonal dalam tubuh.

10 Cara Agar Otak Tak Lemot



 


www.marketing.co.id - Untuk menjaga agar fungsi otak bekerja dengan maksimal, maka perlu juga untuk selalu diasah agar kinerja otak  tidak lemot atau lambat untuk merespon apa yang diperintahkan.
Proses berpikir yang cepat bisa membantu meningkatkan kemampuan orang dalam melakukan banyak tugas diwaktu yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, butuh pelatihan otak yang sederhana. Namun, harus  efektif sehingga kebugaran pikiran meningkat.
Otak adalah pusat sistem saraf yang ada pada organ manusia. Selain itu, otak adalah struktur pusat pengaturan yang meliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri dari 100 juta sel saraf atau neuron. Maka otak mempunyai tugas untuk mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh seperti detak jantung dan tekanan darah.
Berikut ini 10 hal yang bisa dilakukan agar otak tidak lemot dan proses berpikir jadi lebih cepat, seperti dikutip dari Timesofindi:
1. Jangan gunakan kalkulator
Memang kita selalu dimanjakan oleh kalkulator, jika kita mau menghitung yang seharusnya bisa dengan jari tangan maupun menghitung di kepala. Agar otak selalu berpikir. Coba Anda jangan terbiasa menggunakan kalkulator agar otak tetap aktif.

2. Memperluas kosa kata
Memperluas kosa kata adalah salah satu agar otak tak lemot. Cara memperluas kosa kata itu seperti membaca artikel, berita atau novel. Agar otak terbiasa mempelajari kata-kata baru yang sebelumnya tidak akrab didengar. Teknik ini akan membantu mempertajam memori dan meningkatkan kosakata dalam otak.

3. Melakukan seni
Melakukan seni adalah salah satu sumber latihan yang membantu meningkatkan bagian di otak yang bekerja mengekspresikan diri secara non-verbal. Seni membuat orang jadi kreatif, menggunakan keterampilan motorik halus dan berpikir analitis.

4. Gunakan tangan yang tidak dominan
Biasanya seseorang melakukan menggunakan tangan kanan. Tapi,  cobalah menggunakan tangan yang tidak dominan saat melakukan tugas dasar yang membutuhkan konsentrasi,. Kegiatan ini akan memerlukan perhatian ekstra sehingga membuat diri lebih fokus menyelesaikan tugas-tugas sederhana.

5. Mendengarkan lagu favorit berulang
Tidak dipungkiri jika seseorang menyukai sebuah lagu tertentu, orang akan terus menerus mendengarnya. Hal ini akan membantu otak menghapal lirik yang secara tidak disadari membantu otak meningkatkan kekuatan menghapalnya.


6. Belajar bahasa asing
Belajar bahasa asing selain mendapatkan pengetahuan baru,  juga bisa meningkatkan karir profesional seseorang. Di samping belajar bahasa asing menjadi sumber latihan untuk pikiran karena menjaga otak tetap sibuk.

7. Bermain video game
Tidak semua video game buruk, beberapa permainan seperti memecahkan teka-teki sudoku membutuhkan banyak penalaran dan berpikir sehingga membantu mengembangkan kekuatan otak.

8. Hindari GPS, tapi gunakan peta
GPS membuat seseorang lebih mudah mencapai tujuan, tapi teknologi ini membuat orang kehilangan kekuatan berpikir analisis. Untuk itu cobalah gunakan peta sebagai penggantinya, peta membuat orang menggunakan imajinasi dan kemampuan analisis.

9. Jangan menggunakan daftar belanja
Kebanyaka orang mencatat daftar belanjaan yang ingin dibeli, tapi mulai sekarang cobalah untuk tidak mencatatnya melainkan mengingatnya di kepala. Awalnya mungkin akan sulit dan melupakan beberapa hal, tapi seiring waktu pikiran akan jadi lebih aktif dan tak perlu pakai bantuan daftar belanjaan lagi.


10. Melakukan multitasking
Melakukan  multitasking atau tugas ganda adalah kegiatan dasar yang sederhana. Meski bisa membuat orang bingung tapi latihan sederhana ini dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi seseorang, agar otak tetap berkonsentrasi.

Pentingnya Membangun Komunitas


 


Sulit memungkiri kenyataan bahwa komunitas adalah aset penting bagi perusahaan. Mengabaikan keberadaan mereka bukanlah sebuah langkah yang cerdas. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
Pentingnya peran komunitas, baik yang terbentuk secara online maupun offline, telah disadari oleh banyak perusahaan. Mereka dapat memberi dorongan besar bagi bisnis, memberikan word of mouth (WOM), serta feedback bagi perusahaan. Tak heran bila perusahaan rela membayar mahal untuk kehadiran sebuah komunitas. Sayangnya, komunitas bukan soal uang. Ini soal loyalitas.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membangun komunitas, antara lain:


Memancing feedback
Ajukanlah pertanyaan dan biarkan orang-orang terlibat diskusi di dalamnya. Hargailah feedback yang diberikan dengan meresponnya. Tunjukkan bahwa Anda mendengarkan dan ikut terlibat dalam diskusi tersebut.


Biarkan orang-orang berkomentar di blog perusahaan
Hal ini cara yang sangat baik untuk mendapatkan feedback dari pelanggan. Namun, tentunya hal tersebut perlu dikelola dengan baik. Mengelola dengan baik bukan berarti hanya menampilkan komentar yang baik-baik saja. Komentar yang berseberangan dengan perusahaan juga perlu ditampilkan. Hal tersebut justru bisa menjadi cara untuk melakukan dialog. Namun berhati-hatilah dengan komentar yang hanya berisi hujatan dan hinaan.


Bangunlah sebuah forum
Forum dapat menjadi arena bagi pelangganj untuk saling berkomunikasi. Bila diperlukan, Anda juga bisa terlibat di dalamnya. Misalnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka atau justru melontarkan pertanyaan untuk didiskusikan.


Menggelar “kopi darat”
Buatlah pertemuan para pelanggan, misalnya dengan membuat seminar atau event networking. Undanglah pembicara di kalangan profesional. Biarkan orang-orang berinteraksi dan tampilkan video kegiatan tersebut di situs perusahaan.


Buatlah webinar atau tweetchat
Hal ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menjalin komunikasi dengan para pelanggan di dunia maya. Ajaklah pembicara tamu untuk menjawab pertanyaan. Namun, pastikan Anda menjelaskan hal ini kepada para pelanggan yang belum pernah berpartisipasi dalam kegiatan sejenis.


Berikan nilai lebih kepada para pelanggan
Hal ini boleh jadi merupakan poin paling penting dari semuanya. Anda bisa saja memberikan semua hal di atas, tapi bila hal tersebut tak lebih dari kendaraan promosi semata tanpa menawarkan informasi yang berguna, komunitas yang Anda bangun tidak akan bertahan lama.
Pelanggan akan percaya Anda adalah pemimpin dalam industri bila Anda bisa menawarkan sesuatu yang bernilai. Hal ini bisa berupa blog yang informatif, eBook gratis, atau newsletter yang memberikan tips ekslusif untuk komunitas. Membentuk citra sebagai pemimpin akan menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang, bahkan jika perusahaan belum memperoleh keuntungan apapun saat ini.

Hal terpenting yang perlu diingat dalam usaha membangun komunitas adalah konsistensi. Kebanyakan perusahaan tidak konsisten melakukan hal-hal di atas. Akibatnya komunitas yang mereka bangun akhirnya mati. Padahal kalau mau konsisten merawat komunitas ini, kita bisa mendapat banyak keuntungan. Karenanya rawatlah komunitas kita, dan mereka akan menjaga perusahaan, baik secara online maupun offline.

8  Tren Komunikasi Tahun 2012


 
Pergantian tahun sudah di depan mata. Seperti biasa segala macam ramalan dan prediksi tren soal macam-macam hal dibuat. Mulai dari ramalan kehidupan percintaan, bisnis, hingga tren fashion dan tren seputar ekonomi dan pasar modal. Kurang afdol rasanya kalau bidang komunikasi tidak ikut mengeluarkan tren. Berikut ini delapan hal yang akan menjadi tren tahun depan seputar dunia komunikasi dan public relations.
  • Laporan kepada Stakeholder
Keberhasilan atau kegagalan perusahaan umumnya hanya dilaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti dewan komisaris atau para pemegang saham. Namun, di beberapa negara seperti Australia laporan tidak hanya diberikan kepada mereka. Hasil yang diperoleh perusahaan juga dilaporkan kepada para karyawan, pelanggan, termasuk kepada orang-orang yang punya kemampuan mempengaruhi opini publik. Hal ini tampaknya akan menjadi tren tahun depan, terutama ketika brand awareness telah menjadi bagian yang diperhitungkan dalam neraca keuangan.
  • Konvergensi TV Sosial
Ada hal menarik dari aplikasi-aplikas yang ada saat ini. Mungkin Anda pernah dengan tentang aplikasi Get Glue. Dengan aplikasi ini Anda dapat “check in” dalam sebuah program televisi dan berincang-bincang dengan orang-orang di seluruh dunia yang sedang menonton program yang sama. Hal ini memungkinkan kita mengulas sebuah program, membicarakan tentang hal yang terjadi seputar program tersebut, serta mendengarkan pembicaraan orang-orang. Hal ini juga berlaku untuk music dan film. Jika benar proyek terakhir Steve Jobs sebelum ia mangkat adalah iTV, maka hal ini akan jadi sangat populer tahun depan. Siap-siap saja.
  • Integrasi Semua Bidang
Integrasi akan menjadi kata kunci sekaligus hal yang sangat krusial tahun depan. Saat ini kita bicara tentang mobile, sosial, marketing, public relations, iklan, direct mail, surel, customer service, dan sales seperti masing-masing bekerja dalam silo. Pada tahun 2012 hal ini harus diintegrasikan. Customer service tidak bisa bekerja tanpa kita bicara soal sales. Sales membutuhkan public relations. Dan mobile tidak bisa hidup tanpa marketing. Kita akan melihat bidang-bidang ini bekerja sama seperti mereka berada dalam satu lingkaran, dan bukan di dalam silo.
  • Hasil = Jumlah Rupiah
Jika tidak mengukur hasil dalam ukuran rupiah, maka Anda akan kehilangan pekerjaan tahun depan. Anda sepertinya perlu belajar tentang marketing, manajemen produk, dan akuntansi dasar agar dapat melakukan hal tersebut dengan efektif.
  • Email Marketing
Meski terdengar usang, tapi email marketing akan tetap efektif digunakan tahun depan. Memang surel bukan mainan baru yang berkilau layaknya media sosial. Malah surel terdengar oldies. Tapi hal tersebut masih tetap efektif. Hampir semua orang menggunakan surel saat ini, dan belum semua orang menggunakan jejaring sosial. Jadi, ya, email marketing masih akan menjadi tren tahun depan.
  • Sistem Pembayaran yang lebih Mudah
Tahun depan urusan bayar membayar akan lebih mudah dan cepat. Apple Store misalnya. Mereka telah memiliki aplikasi pembayaran yang membuat orang tidak perlu antri di kasir. Hal yang perlu dilakukan hanya mengunduh Apple app, memindai bar code, dan total pembelian pun akan keluar. Tagihan tersebut akan ditagihkan melalui akun iTunes dan Apple akan mengirimkan struk pembayaran Anda melalui surel. Mudah dan cepat. Hal serupa juga telah dilakukan di Starbucks. Tahun depan kemudahan-kemudahan semacam ini akan lebih sering kita jumpai.
  • Jejaring Sosial Baru
Kita sepertinya telah memiliki cukup banyak situs jejaring sosial. Namun, mereka masih akan terus bermunculan tahun depan. Beberapa di antaranya akan cukup menarik. Misalnya saja platform yang dimiliki Pinterest. Platform ini bertujuan untuk mendorong penjualan. Samuel Gordon Jewelers telah menggunakannya dan merilis kontes Pinterest pertama mereka yang bertajuk “Pin to Win”. Keberhasilannya tentu masih harus diuji, namun kita akan melihat bagaimana pemilik merek memanfaatkan hal ini dan jejaring baru yang akan muncul tahun depan.
  • Cetak Bergeser ke Tablet
Tahun depan produk cetak sepertinya akan bergeser ke tablet. Misalnya saja katalog-katalog yang semula dicetak, tahun depan akan berubah ke dalam bentuk aplikasi yang dapat digunakan di tablet PC Anda. Hal ini tentu akan lebih ramah lingkungan karena itu berarti akan mengurangi pemakaian kertas.

6 Langkah Untuk Mengembangkan Public Relation dan Media Plan Anda


Ahli pemasaran akan memberitahu Anda bahwa kampanye public relation yang terencana seringkali jauh lebih efektif daripada iklan. tutorial ini akan membantu Anda dalam mengembangkan dan menciptakan inti dari kampanye PR Anda dalam enam langkah mudah.

Langkah 1:
Tentukan dan tuliskan tujuan Anda untuk publisitas atau media plan.
 Bagaimana Anda akan merancang kampanye public relations? Yang dirancang untuk:
- Membangun keahlian Anda diantara rekan-rekan Anda, press, atau klien potensial Anda atau pelanggan?
- Membangun goodwill antara pelanggan Anda, pemasok atau komunitas Anda?
- Membuat dan memperkuat merek Anda dan citra perusahaan profesional?
- Menginformaiskan dan menciptakan persepsi yang baik mengenai perusahaan dan jasa Anda?
- Membantu Anda dalam memperkenalkan layanan baru atau produk ke pasar Anda?
- Menghasilkan penjualan atau arahan?
- Mengurangi dampak negatif dari publisitas dan atau krisis perusahaan?
Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya menanyakan hal-hal ini pada awal tutorial yang seharusnya untuk menunjukkan Anda bagaimana untuk membuat dan Anda mengembangkan rencana publisitas? Jawabannya adalah mudah. Dalam rangka untuk publisitas dan media Anda berencana untuk menjadi sukses itu pertama yang paling penting untuk menentukan dan mendefinisikan tujuan Anda. Dengan tujuan yang jelas dalam pikiran Anda telah gampang melaksanakan di dalam lapangan  dengan mengingat tutorial ini.



Langkah 2:
Tentukan tujuan Anda dalam mencapai tujuan ini.
 Sangat penting untuk menjelaskan tujuan Anda secara spesifik, terukur, berorientasi pada hasil dan terikat waktu. Tujuan ini harus sejalan dengan bisnis Anda secara keseluruhan, pemasaran dan tujuan penjualan.



Langkah 3:
Tentukan terdiri dari siapa target audiens Anda.
 Siapa yang ingin dijangkau dengan kampanye ini? Apa yang Anda inginkan untuk isi pesan Anda?


Langkah 4:
Mengembangkan jadwal untuk kampanye public relation.
Menciptakan sinergi  dengan bertepatan merencakan public relation menghubungkan dengan pemasaran lainnya dan upaya penjualan.



Langkah 5:
Kembangkan rencana serangan Anda.

Apakah medium komunikasi yang akan Anda pakai untuk menyampaikan pesan Anda?
Contoh: Press Release, artikel, cerita kustomer sukses, Surat ke Editor, Press Conferences, interview atau media tours,, radio, televisi atau press interviews, seminar, event sponsorship.
Pilihlah tiga dari daftar di atas dan mulai lah melakukan penelitian dan kembangkan pendekatan Anda.

Langkah 6:
 Masukkan langkah-langkah di tempat untuk melacak hasil dari kampanye public relation Anda. Setelah setiap kampanye telah selesai dan meninjau hasil. Apakah Anda mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan mencapainya?  Jika Anda mempertimbangkan memodifikasi rencana awal Anda? Jika demikian, bagaimana dan mengapa?

4 Tips Taklukan Tantangan Komunikasi Global




Suka atau tidak, saat ini kita semua telah menjadi perusahaan teknologi. Anda mungkin akan menyangkal hal ini karena perusahaan Anda tidak bergerak di bidang teknologi. Namun, Anda perlu tahu bahwa kehadiran teknologi digital dan media sosial telah membuat kita menjadi perusahaan teknologi.

Hal tersebut adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Hal ini juga berarti perusahaan tidak bisa mengelak dari tuntutan pelanggan untuk terkoneksi dengan merek Anda, kapanpun dan dimanapun. Akibatnya batas tradisional geografis dan kultur menjadi kabur.
Apa artinya ini bagi para praktisi komunikasi? Bagi mereka yang ingin berekspansi ke pasar global, itu artinya mereka perlu menyiapkan strategi yang jauh lebih jitu dari sebelumnya. Strategi “satu untuk semua” tidak bisa dipakai dalam kampanye multinasional. Kita juga perlu memperhitungkan pelanggan yang menuntut dapat berhubungan dengan merek di dunia digital. “Kehadiran” menjadi elemen penting dalam komunikasi digital.

Berikut ini empat tips agar strategi komunikasi Anda dapat menjangkau semua pasar:

1. Jangan mulai sebelum Anda siap
Perusahaan seringkali memulai komunikasi multinasional sebelum mereka benar-benar siap. Mungkin kita semua sudah memahami ini, tapi tidak ada salahnya kembali diingatkan bahwa kita tidak bisa mengkopi kampanye yang dilakukan di satu negara ke negara lainnya. Tak peduli betapapun bagusnya strategi global Anda, ada tiga hal yang perlu diketahui sebelum memulai kampanye regional, yaitu pelanggan lokal, penutur bahasa lokal, dan konten bahasa setempat.
Kalau Anda sudah mengenal tiga hal tersebut, langkah selanjutnya adalah melakukan riset faktor-faktor kunci di masing-masing pasar. Mulai dari perilaku konsumen, linguistik, perbedaan budaya, hingga tren teknologi dan kematangan pasar. Berikan perhatian lebih pada masalah bahasa dan jangan anggap remeh hal yang kelihatannya sepele.  Misalnya saja istilah handphone dan cell phone. Di Asia, orang-orang lebih senang dengan istilah handphone atau mobile phone. Sementara di Amerika Serikat istilah yang digunakan adalah cell phone. Hal ini adalah detil kecil tapi dapat memberi dampak pada sebuah kampanye.

2. Koordinasikan strategi di tingkat global
Hal ini sangat penting dilakukan ketika kita berencana melakukan kampanye global. Di tingkat domestik mungkin Anda sudah fokus pada integrasi online dan offline. Tapi, ketika melakukan ekspansi internasional, Anda harus datang dengan serangkaian kampanye dan channel baru. setelah itu Anda harus menggabungkannya dengan bauran komunikasi yang telah ada sebelumnya.
Untuk menjaga konsistensi kampanye, Anda perlu mempertimbangkan membuat sebuah tim kecil yang terdiri dari praktisi komunikasi global yang berpengalaman. Tim ini nantinya dapat memandu pengembangan strategi.

3. Pilihlah insider yang tepat
Ketika akan melebarkan sayap ke pasar internasional, sangat penting mencari partner lokal yang tepat. Karenanya tidak perlu terburu-buru dalam menyeleksinya. Partner lokal adalah aset yang tidak terganti dalam komunikasi global. Partner yang tepat akan menuntun kita dalam memilih media tepat, channel yang perlu mendapat perhatian lebih, dan ide kreatif yang paling mengena untuk audiens lokal. Tepat tidaknya kita memilih partner lokal akan menentukan kesuksesan kampanye, jadi pilihlah yang terbukti memiliki kemampuan dan pengalaman.

4. Sentralisasi laporan
Untuk menghasilkan kampanye yang sukses dibutuhkan kemampuan menganalisa, menyempurnakan, dan menyesuaikan strategi secepat mungkin. Ini dapat menjadi masalah ketika berada di skala global.
kondisi ini membuat peran laporan sangat penting. Untuk itu Anda perlu menyusun sebuah laporan yang dapat membantu mengambil keputusan dengan cepat. Caranya dengan hanya memasukan indikator kunci. Jangan lupa memastikan tools laporan Anda dapat membaca semua bahasa, mata uang, dan data spesifik yang relevan dengan kampanye Anda. Ini akan menghemat waktu dan memastikan Anda membuat perbandingan yang akurat.
Komunikasi global tidak harus menjadi permainan tebak-tebak buah manggis. Tantangannya memang sangat berat, mulai dari koordinasi kampanye, partner yang cukup banyak, bahasa yang berbeda, hingga perbedaan kultur dan perilaku pelanggan. Namun, kombinasi strategi global yang terkoordinasi dengan keahlian partner lokal dapat menjadi peta penuntun di setiap pasar baru.

6 Peran Kunci Corporate Communicators




Bagi para corporate communicators, saat ini merupakan masa yang berat. Kenapa? Karena sekarang masyarakat mengalami yang namanya “attention deficit disorder”. Hal ini diungkapkan oleh Steve Crescenzo, pakar komunikasi dalam Corporate Communicators Conference di Chicago minggu ini.

“Tidak ada orang yang dapat memperhatikan orang lain lebih dari satu menit,” kata Crescenzo. Parahnya lagi, tim komunikasi perusahaan harus bersaing dengan ratusan media dan aktivitas lain untuk menarik perhatian karyawan. “Menurut Anda kira-kira mana yang akan dibaca kalau pilihannya artikel dari cosmopolitan.com tentang waktu terbaik untuk berhubungan seks dan pidato direktur?” sambung Crescenzo.

Tidak ada orang yang ingin membaca hal membosankan ketika ada hal lain yang lebih menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Di sinilah para komunikator berperan, menciptakan konten yang tidak membosankan. Kabar baiknya, saat ini para komunikator memiliki alat yang lebih banyak dari sebelumnya untuk melakukan hal tersebut.

Ada enam peran yang bisa diambil oleh para corporate communicator agar dapat melakukan tugas mereka menjadi jembatan komunikasi antara perusahaan dan karyawan, yaitu:

1. Mata-mata media sosial
Sebagai corporate communicator, kita perlu menciptakan komunikasi tiga arah, yaitu dari perusahaan kepada karyawan, karyawan kepada perusahaan dalam bentuk feedback, dan interaksi antar karyawan. Nah, bagian terakhir ini menjadi bagian yang sangat penting.
“Bagi saya di sinilah keajaiban terjadi. Jika kita menjadi mata-mata di media sosial, kita cukup mendengarkan. Bila ada hal yang menarik, kita bisa langsung mengeksposnya,” kata Crescenzo. Misalnya saja apa yang dilakukan tim komunikasi perusahaan General Motors. Mereka menemukan cerita menarik di media sosial internal, Overdrive.
Cerita tersebut berawal dari salah satu karyawan mentraktir seorang tak dikenal karena ia mengendarai Chevrolet Traverse. Karyawan tersebut menceritakan hal ini dan mendapat pujian dari rekan-rekannya. Tim komunikasi kemudian membuatkan video yang menampilkan karyawan itu dan ia bicara tentang pentingnya membangun hubungan personal dengan orang-orang yang menggunakan produk perusahaan.
Dari cerita ini kita tahu bahwa karyawan dapat menjadi sumber krisis PR terbesar atau duta besar produk terhebat.

2. Penasihat media sosial
Membuat jajaran eksekutif terlibat dalam media sosial saja tidaklah cukup. “Kita harus membantu mereka memahami apa yang baik dan tidak,” ujar Crescenzo. Para eksekutif perlu diedukasi bagaimana terlibat dalam media sosial.
Untuk berinteraksi dengan para karyawan melalui media sosial, para eksekutif perlu menampilkan sisi lain diri mereka. Sentuhan personal adalah elemen penting dalam hal ini. Ketika mereka terjebak dengan menampilkan posting yang tak ubahnya seperti newsletter maka itu tidak akan berhasil. Di sinilah tim komunikasi perusahaan berperan.

3. Pencari bakat
Tim komunikasi internal bukan satu-satunya yang bisa menceritakan kisah perusahaan. “Anda harus mencari orang lain yang bisa melakukannya. Dan karyawan adalah para pencerita yang baik,” begitu kata Crescenzo.
Setiap orang memiliki cara bercerita sendiri. Hal ini membuat penceritaan kisah perusahaan akan lebih kaya dan penuh warna. Bandingkan bila hanya tim Anda yang bercerita. Pada satu titik tentu akan menimbulkan kejenuhan.

4. Sang alkemis
Peran lain yang perlu dilakukan oleh tim komunikasi perusahaan adalah mengubah berita-berita perusahaan yang membosankan menjadi kabar yang menarik untuk disimak karyawan. Salah satu cara yang diusulkan oleh Cresenzo adalah dengan menulis tentang orang-orang ketimbang terfokus pada kebijakan. “Jika Anda memulainya dengan fokus kepada orang, informasi mengenai kebijakan akan mengalir bersamanya,” jelasnya.

5. Sang pendongeng
Untuk melakukan peran ini, Anda perlu jeli memilih media. Peran ini adalah soal memilih media yang tepat untuk menceritakan sebuah kisah. Anda harus tahu kekuatan dan kelemahan masing-masing media. Misalnya saja video. Media ini sangat tepat untuk menampilkan emosi dan gairah. Di samping itu sangat tepat digunakan untuk mengajak orang-orang “datang” ke tempat yang mungkin tidak bisa mereka kunjungi.

6. Eksekutor
“Do less, and do it better,” begitu kata Crescenzo. Menurutnya tim komunikasi perusahaan harus berhenti “berperang” di pertarungan yang salah. Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang deadline atau desain-desain pekerjaan hanya demi mempercepat proses approval. “Cobalah sesuatu yang baru. satu-satunya medan pertempuran yang perlu diperjuangkan adalah menarik perhatian audiens Anda,” tutup Crescenzo.

Brand Tak Perlu Ragu Minta Maaf




Banyak perusahaan dan organisasi yang pernah menghadapi krisis media sosial mengatakan bahwa pelajaran paling berharga yang mereka dapatkan dari pengalaman tersebut adalah besarnya kekuatan maaf. Meminta maaf dan mengakui dengan jujur kesalahan yang dilakukan membuat mereka mampu membalik keadaan dan mengatasi krisis yang terjadi.

Dalam sebuah wawancara, Frederic Gonzalo, Vice President of Marketing Le Massif – resort ski besar di Quebec, Kanada – menyebut hal yang sama tentang krisis media sosial yang mereka alami pada tahun 2011 silam. “Kami menyadari kekuatan maaf dan kami juga menyadari seharusnya hal tersebut dilakukan lebih awal,” kata Gonzalo.

Namun, untuk menyadari bahwa hal tersebut seharusnya dilakukan lebih awal umumnya pemilik merek harus melewati proses yang sulit. Seringkali butuh waktu lama bagi merek untuk menyadari fakta sederhana tersebut.

Jika meminta maaf dan mengakui kesalahan terbukti berhasil membantu merek mengatasi krisis media sosial, pertanyaannya mengapa dalam banyak kasus para pemilik merek menolak melakukan hal tersebut dan baru melakukannya setelah krisis sudah berlangsung berlarut-larut?

Biasanya hal ini dilakukan karena pertimbangan para pengacara perusahaan. Para pengacara umumnya mempertimbangkan aspek hukum dari tindakan tersebut – meminta maaf dan mengakui kesalahan. Dengan pertimbangan ini, mereka akan menyarankan pemilik mereka untuk mengatakan hal-hal seperti “Kami benar-benar menyesalkan keadaan ini”. Kalimat tersebut akan terdengar tulus tanpa memberikan risiko hukum.

Bagaimanapun mengatakan keadaannya “sangat disayangkan” bukan cara untuk minta maaf apapun keadaan yang membawa merek Anda mengalami krisis. Pelanggan ingin merasakan bahwa Anda benar-benar peduli dan mendengar apa yang mereka alami. Mengganti permintaan maaf dengan mengatakan “hal ini sangat disayangkan” tidak akan memberikan keyakinan pada mereka bahwa Anda benar-benar peduli.

Salah satu hal hebat dari media sosial adalah media ini memungkinkan Anda memanusiakan merek, tak peduli berapapun ukurannya. Pada kenyataannya, pelanggan Anda ingin bertemu dengan orang-orang yang berada di belakang merek, dan mereka memahami bahwa manusia tak luput dari kesalahan.

Pelanggan ingin melihat Anda benar-benar menyesal dan belajar dari kesalahan tersebut. semakin cepat Anda dapat menunjukkan hal ini, semakin baik bagi perusahaan atau organisasi Anda.
Tidak percaya? Mari kita bedah kelebihan dan kekurangan masing-masing strategi tersebut.

Mengatakan “ini sangat disayangkan”
Kelebihan:
  • Hal ini membuat pengacara Anda tenang karena Anda tidak pernah secara langsung mengaku bersalah.
  • Hal mungkin membuat Anda merasa dapat mengendalikan keadaan.
Kelemahan:
  • Ini bukan permintaan maaf dan pelanggan Anda yang sedang kesal juga tidak akan melihat hal tersebut sebagai permintaan maaf.
  • Hal tersebut tidak akan menolong Anda mengendalikan krisis media sosial.
  • Ini tidak menghubungkan Anda dengan pelanggan, karena hal ini Anda tidak bisa membangun hubungan yang panjang dengan pelanggan.
Mengatakan “kami minta maaf”
Kelebihan:
  • Menunjukkan bahwa Anda menyadari telah membuat kesalahan dan akan belajar dari kesalahan tersebut.
  • Membuat pelanggan merasa bahwa Anda peduli terhadap mereka, dan hal ini membantu dalam membangun hubungan jangka panjang.
  • Membuat pelanggan cenderung memaafkan kesalahan
  • Skenario terbaik: ini membantu Anda menghentikan krisis media sosial dengan baik
  • Memanusiakan merek
Kekurangan:
  • Tindakan ini menegaskan Anda melakukan kesalahan.
  • Akan membuat pengacara Anda tidak tenang
  • Membuat Anda berisiko menghadapi tuntutan hukum.
Pada dasarnya para pemilik merek memiliki dua pilihan: meminta maaf sungguh-sungguh dan belajar dari kesalahan yang terjadi atau bermain aman tapi sebenarnya menempatkan merek Anda dalam risiko yang lebih besar. Sebelum mengambil keputusan, tentukan dulu mana yang lebih penting bagi Anda, tim hukum atau pelanggan.

Sesungguhnya pelanggan dan penggemar merek Anda ingin berhubungan dan memaafkan kesalahan Anda ketimbang membawanya ke ranah hukum. “Kadangkala meminta maaf bukan saja hal yang tepat dilakukan, tapi juga ongkosnya lebih murah,” begitu kata Dave Carroll dalam bukunya United Breaks Guitars, The Power of One Voice in the Age of Social Media. (www.prdaily.com)

Harga yang Harus Dibayar untuk Teknologi


Orang-orang yang berkecimpung di dunia komunikasi dan media menghabiskan banyak waktunya untuk online.  Mulai dari mengelola laman Facebook, memonitor Twitter, membaca email, atau hanya sekadar mencari informasi terbaru. Tapi tahukah Anda bahwa ada dampak buruk yang mengintai di balik aktivitas tersebut?

Para ahli mengatakan aktivitas online ini dapat mengubah susunan syaraf otak. Hal ini dikatakan oleh Nora Volkow, Direktur National Institute of Drug Abuse (Attached to Technology and Paying the Price – www.nytimes.com). Hal ini menyebabkan perubahan cara kerja otak. Berikut ini adalah lima contoh yang mungkin terjadi karena perubahan tersebut :

Mudah Terdistraksi
Seseorang akan menjadi mudah terdistraksi ketika notifikasi email berbunyi dan tweet di timeline mengalir deras. Dan orang yang terdistraksi akan berpikir lebih lambat ketimbang yang tidak. Pada tahun 2005 Hewlett-Packard pernah melakukan penelitian tentang hal ini. Hasilnya menunjukkan bahwa pegawai yang terdistraksi oleh email dan telepon mengalami penurunan IQ temporer dua kali lebih banyak ketimbang orang yang menghisap marijuana.

Lebih Mudah Merasa Bosan
Menurut artikel Matt Richtel yang dimuat oleh New York Times, email, SMS dan update media sosial merangsang bagian di otak kita yang merespon kesempatan dan ancaman. “Rangsangan tersebut membuat kita menjadi bergairah karena mendorong terjadinya lonjakan jumlah dopamine. Menurut para peneliti hal ini dapat menimbulkan kecanduan. Ketika rangsangan tersebut tidak ada, orang akan merasa bosan,” begitu tulis Richtel.

Sulit Fokus dan Menangani Stres
Media yang kita konsumsi saat ini tiga kali lebih banyak dari yang dikonsumsi pada tahun 1960. Menurut infografi yang dimuat dalam www.vizworld.com, hal tersebut menyebabkan beberapa hal pada kita:
  • Stres
  • Merusak kemampuan menyelesaikan masalah
  • Menghambat kreativitas
  • Membuat kita lambat dalam berpikir
Tapi itu belum semua. Artikel yang oleh Richtel juga menyebutkan tentang dampak lonjakan kadar dopamine akibat teknologi. “orang yang sering melakukan multitasking juga lebih sulit fokus pada sesuatu dan memisahkan antara informasi yang penting dan kurang penting,” begitu kata artikel tersebut.

Menjadi Kurang Puas
Menurut tulisan David Rock di Harvard Business Review, hubungan online meningkatkan kadar dopamine. Namun, hal tersebut tidak merangsang kadar oksitosin – berdampak menenangkan – dan serotonin yang biasanya terjadi ketika kita berintaksi dengan seseorang di dunia nyata. “Itu artinya, ketika berinteraksi di Twitter, Anda tidak akan merasa puas seperti ketika berdiskusi langsung dengan seseorang di sebuah konferensi,” kata David Rock dalam tulisannya.

Menjadi Lebih Bias
Channel media sosial – blog, Facebook, Twitter – membuat kita makin mudah menemukan informasi yang sesuai dengan apa yang kita percaya. Sayangnya, hal ini jadi membuat kita jadi berat sebelah karena kita biasanya enggan mencari informasi penyeimbangnya. Hal ini membuat kita jadi memahami sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. (www.prdaily.com)

Public Relations Sukses di Era Social Media

 
 

Di dunia teknologi saat ini, sosial media menjadi alat paling penting untuk berbagai bisnis. Ini merupakan salah satu tanggung jawab dari tim Public Relations (PR) untuk berkomunikasi dengan publik, dan salah satu alat yang efektif adalah media sosial.
Mari kita lihat beberapa cara dimana media sosial memberikan kontribusi untuk keberhasilan PR dan mengapa ini penting:

Membangun hubungan
Kunci untuk sebuah kampanye yang sukses adalah selalu terlibat dengan audiens Anda secara konsisten. Hal ini sangat penting dan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Ini adalah cara untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan Anda.

Hubungan media
Selain televisi dan cetak, internet sekarang banyak digunakan sebagai sumber berita, hiburan, dan banyak lagi. Inilah saat yang tepat menggunakan sosial media untuk menghubungkan, menulis konten informatif, dan berbagi dengan publik. Ini adalah cara-cara yang bagus untuk membiarkan media menemukan Anda dan berita Anda, dan berinteraksi dengan mereka.

Membangun merek
Membangun reputasi positif untuk sebuah merek membutuhkan ketekunan. Dan tantangan yang lebih besar selalu hadir saat kita menjaga reputasi yang baik tersebut.
Tidak bisa disangkal, iklan dapat membantu kita menjaga citra, sedangkan PR menjadi dasar untuk membangun merek. Langkah ini tidak boleh diabaikan oleh perusahaan. Jadi apa peran sosial media di sini?
Media sosial dapat membantu dalam proses karena memungkinkan perusahaan untuk menjangkau target audiens yang dituju.

Manajemen krisis
Sekarang perusahaan memiliki halaman penggemar (Facebook) dan Twitter.   Gunakan untuk menanggapi dengan sopan setiap keluhan pelanggan. Selain kesempatan untuk meredakan situasi dengan cepat, Anda dapat menciptakan kesan purna jual yang baik. Seperti yang disebutkan sebelumnya, media sosial adalah platform yang bagus untuk keterlibatan pelanggan secara keseluruhan jadi pastikan Anda siap untuk mengambil tindakan.

Loyalitas merek
Menanggapi komentar dan tweets dapat menghasilkan kesan yang positif. Hal ini dikarenakan para pelanggan dan pembaca merasa terlibat dan sangat dihargai.
Ingat, loyalitas adalah lebih dari sekedar pembelian kembali. Pelanggan yang loyal tidak hanya akan kembali membeli produk Anda namun juga mendatangkan pelanggan baru.
Satu hal lagi, agar fungsi media sosial maksimal, dengarkan audiens Anda. audiens Anda mungkin ingin berbagi cerita dengan Anda.

Dua Potensi Pelanggan Anda

 


  1. Layani SETIAP orang yang datang dan menelepon sebaik mungkin. Orang tersebut mungkin adalah pelanggan terbesar Anda selanjutnya, dan membantu Anda untuk mencapai target penjualan. Dalam dunia teknologi saat ini, penawaran bisa datang dalam bentuk email, sms, dan lain-lain. Tanganilah semua ini dengan cepat dan profesional. Suatu permintaan singkat lewat sms sama pentingnya dengan sebuah telepon dari pelanggan. Tanggapilah dengan serius. Orang tersebut mungkin saja mewakili seluruh perusahaan. Saya pernah mencoba membeli baju untuk keperluan training klien saya sebanyak 500 buah lewat sms. Tapi, jawabannya ternyata lama sekali. Saya akhirnya membeli dari toko lain yang dengan cepat menelepon saya ketika mereka menerima sms dari saya. Si penjual dari toko kedua secara cepat mendapatkan pesanan 500 buah kaos, mencapai target penjualannya dalam tiga bulan berturut-turut, dan menjadi top salesman di perusahaannya selama tiga bulan berturut-turut. Sedangkan toko pertama kehilangan penjualan 500 kaos yang setiap satuannya berharga Rp 50 ribu. Jadi, toko pertama sudah kehilangan Rp 15 juta karena mereka tidak menganggap serius pesanan 500 buah kaos lewat sms. Mereka tidak mengerti kekuatan dari NILAI POTENSIAL. Bagaimana dengan Anda?
  2. Dalam menjual, tidak ada yang namanya “penolakan”—yang ada hanya “penundaan”. Setiap penjual harus mempunyai mindset seperti ini. Hal inilah yang membedakan apakah Anda akan mendapatkan prospek atau tidak. Ketika seorang penjual merasa si pelanggan telah menolaknya, sudah wajar kita sebagai manusia merasa ditolak dan tak diterima. Terlebih lagi jika saya merasa Anda sudah menolak saya. Wajar saja jika saya ingin menjauh dari Anda. Rasanya aneh jika harus bolak-balik mendekati klien yang sudah berulang kali menolak kita. Suatu saat, saya akan berhenti menelepon dan mengunjungi Anda karena Anda sudah menolak saya. Saat saya benar-benar berhenti datang dan menelpon, saya sudah menutup segala peluang untuk mendapatkan pesanan dari Anda di masa depan. Komunikasi kita terhenti, hubungan kita tak berkembang. Berakhir sudah.
Jika Anda tetap terus memelihara kontak dengan konsisten dan tulus, pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Mungkin perlu waktu satu bulan, satu tahun, bahkan tiga tahun. Tetapi, pada akhirnya Anda akan mendapatkan pesanan. Ini bukan masalah apakah iya atau tidak, tetapi lebih pada “kapan”. Saya sendiri sudah berpengalaman akan hal ini. Saya mendapatkan order untuk in-house training setelah selama enam tahun tetap memelihara kontak.

Saya mengirimkan kartu ulang tahun, tahun baru, dan Idul Fitri selama enam tahun. Hal ini memerlukan tiga kartu dalam setahun, dikali Rp 10 ribu per kartu (termasuk perangko), jadi totalnya Rp 180 ribu. Saya baru mendapatkan satu order setelah enam tahun. Lebih dari cukup untuk menggantikan 18 kartu. Dari satu order tersebut, saya mendapatkan dua order lagi untuk training. Temannya juga menghadiri training. Ia terkesan dan mengundang saya untuk mengadakan training di perusahaannya. Semua order ini datang dari 18 kartu seharga Rp 180 ribu. Biaya atau investasi? Pikirkanlah sendiri.

Cerita film Pretty Woman memberi contoh bagaimana seorang pelayan toko bisa kehilangan pelanggan baru yang sangat potensial. Mari sekarang kita membahas konsep “nilai potensial” yang juga sangat relevan dengan para pelanggan yang sudah dimiliki perusahaan Anda.

Pertanyaan:
Pada saat Anda membeli suatu produk dari pemasok baru yang belum lama Anda kenal, apakah Anda ingin langsung membeli dalam jumlah besar, atau Anda lebih suka membeli dalam jumlah kecil terlebih dahulu? Lalu, jika si pemasok ternyata bisa dipercaya, Anda pun akan meningkatkan jumlah pesanan secara bertahap. Saya yakin Anda akan memilih cara kedua.

Maka, pemesanan pertama jumlahnya pasti selalu lebih sedikit—hanya untuk mencoba. Jika puas, Anda akan memesan lebih banyak lagi. Seorang pelanggan yang baru, jarang sekali membeli dalam jumlah besar. Walau bagaimanapun, yakinlah bahwa pelanggan tersebut punya kemampuan dan potensi untuk membeli lebih banyak lagi nantinya.

Jika Anda hendak menginvestasikan uang di perusahaan investasi yang baru Anda kenal, apakah Anda menaruh semua uang Anda di sana? Kemungkinan besar tidak! Anda mungkin mau berinvestasi dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jika selama enam bulan, misalnya, Anda merasa pelayanan mereka memuaskan, profesional, dan bisa diandalkan, kemungkinan besar pula Anda akan menambah uang Anda di sana. Jumlah investasi awal Anda hanyalah sebagian dari seluruh uang yang bisa Anda investasikan.

Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kedua contoh di atas? Pelajarannya adalah, berapa pun jumlah atau kualitas pembelian pelanggan dari Anda, ia pasti mempunyai potensi atau peluang untuk membeli lebih banyak lagi. Hal ini sangat benar, terutama jika menyangkut pelanggan yang baru.
Jika Anda setuju dan sadar bahwa semua orang yang masuk ke toko, memesan lewat telepon, lewat email, atau sms mempunyai peluang atau potensi yang besar, bagaimana Anda memperlakukan mereka sehingga mereka bisa membeli dari Anda pada suatu saat di masa depan..?

Sama halnya jika Anda setuju bahwa semua pelanggan yang sudah Anda miliki mempunyai potensi yang sangat besar untuk membeli dari Anda, bagaimana Anda memperlakukan mereka untuk meyakinkan agar mereka bisa membeli lebih banyak dari Anda nantinya?

Perusahaan dan penjual yang menyadari potensi yang besar dari semua pelanggannya dan berusaha lebih keras untuk melayani pelanggan, pada akhirnya akan menikmati hasil yang lebih baik sebagai imbalan dari kerja keras mereka. Sebaliknya, perusahaan dan penjual yang tidak demikian akan kehilangan suatu peluang yang sangat besar

Selasa, 20 November 2012

Pentingnya Role Model dan Mentoring untuk Sukses

Role model dan mentoring bisa membantu anak muda untuk meraih sukses, punya kontribusi, dan memiliki pandangan yang lebih positif.
Banyak anak muda Indonesia yang tak tahu cara meraih mimpi, mencapai sukses, bahkan tidak berani bermimpi. Mereka memilih untuk menjalani saja apa yang ada saat ini. Ketika punya mimpi pun, tak sedikit yang kehilangan arah dalam mewujudkannya.
 
Masalah ini dialami baik kalangan mahasiswa yang bersiap memasuki dunia kerja, maupun first jobber dan yang sudah lama berkarier tapi mandek karena tak tahu apa passion-nya, dan harus berbuat apa untuk meningkatkan kariernya.

Pengusaha berusia 31, penulis buku Young On Top, Billy Boen, mengatakan, kebanyakan anak muda yang tak tahu apa passion-nya. Mereka tak tahu apa yang diinginkan, sehingga terjebak dalam keadaan yang menghambatnya meraih kesuksesan.

"Problemnya di Indonesia kurang role model. Terlalu banyak berita negatif di media massa. Jadi banyak anak muda menjalani apa yang ada sekarang saja, dan tidak punya mimpi. Butuh role model dan dukungan yang memfasilitasi anak muda untuk meraih sukses, untuk diri dan lingkungannya, supaya anak muda punya kontribusi dan memiliki pandangan yang lebih positif," jelas Billy, saat peluncuran program Nivea for Men - Men In Mission di Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Sukses bagi Billy adalah apabila seseorang mampu mencapai apa yang diimpikan dari awal. Juga hidup seimbang, antara karier, keluarga harmonis, memiliki teman yang banyak, serta mampu bersenang-senang dan menikmati hidup. Sukses juga bisa bermakna seseorang bisa melakukan perubahan dalam diri sehingga bisa membuat perubahan positif bagi lingkungannya. Kesuksesan ini bisa diraih siapa saja, asal punya passion dan mimpi, serta melakukan aksi nyata menuju kesuksesan itu.

Sayangnya, banyak anak muda tidak tahu apa passion-nya. Tak banyak orang yang bekerja sepenuh hati karena merasa happy. Banyak juga yang tidak tahu arah mengenai apa yang akan dicapainya. Problem lainnya adalah, kurangnya keinginan kuat untuk melakukan perubahan yang mendorong seseorang bekerja untuk berkontribusi, bukan sekadar mematuhi tugas dari perusahaan atau atasan.
"Sukses itu menular ke orang lain. Setiap orang bisa menjadi mentor bagi yang lainnya untuk meraih sukses. Enggak asik kalau sukses sendirian," ungkapnya.

Karenanya penting bagi generasi muda memiliki mentor, role model yang mendukungnya meraih sukses. Selain role model dan mentoring, anak muda juga perlu memupuk kepercayaan diri. Billy mengatakan percaya diri artinya memahami kelebihan dan kekurangan diri. Penampilan pun perlu diperhatikan, bukan dengan melihat merek pakaian tapi lebih kepada menghargai orang lain dengan penampilan yang tepat.

"Ada orang yang sukses tapi tak memedulikan penampilannya. Tapi kita juga bisa memberikan penghargaan terhadap orang lain dengan menjaga penampilan. Penampilan yang tepat memberikan aura berbeda dan membuat kita lebih percaya diri karenanya," jelas Billy.
Kunci sukses lainnya adakah memiliki action plan. Ada gol spesifik dan langkah spesifik yang dilakukan untuk meraih sukses. Semua hal ini bisa diraih dengan berani bermimpi dan menemukan passion. Lagi-lagi, mentoring dan role model menjadi pendorongnya.

Billy mengungkapkan, sistem pendidikan Indonesia tidak menyiapkan mahasiswa tingkat akhir untuk memasuki dunia kerja. Di sinilah mentoring sebenarnya berperan. Dan anak muda Indonesia tak banyak memiliki kesempatan ini.

"Saya belajar di luar negeri dan di tingkat akhir saya belajar cara membuat CV yang baik, cara menghadapi wawancara, dengan begitu kita lebih siap memasuki dunia kerja," tutur pria yang sukses meraih posisi General Manager perusahaan bidang fashion di usia 26, dan menjadi Direktur pada usia 29, hingga akhirnya mendirikan perusahaan sendiri saat ini.

Billy menunjukkan bagaimana dengan passion yang kuat dan mimpi yang besar, didukung role model dari mentoring, seseorang bisa menikmati kesuksesan.
"Sejak kecil saya bercita-cita jadi bos, saya tidak tahu apa artinya. Saya bisa menjadi GM di usia 26 tahun karena mencolong start, menyelesaikan S1 dalam 2 tahun 8 bulan, dan melanjutkan S2. Saya tahu apa yang mau dicapai. Dan attitude juga penting, bagaimana kita menghargai orang lain dan mau belajar," kisahnya.

Billy meraih sukses bermodalkan passion, mimpi, juga aksi nyata, tanpa terlepas dari mentoring yang diyakininya berdampak besar pada diri anak muda.
5 Jurus Pencitraan Diri  Efektif

Bangunlah citra yang positif di dunia maya sama dengan pada kenyataannya dalam dunia kerja.
Sejak social media booming, banyak orang mengandalkan dunia maya sebagai media untuk membangun citra. Apalagi sejak munculnya microblog Twitter. Apa yang mau Anda citrakan di mata follower, maka itulah yang akan Anda tweet. Sah saja Anda melakukan hal itu. Namun, citra yang baik di dunia maya juga mesti dibarengi dengan kesan yang sama di dunia nyata.

Jangan sampai orang lain melihat Anda sebagai sosok berbeda, antara di Twitter dan di dunia nyata. Berikut trik untuk membangun kesan positif agar kesempatan besar datang menghampiri Anda.

1. Menangkan kesan pertama.
Ada yang bilang, don't judge book by it's cover, karena pribadi seseorang tak cukup dinilai dari penampilannya. Tapi, di dunia profesional, pepatah ini tampaknya tak sepenuhnya benar. Di dunia profesional, penampilan adalah hal yang penting. Bagaimana penampilan kita, itulah penilaian orang tentang diri kita. Karena itu, penting menyesuaikan pakaian dengan profesi dan posisi.

Misal, jika Anda seorang PR Manager, pilihlah pakaian yang menunjukkan bahwa Anda memiliki power, berdedikasi, tapi juga bersikap terbuka. Mengenakan blazer dengan warna cerah, misalnya. Begitu pun dengan rambut, usahakan rambut sudah tertata rapi begitu Anda menginjakkan kaki di kantor.

2. Meja kerja cerminan pribadi.
Kalau meja kerja cenderung berantakan, orang akan menilai Anda sebagai pribadi yang tidak terorganisir. Jadi, rapikan meja sesering mungkin. Sebanyak apa pun pekerjaan, usahakan untuk tidak membiarkan dokumen bertebaran di meja. Susun dengan rapi di pojok meja, agar ruang kerja lebih luas dan tidak menyulitkan Anda mencari dokumen yang tercecer. Selain itu, tak perlu menyimpan barang pribadi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan di meja kerja.

Menurut Frances Cole Jones, penulis buku The Wow Factor: The 33 Things You Must (and Must Not) Do to Guarantee Your Edge in Today's Business World, "Sebuah bingkai foto takkan jadi masalah, tapi jangan mendominasi meja kerja dengan barang pribadi lainnya seperti make up."

3. Bicara tegas dan jelas.
Pastikan Anda tahu setiap kata yang akan dibicarakan. Sehingga Anda bisa bicara langsung pada intinya tanpa harus berbelit-belit. Pembicaraan yang terlalu banyak diawali dengan basa-basi akan membuat pendengar merasa bosan dan tak tertarik dengan topik Anda. Selain itu, hindari bicara terbata-bata yang akan membuat Anda terlihat tidak menguasai topik pembicaraan.

Bicaralah dengan lantang dan artikulasi yang jelas. Usahakan tidak menggunakan nada membentak, menghardik, atau meremehkan lawan bicara. Gaya bicara Anda pada orang lain akan menentukan bagaimana orang akan menilai dan menghargai diri Anda.

4. Jadi diri sendiri.
Apakah selama ini semua yang Anda tulis dalam status Facebook atau "kicauan" di Twitter benar-benar sesuai dengan apa yang ada di pikiran Anda? Pernahkan Anda menuliskan suatu opini dan informasi agar orang lain memberikan penilaian tertentu kepada Anda?

Ada baiknya, apa yang Anda tampilkan di dunia maya tak berbeda dengan kepribadian yang sebenarnya. Apalagi, sekarang ini tak sedikit perusahaan  atau klien yang menyimak rekam jejak seseorang di dunia maya. Menciptakan kepribadian ganda di dunia maya dan nyata akan membuat orang lain binging menghadapi Anda dan tentunya ini berdampak buruk pada citra diri Anda.

5. Jangan umbar masalah pribadi.
Tak bisa dipungkiri, social media memang menjadi media yang menyenangkan untuk menuangkan isi hati. Tapi, bukan berarti Anda bebas mengekspos semua masalah yang terjadi dalam hidup Anda. Biasanya, hal-hal yang membuat Anda marah atau kecewa, justru Anda umbar di dunia maya. Mulai pacar yang selingkuh, tagihan kartu kredit membengkak atau ungkapan emosi personal lainnya.

Meskipun bukan artis yang biasanya mendapatkan perhatian, kehidupan di dunia maya tetap menjadi sorotan banyak orang. Begitu pun saat di dunia nyata, hindari membicarakan masalah pribadi di area publik seperti di lift atau toilet, jika tak mau masalah hidup Anda menjadi konsumsi publik. Jangan lupa, pilih teman untuk curhat. Jangan mengeluhkan kehidupan pribadi pada sembarang orang. Semakin sedikit masalah Anda diketahui orang lain, semakin baik citra diri Anda.

Pemimpin Punya Keharusan Meng-Coaching Bawahan

Visi yang bagus, jelas, dan mengacu pada masa depan hanya bisa dicapai melalui "coaching" intensif.
 
 
Pemimpin seperti apa yang Anda kagumi? Kita banyak mengagumi pemimpin karena otaknya yang brilian, keahliannya berstrategi, pengambilan keputusan yang tepat, keberanian mengambil risiko, atau kemampuan membawa perusahaan tumbuh besar. Kita bisa melihat bahwa terkadang kesuksesan tidak berkorelasi dengan sikap pimpinan terhadap bawahannya.
 
 
Steve Jobs, misalnya, melegenda lebih karena kekuatan inovasi, bukan kekuatan hubungannya dengan manusia. Ada bawahan yang bisa betah bertahun-tahun dalam organisasi yang dipimpin atasan yang tidak simpatik, atau bahkan jelas-jelas suka mengadu domba.
Keberhasilan mencetak laba dan melipatgandakan aset perusahaan memang masih menjadi indikator utama kehebatan seorang pimpinan, bahkan dijadikan "model" manajemen yang dianggap ideal.

Sekarang, mari kita bayangkan bila di bawah para pemimpin keren ini ternyata tidak tumbuh calon pemimpin masa depan untuk menggantikannya. Tidakkah kita dengan mudah melihat perusahaan segera akan mengalami krisis dan sulit mempertahankan pertumbuhan usahanya? Dalam situasi ini, masihkah kita menilai para pemimpin ini sebagai pemimpin yang efektif?

Dari tahun ke tahun, banyak survey dilakukan untuk menjawab pertanyaan “Apa karakteristik terpenting seorang leader”. Kita bisa melihat bahwa kriteria leader yang efektif tampaknya memang “bergerak” sesuai dengan tuntutan jaman. Hasil survey media sosial terkemuka, LinkedIn, mendapatkan hasil bahwa peringkat  tertinggi karakteristik terpenting leader adalah: visi yang ber-impact. Peringkat selanjutnya adalah kekuatan memotivasi dan inspiring, kemampuan mendengar, mengenal anak buah secara individual, dan kekuatan membela timnya.
Kompetensi ini lalu disusul dengan kekuatan pengetahuan teknis dan kemampuan menjaga keseimbangan "life skills". Bila persentase tindakan yang mengacu pada perhatian pada tim dan anak buah atau "coaching" dijumlah, maka aspek-aspek tersebut bernilai sekitar 60 persen dari kekuatan leadership.
Ini berarti bahwa coaching adalah jantungnya leadership. Atau, dengan perkataan lain, visi yang bagus, jelas, dan mengacu pada masa depan hanya bisa dicapai melalui "coaching" intensif.

Pengembangan manusia, penguatan budaya, reputasi dan image perusahaan memang hal yang "intangible". Sampai hari ini pun mengukur laba jauh lebih mudah daripada mengukur "suasana kerja yang menyenangkan". Banyak orang masih senang memperdebatkan mengenai “Apa hubungannya suasana menyenangkan dengan laba perusahaan?”, “Benarkah sikap kerja produktif betul-betul bisa melipatgandakan produktivitas?”.


Di sisi lain, kita bisa melihat ada calon karyawan mengundurkan diri dengan alasan, “Perusahaan itu suasananya tidak menyenangkan, atasannya sangat cuek.” Meski susah diukur, kita tahu memang hal-hal intangible ini adalah aset yang nyata-nyata ada. Itu sebabnya pemimpin ataupun organisasi yang berani memutuskan budget signifikan untuk menumbuhkan kepemimpinan, memperkuat leadership, maupun menyuburkan budaya positif di organisasinya bisa kita sebut punya visi masa depan yang jelas dan kuat.

Kebutuhan kita semakin jelas. Kita butuh membangun tempat kerja yang "hidup", di mana pikiran, talenta, dan hati bersinergi satu sama lain. Kita butuh menyusun barisan yang bisa berespon terhadap perubahan yang tak terduga, dan berkecepatan seperti kilat ini. Kita tidak lagi bisa mengontrol kekuatan pengambilan keputusan dari "kursi" kita sendiri. Kalau bisa, seluruh karyawan dipersiapkan untuk berjaga-jaga dengan membentuk pemahaman, pengembangan, dan kemampuan belajar yang tinggi, sehingga apa pun perubahan, perusahaan bisa dengan fleksibel menanggulanginya.
Jadi, peran leader sebagai coach memang bukan lagi bersifat pilihan, tapi sudah bergeser menjadi keharusan. "To be an effective leader, you must be an effective coach.”

Menggeser fokus
Kita bisa melihat guru yang baik menjadi kepala sekolah, salesman top menjadi manajer, programmer komputer yang piawai kemudian menjadi team leader. Padahal tidak ada jaminan bahwa para profesional ini bisa mengakselerasi kinerja. Mereka bisa menggerakkan dirinya sendiri untuk berprestasi, tetapi bisakah menggerakkan orang lain dan timnya?

Kompetensi teknis memang senantiasa menjadi jalan bagi individu untuk menapaki karier ke posisi leader. Namun, saat kita di posisi yang menuntut pengelolaan anak buah, kita perlu segera mengembangkan kemampuan interpersonal kita, seperti berkomunikasi, memberi masukan, mengajak, bersabar, mendengar, berkonfrontasi, dan menanggulangi konflik.
Kita juga belajar menyeimbangkan kekuatan kita dengan faktor-faktor eksternal seperti strategi, prioritas, dan hasil di samping values, sasaran, dan self awareness. Pada saat inilah seseorang perlu melangkah lebih jauh dan mulai mempersiapkan kompetensi coaching-nya.

Pemimpin perlu sadar bahwa ia tidak lagi bisa hanya ribet dengan sasaran, image, dan obsesi pribadinya, melainkan harus mulai membagi fokus pada hal-hal yang jauh di luar dirinya, termasuk kondisi anak buahnya, karena inilah yang pada akhirnya merupakan kekuatan organisasi. Tentu bukan hal yang salah untuk berfokus pada laba perusahaan dan harga saham, namun pemimpin perlu sadar bahwa peran untuk memonitor progres, perbaikan, dan prestasi setiap individu di bawah pimpinannya adalah peran sentral dalam kepemimpinannya.
Bila seorang pemimpin sudah melepaskan ke-aku-annya, barulah ia siap untuk meng-engage pikiran dan hati anak buah. Pada saat itulah dia perlu mempraktekkan kemampuan komunikasi tingkat tinggi, jago mendengar, bersabar, menunggu, dan merancang tugas-tugas progresif timnya, agar biasa menjadi pemenang.





Memimpin pemimpin
Seorang pemimpin yang kuat melakukan coaching menyadari bahwa ia bukan melakukan hal itu sekadar karena hobi atau passion-nya. Kesadaran bahwa ia sedang mempersiapkan bawahannya menjadi pemimpinlah yang bisa memperkuat power-nya untuk melakukan coaching. Ia harus sadar bahwa individu yang tengah ia bimbing adalah pemain-pemain tangguh yang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang sulit diprediksi, penuh turbulensi, chaos, bukan sekadar perubahan normal.

Respons-respons yang dilatih bukan sekadar melihat ke belakang, mengencangkan ikat pinggang saja, tetapi justru kekuatan menghadapi hal-hal eksternal seperti perubahan peraturan, kekuatan pelanggan, dan perkembangan teknologi. Latihan  ketahanan, keberanian untuk menghadapi yang tidak terduga, keberanian untuk “tampil”  perlu dibuatkan lahan latihan.
Seorang coach adalah “culture creator”, bukan “answer provider”. Hanya dengan adanya manusia berkualitas perusahaan bisa mempunyai nilai sustainability tinggi. Dan, membangun manusia hanya bisa dilakukan melalui coaching yang intensif.
Menumbuhkan Budaya "Coaching" di Perusahaan
 

Role model dan mentoring bisa membantu anak muda untuk meraih sukses, punya kontribusi, dan memiliki pandangan yang lebih positif.
Tidak sekali dua kali kita mendengar karyawan, bahkan leaders melihat coaching sebagai kegiatan yang “berjarak”, dianggap pekerjaan tambahan, atau bahkan eksklusif bagi orang tertentu saja di organisasi. Padahal, di sekitar kita, bisa kita saksikan organisasi di mana coaching menjadi bagian sehari-hari dari situasi kerja, sudah membudaya secara progresif.
 
Tengok di restoran fastfood, saat seorang supervisor dengan gigih mengajarkan pada para pramusaji, cara melafalkan menu makanan yang kebetulan berjudul asing. Bukankah hal sederhana ini menggugah hati kita dan menyadarkan pada kita betapa learning dibutuhkan di setiap profesi?
Contoh lain, kita juga kerap berlaku tidak sabar, geregetan, saat dilayani frontliner baru yang didampingi oleh seniornya. Sebagai pelanggan, kita menjadi korban proses belajar sang pemain baru.

 Namun, bisakah kita bayangkan bahwa perusahaan ini sedang melipatgandakan kapasitasnya untuk berkembang, agar bisa melayani pelanggan dengan lebih baik, dan melipatgandakan jumlah cabangnya? Ujung-ujungnya, tidak hanya individu yang menerima pelajaran yang diuntungkan, namun saat ia bertambah pintar, sang coach alias atasan, bisnis, juga pelanggan langsung bisa merasakan manfaat dari individu yang makin capable dan proses kerja yang semakin "canggih". Bukankah "learning organization" seperti ini yang kita idam-idamkan?

Di samping menghitung laba, kita memang perlu secara berkala mengukur sejauh mana coaching membudaya dan mengecek apakah organisasi kita mengarah ke learning organization. Ini penting, karena laba saja tidak bisa dijadikan kapital untuk maju. Dalam perusahaan dengan budaya coaching yang mantap, setiap karyawan selalu ingin berprestasi lebih baik lagi, dan siap menerkam "opportunity" di depan. Atasan-bawahan bisa membicarakan pekerjaan secara santai dengan target meningkatkan kompetensi dan kualitas kerja.

Perusahaan dengan budaya coaching yang kuat menjunjung tinggi nilai-nilai potensi manusia, sehingga pembicaraan korektif di antara atasan dan bawahan untuk memuaskan pelanggan internal dan eksternal, apapun bentuknya, diwarnai respek dan trust yang tinggi. Sebaliknya, coaching sulit tumbuh bila kita banyak melihat atasan atau teman "membuang muka" bila ada rekan kerja berbuat salah.

Kita juga sudah pasti tidak bisa melihat budaya coaching tumbuh, bila setiap ada kesalahan ditemukan terjadi pengkambinghitaman atau pen-cucitangan-an. Semakin coaching tidak dilakukan, kita akan melihat hubungan semakin longgar dan kinerja pun tidak bisa diramalkan. Pertanyaannya, bagaimana menghentikan lingkaran setan ini? Sudahkah kita menjalankan upaya yang tepat, sehingga hasil belajar yang kita inginkan bisa kita lihat dalam kurun waktu yang terprediksi?

Sasaran coaching = sasaran bisnis
Kita tahu bahwa setiap organisasi perlu mempunyai tujuan yang jelas. Setiap organisasi tentu perlu mengkomunikasikan sasarannya: tahunan, bulanan, kalau perlu mingguan kepada seluruh karyawannya. Sukses unit bisnis, departemen, ataupun perusahaan secara keseluruhan lah yang harus menjadi sasaran coaching. Misalnya, perusahaan ingin menurunkan cost sebesar 10 persen, maka tujuan inilah yang menjadi patokan pengajarannya. Saat organisasi menargetkan untuk mencapai "juara servis", kita pun perlu tahu apa yang diukur, bagaimana mengukurnya, dan apa kriterianya.

Bila perusahaan akan mendapatkan lebih banyak proyek dari kemampuan teknis karyawannya, maka otomatis karyawan akan terdorong belajar bahkan berlomba mengasah dan menguasai ketrampilan demi ketrampilan. Saat sasaran, konten, urgensi, dan benefit jelas, barulah individu belajar untuk mencapai sasaran dan berkontribusi dengan cara yang lebih baik. Dengan tujuan yang clear, baru kita bisa menghidupkan suasana pembelajaran yang baik. Jadi, coaching culture perlu tetap dijadikan inisiatif bisnis, bukan sekadar program pengembangan manusia.

Budaya coaching tidak bisa dipaksakan dengan semata melakukan pelatihan coaching bagi tiap atasan. Ketrampilan coaching tidak akan menjadi amunisi hebat, bila konten dari inisiatif  program coaching tidak dibuat. Jadi, konten harus jelas dulu, selanjutnya barulah para leader ini perlu mengembangkan kepemimpinan yang menggunakan pendekatan coaching dalam persuasi untuk mencapai konten atau sasaran bisnis tersebut.
Coaching adalah "applied leadership", di mana persuasi dilakukan dengan gaya bicara yang cerdas secara emosional, ber-EQ tinggi. Itulah sebabnya, saat Bank Mandiri menerapkan “7 Steps Service Coaching” dalam upaya menjadi juara servis, setiap atasan berlatih untuk mengungkapkan perasaannya, obsesi dan standarnya, sampai menyentuh “rasa”.
Hanya dengan sentuhan rasa, engagement bisa terjadi, dan pada saat itulah feedback baru bisa efektif, tanpa penolakan atau pengelakan, malah menjadi sarana belajar. Pembentukan hubungan “tutor-trainee”dan "coach-coachee”, buddy system, kemudian menjadi struktur kegiatan coaching yang akan menjamin penyebaran dan pencatatan hasil yang dimiliki semua orang.

Motor "coaching": "self belief”
Kita belum bisa mengatakan perusahaan kita berbudaya coaching, bila sesi pembelajaran yang terjadi bersuasana kaku dan menegangkan. Kita pun makin sadar bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan "classroom training" saja. Kita tahu bila pekerjaan sedang padat, maka karyawan yang ada di kelas training hanya memberi separuh fokus, karena separuh fokusnya tertinggal di pekerjaan. Ini berarti pelajaran terbesar tetap adanya "on the job". Atasanlah yang perlu kreatif mengupayakan learning platform yang menarik, misalnya real-play, role-play atau simulasi yang benar-benar berdampak langsung terhadap perubahan perilaku.

Dalam perusahaan yang sudah terlihat budaya "coaching"-nya, kekayaan perusahaan justru terletak pada “self belief” karyawannya. Begitu karyawan sudah mengembangkan self belief, maka ia akan memilih cara belajarnya sendiri, yang akhirnya pasti membawa suasana ingin tahu yang tinggi tetapi bertanggung jawab. Risiko dan kesalahan dianggap sebagai ujian dan studi kasus, yang kalau perlu dibicarakan bersama.

Inilah suasana yang paling empuk untuk memasukkan ilmu dan ketrampilan baru, karena kehausan individu untuk belajar tidak ada habisnya. Bayangkan betapa positifnya suasana dalam organisasi bila setiap karyawan rela bekerja dan berpikir keras karena suasana kerja yang kondusif untuk belajar dan menerima kritik dan masukan. Bila organisasi bisa menyedot tuntas manfaat dari kekuatan, ide-ide, kebijaksanaan, know-how, dan hasil belajar setiap karyawan yang ada, tantangan kompetisi sekuat apapun pasti bisa dihadapi.
Menumbuhkan Budaya "Coaching" di Perusahaan

Role model dan mentoring bisa membantu anak muda untuk meraih sukses, punya kontribusi, dan memiliki pandangan yang lebih positif.
 
 
Tidak sekali dua kali kita mendengar karyawan, bahkan leaders melihat coaching sebagai kegiatan yang “berjarak”, dianggap pekerjaan tambahan, atau bahkan eksklusif bagi orang tertentu saja di organisasi. Padahal, di sekitar kita, bisa kita saksikan organisasi di mana coaching menjadi bagian sehari-hari dari situasi kerja, sudah membudaya secara progresif.
 
Tengok di restoran fastfood, saat seorang supervisor dengan gigih mengajarkan pada para pramusaji, cara melafalkan menu makanan yang kebetulan berjudul asing. Bukankah hal sederhana ini menggugah hati kita dan menyadarkan pada kita betapa learning dibutuhkan di setiap profesi?
Contoh lain, kita juga kerap berlaku tidak sabar, geregetan, saat dilayani frontliner baru yang didampingi oleh seniornya.

Sebagai pelanggan, kita menjadi korban proses belajar sang pemain baru. Namun, bisakah kita bayangkan bahwa perusahaan ini sedang melipatgandakan kapasitasnya untuk berkembang, agar bisa melayani pelanggan dengan lebih baik, dan melipatgandakan jumlah cabangnya? Ujung-ujungnya, tidak hanya individu yang menerima pelajaran yang diuntungkan, namun saat ia bertambah pintar, sang coach alias atasan, bisnis, juga pelanggan langsung bisa merasakan manfaat dari individu yang makin capable dan proses kerja yang semakin "canggih". Bukankah "learning organization" seperti ini yang kita idam-idamkan?

Di samping menghitung laba, kita memang perlu secara berkala mengukur sejauh mana coaching membudaya dan mengecek apakah organisasi kita mengarah ke learning organization. Ini penting, karena laba saja tidak bisa dijadikan kapital untuk maju. Dalam perusahaan dengan budaya coaching yang mantap, setiap karyawan selalu ingin berprestasi lebih baik lagi, dan siap menerkam "opportunity" di depan. Atasan-bawahan bisa membicarakan pekerjaan secara santai dengan target meningkatkan kompetensi dan kualitas kerja.

Perusahaan dengan budaya coaching yang kuat menjunjung tinggi nilai-nilai potensi manusia, sehingga pembicaraan korektif di antara atasan dan bawahan untuk memuaskan pelanggan internal dan eksternal, apapun bentuknya, diwarnai respek dan trust yang tinggi. Sebaliknya, coaching sulit tumbuh bila kita banyak melihat atasan atau teman "membuang muka" bila ada rekan kerja berbuat salah.

Kita juga sudah pasti tidak bisa melihat budaya coaching tumbuh, bila setiap ada kesalahan ditemukan terjadi pengkambinghitaman atau pen-cucitangan-an. Semakin coaching tidak dilakukan, kita akan melihat hubungan semakin longgar dan kinerja pun tidak bisa diramalkan. Pertanyaannya, bagaimana menghentikan lingkaran setan ini? Sudahkah kita menjalankan upaya yang tepat, sehingga hasil belajar yang kita inginkan bisa kita lihat dalam kurun waktu yang terprediksi?

Sasaran coaching = sasaran bisnis
Kita tahu bahwa setiap organisasi perlu mempunyai tujuan yang jelas. Setiap organisasi tentu perlu mengkomunikasikan sasarannya: tahunan, bulanan, kalau perlu mingguan kepada seluruh karyawannya. Sukses unit bisnis, departemen, ataupun perusahaan secara keseluruhan lah yang harus menjadi sasaran coaching. Misalnya, perusahaan ingin menurunkan cost sebesar 10 persen, maka tujuan inilah yang menjadi patokan pengajarannya. Saat organisasi menargetkan untuk mencapai "juara servis", kita pun perlu tahu apa yang diukur, bagaimana mengukurnya, dan apa kriterianya.
Bila perusahaan akan mendapatkan lebih banyak proyek dari kemampuan teknis karyawannya, maka otomatis karyawan akan terdorong belajar bahkan berlomba mengasah dan menguasai ketrampilan demi ketrampilan. Saat sasaran, konten, urgensi, dan benefit jelas, barulah individu belajar untuk mencapai sasaran dan berkontribusi dengan cara yang lebih baik. Dengan tujuan yang clear, baru kita bisa menghidupkan suasana pembelajaran yang baik. Jadi, coaching culture perlu tetap dijadikan inisiatif bisnis, bukan sekadar program pengembangan manusia.

Budaya coaching tidak bisa dipaksakan dengan semata melakukan pelatihan coaching bagi tiap atasan. Ketrampilan coaching tidak akan menjadi amunisi hebat, bila konten dari inisiatif  program coaching tidak dibuat. Jadi, konten harus jelas dulu, selanjutnya barulah para leader ini perlu mengembangkan kepemimpinan yang menggunakan pendekatan coaching dalam persuasi untuk mencapai konten atau sasaran bisnis tersebut.
Coaching adalah "applied leadership", di mana persuasi dilakukan dengan gaya bicara yang cerdas secara emosional, ber-EQ tinggi. Itulah sebabnya, saat Bank Mandiri menerapkan “7 Steps Service Coaching” dalam upaya menjadi juara servis, setiap atasan berlatih untuk mengungkapkan perasaannya, obsesi dan standarnya, sampai menyentuh “rasa”.
Hanya dengan sentuhan rasa, engagement bisa terjadi, dan pada saat itulah feedback baru bisa efektif, tanpa penolakan atau pengelakan, malah menjadi sarana belajar. Pembentukan hubungan “tutor-trainee”dan "coach-coachee”, buddy system, kemudian menjadi struktur kegiatan coaching yang akan menjamin penyebaran dan pencatatan hasil yang dimiliki semua orang.

Motor "coaching": "self belief”
Kita belum bisa mengatakan perusahaan kita berbudaya coaching, bila sesi pembelajaran yang terjadi bersuasana kaku dan menegangkan. Kita pun makin sadar bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan "classroom training" saja. Kita tahu bila pekerjaan sedang padat, maka karyawan yang ada di kelas training hanya memberi separuh fokus, karena separuh fokusnya tertinggal di pekerjaan. Ini berarti pelajaran terbesar tetap adanya "on the job". Atasanlah yang perlu kreatif mengupayakan learning platform yang menarik, misalnya real-play, role-play atau simulasi yang benar-benar berdampak langsung terhadap perubahan perilaku.

Dalam perusahaan yang sudah terlihat budaya "coaching"-nya, kekayaan perusahaan justru terletak pada “self belief” karyawannya. Begitu karyawan sudah mengembangkan self belief, maka ia akan memilih cara belajarnya sendiri, yang akhirnya pasti membawa suasana ingin tahu yang tinggi tetapi bertanggung jawab. Risiko dan kesalahan dianggap sebagai ujian dan studi kasus, yang kalau perlu dibicarakan bersama.

Inilah suasana yang paling empuk untuk memasukkan ilmu dan ketrampilan baru, karena kehausan individu untuk belajar tidak ada habisnya. Bayangkan betapa positifnya suasana dalam organisasi bila setiap karyawan rela bekerja dan berpikir keras karena suasana kerja yang kondusif untuk belajar dan menerima kritik dan masukan. Bila organisasi bisa menyedot tuntas manfaat dari kekuatan, ide-ide, kebijaksanaan, know-how, dan hasil belajar setiap karyawan yang ada, tantangan kompetisi sekuat apapun pasti bisa dihadapi.
5 Cara Menjadi Negosiator Andal

Setiap orang bisa menjadi negosiator andal, asal mau berlatih.
Untuk mencapai deal, ada dua hal pokok yang perrlu diketahui, yaitu bahasa tubuh dan bahasa lisan. Negosiator andal adalah orang yang memenangkan negosiasi dan meninggalkan lawan dengan perasaan senang karena dia juga merasa senang. Berikut lima cara melatih kemampuan negosiasi:

1. Berstrategi.Seperti perang, dalam negosiasi Anda juga perlu punya banyak strategi dan taktik. Adanya strategi akan membantu Anda melakukan pendekatan terbaik unuk mencapai tujuan. Sedangkan taktik, adalah langkah-langkah teknis untuk mendukung strategi. Tanpa keduanya, negosiasi akan berjalan lambat dan tanpa arah yang jelas. Istilahnya yang terjadi hanya debat kusir tak berujung. Apa strategi yang perlu dimiliki setiap negosiator? Kemampuan berpikir kreatif dan cepat. Pemikiran ini nantinya akan menghasilkan sejumlah alternatif yang dapat diterima. Negosiator sukses adalah mereka yang memiliki strategi baik sehingga bisa mengubah pilihan-pilihan mereka menjadi kenyataan

2. Jangan gampang emosi.

Salah satu kunci keberhasilan orang yang jago nego adalah dia mampu mengendalikan emosi. Tidak mudah marah atau meledak ketika negosiasi berlangsung alot. Atau mendadak bete ketika berhadapan dengan lawan bicara yang tidak kooperatif. Ketika bernegosiasi kecerdasan emosional Anda diuji, bagaimana memengaruhi orang lain dalam kondisi apa pun. Selain itu, pengelolaan diri yang baik juga memudahkan Anda untuk mengenali setiap sisi positif dan lawan bicara. Perlu digarisbawahi, negosiasi tidak bisa lepas dari komunikasi. Tak mungkin Anda melakukan proses tawar menawar hanya dengan menggunakan bahasa tubuh. Kuasai keterampilan komunikasi dan Anda sudah memenangkan setidaknya 50 persen dari negosiasi.

3. Tanpa debat.

Menyelesaikan proses negosiasi dengan berdebat hanya akan menunjukkan pada orang lain bahwa Anda bukanlah seorang negosiator yang baik. Membantah jika memang harus, tapi jangan pernah lupa bahwa berdebat tidak pernah menjadi penyelesaian yang tepat dalam bernegosiasi. Bahkan, seorang negosiator yang baik akan menunjukkan sikap seolah-olah tak peduli terhadap siapa yang memperoleh kemenangan atas kesepakatan yang berhasil dibuat. Ia pandai membuat pihak lain merasa seolah-olah persetujuan akhir tersebut merupakan idenya.

4. Menyimak lawan bicara.

Bagaimana rasanya bila saat Anda bicara, lawan bicara malah sibuk sendiri atau melamun? Yang ada malah "emosi jiwa" dan kecewa karena merasa "dicuekin". Begitu juga dengan lawan bicara Anda. Bagaimana negosiasi bisa berhasil, bila Anda tidak menyimak setiap kata yang diucapkan lawan bicara? Hanya tubuh Anda yang ada di sana, namun pikirran melayang ke mana-mana, memikirkan pekerjaan yang belum kelar, pacar yang ngambek. Atau Anda terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin Anda katakan selanjutnya.

Untuk memudahkan Anda menyimak pembicaraan lawan bicara, perhatikan ketiga hal berikut:

* Jika mereka berbicara tentang analisis, berarti mereka sedang menyampaikan apa yang dipikirkannya.

* Jika mereka berbicara dengan nada bertanya atau menyelidik, ini berarti ada kekhawatiran yang mereka pikirkan. Inilah saat yang tepat untuk memberi penjelasan dan meyakinkan lawan bicara.

* Biasanya mereka juga akan menyampaikan apa yang menjadi harapannya. Ini adalah ekspektasi mereka terhadap hasil negosiasi.

5. Jangan malu bertanya.

Dalam negosiasi bertanya tidak dilarang, malah sangat dianjurkan. Mengapa, karena bertanya adalah seni yang bisa membuat lawan bicara melihat kemampuan Anda mengelola proses negosiasi. Untuk bisa bertanya tentu saja Anda perlu saling menyimak apa yang disampaikan masing-masing pihak. Adanya pertanyaan akan membuat proses negosiasi lebih hidup dan tak menutup kemungkinan menghasilkan pemikiran dan ide-ide baru. Apalagi negosiasi, sebenarnya bukan sekadar situasi tawar-menawar, melainkan sebuah proses menyatukan alur pemikiran di mana setiap pihak punya kedudukan sama penting.