Rabu, 28 November 2012

Dari Mana Memulai Greeting...?

Greeting adalah bentuk courtesy atau keramah-tamaan.  Dengan greeting, nada bicara bisa dikendalikan dari awal.  Layaknya seperti ketika kita mau menyanyi, kita mencari tangga lagu yang pas dengan nada suara. Demikian pula greeting merupakan nada bicara yang sangat penting untuk menentukan pitch dan intonasi.

Sedemikian pentingnya greeting ini sehingga beberapa perusahaan kembali mengingatkan karyawannya untuk menyapa satu dengan yang lain ketika berpapasan. Saya teringat ketika mengunjungi salah satu perusahaan klien beberapa waktu lalu. Di setiap sudut ruang yang dilalui banyak karyawan, terpampang standing banner berisi imbauan untuk saling mengucapkan salam.  Kelihatannya sederhana dan menggelikan.
Salam memang sederhana. Namun kita yang terus menerus bertemu seseorang atau sekelompok orang, sering bersikap ’take it for granted’.  Mungkin sesuatu yang tidak sengaja dilupakan tapi dianggap tidak perlu lagi dilakukan terutama untuk orang-orang yang sangat dekat dengan kita.  Sering kita mendengar ”a..lah.. jangan terlalu formal lah”.  Greeting sering dikaitkan dengan formalitas.

Banyak juga atasan yang enggan menyapa bawahan dengan memberikan greeting secara lengkap.  Katanya sih untuk ’jaim’ alias ’jaga image’. Nah sikap seperti inilah yang sering membuat budaya greeting sedikit demi sedikit dan hari demi hari hilang dan suatu saat menjadi lenyap.  Jika sudah lenyap maka yang muncul adalah budaya yang kurang ’respect’, bicara dengan nada tinggi dan bicara dengan cara kurang profesional.

Greeting adalah budaya. Ada perusahaan yang memiliki ciri khas di mana setiap karyawan, atasan, dan bawahan ketika bertemu muka mengucapkan salam ’Hallo, selamat pagi apa kabar?’.  Namun jika ditelaah lebih lanjut ini hanya ucapan ’tanpa makna’.

Ada yang mengucapkannya dengan cepat, menatap sebentar tanpa mempedulikan menerima jawaban atau tidak. Parahnya ada yang sambil berlalu mengucapkannya.  Sekali lagi rutinitas memang membuat kita kurang menghargai apa yang dihadapi sehari-hari. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika Anda mendesain suatu program untuk mengembalikan greeting yang pernah ada tapi sudah hilang sekarang.  Selamat bekerja.

Top  Hiring 

(Improovement Way Best Performance Staff)


Fakta mengenai bagaimana perusahaan yang fokus pada sales sukses merekrut tenaga penjual mereka: Kebanyakan perusahaan merekrut karyawan top hanya 25% dari keseluruhan karyawan yang ada.


Ini berarti, dari 100 karyawan yang bekerja di suatu perusahaan, hanya 25 dari mereka yang unggul dalam per formanya. Karyawan dengan performa unggul ini adalah mereka yang mempunyai karakter positif, mempunyai inisiatif, selalu proaktif, dan secara konsisten memberikan lebih dari yang diharapkan. Dengan kata lain, mereka adalah “bintang” di kantor. Dalam kasus tenaga penjual, ini adalah para penjual yang secara konsisten mencapai dan melebihi target yang ditetapkan.
Jika hanya 25% yang menjadi karyawan top, berarti 75% sisanya adalah karyawan dengan performa rata-rata, atau lebih buruk lagi, penjual di bawah standar. Bagaimana suatu perusahaan bisa unggul dan mencapai prestasi bagus jika kebanyakan karyawan adalah golongan rata-rata atau bahkan di bawah standar?

Tentu saja, fakta lain yang juga benar adalah di dalam tim penjualan mana pun, 25% penjual adalah penjual top. Sementara sisanya adalah penjual rata-rata dan bahkan berada di bawah standar.
Saya tegaskan kembali:

Dalam kebanyakan perusahaan, hanya 25% karyawan (atau tenaga penjual) yang memiliki performa top.
Dengan demikian, otomatis dalam perusahaan tersebut, 75% (mayoritas) karyawan atau tenaga penjual mereka hanya memiliki performa rata-rata atau bahkan di bawah standar.
Jika realita ini umum ditemui di kebanyakan perusahaan, ada kemungkinan yang sangat besar bahwa perusahaan Anda pun adalah sama saja!

Lalu, bagaimana mungkin Anda bisa maju dengan kondisi seperti ini? Apakah Anda hendak melanjutkan dengan kondisi rata-rata ini hingga tahun baru nanti? Apakah solusinya?

Berhentilah menerima kenyataan bahwa memiliki hanya 25% karyawan top di dalam tim adalah suatu hal yang umum! Berusahalah agar punya 90% karyawan top di dalam tim! Perusahaan-perusahaan terbaik berusaha keras supaya bisa memiliki 90% karyawan berperforma top!
Dapatkah Anda bayangkan bagaimana performa penjualan perusahaan Anda bisa meningkat pesat jika 90% dari tim penjualan adalah penjual yang performanya top? Dapatkah Anda bayangkan berapa banyak ide cemerlang yang bisa diciptakan dalam meeting mingguan jika 90% dari penjual Anda adalah penjual yang performanya top?

Dapatkah Anda bayangkan berapa banyak klien baru berkualitas tinggi yang bisa didapat setiap bulan jika 90% dari penjual Anda adalah penjual yang performanya top?

Dapatkah Anda bayangkan berapa banyak kontrak jangka panjang bisnis yang bisa dihasilkan setiap bulan jika 90% dari penjual Anda adalah penjual yang performanya top? Dapatkah Anda bayangkan berapa banyak aktivitas penjualan dan pemasaran inovatif yang bisa dikelola dengan sukses jika 90% dari penjual Anda adalah penjual yang performanya top?

Ya, performa penjualan Anda akan meningkat pesat dan mengelola tim dengan performa top ini akan sangat menyenangkan dan menghasilkan energi yang tinggi. Rasanya seperti menjadi pelatih dari Barcelona FC!

Jadi, satu-satunya rintangan yang menghalangi Anda untuk menjadi manajer penjualan top dan pekerjaan impian adalah 75% karyawan rata-rata dan di bawah standar yang bernaung di dalam tim! Merekalah yang menyeret Anda ke bawah. Merekalah yang membuat pekerjaan Anda seperti mimpi buruk! Tapi tunggu dulu, bukankah Anda sendiri yang menerima kenyataan bahwa memiliki 75% karyawan rata-rata dan di bawah standar di dalam tim adalah sesuatu yang normal?
Jadi, masalahnya bukanlah pada 75% karyawan rata-rata dan di bawah standar yang ada di dalam tim tersebut. Masalahnya adalah Anda sendiri. Atau lebih spesifiknya, ekspektasi dan standar Anda sendiri yang rendah.

Jangan pernah menerima bahwa hanya 25% karyawan top adalah normal. Ubahlah paradigma tersebut menjadi, memiliki 90% karyawan top di dalam tim adalah sesuatu yang normal.

Pada artikel kali ini kita lanjutkan bahasan edisi lalu tentang Top Hiring. Kini kita sampai pada solusi poin kedua agar Anda bisa merekrut tenaga penjual andal ke dalam tim salesman Anda.

Miliki sistem yang benar untuk mengukur performa dan potensi karyawan
Ketika Anda mampu mengukur performa dari para tenaga penjual dan mampu menilai potensi mereka untuk jangka panjang, Anda akan segera tahu siapa saja yang sebaiknya dikeluarkan, siapa yang seharusnya disimpan, dan siapa yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
Lalu, segeralah keluarkan mereka yang berada di bawah standar! Apa lagi yang Anda tunggu? Mengapa Anda masih menyimpan mereka? Mengapa Anda mau memperpanjang performa buruk dan penderitaan?

Untuk membantu Anda mulai, tuliskan nama-nama (paling tidak tiga nama) dari semua penjual yang berada di bawah standar yang seharusnya sudah Anda singkirkan sejak lama.

Sudah menulis tiga (atau lebih) nama? Bagus! Singkirkan mereka secepatnya ketika Anda mulai bekerja besok. Kantor Anda akan menjadi lebih cemerlang tanpa mereka di dalam tim. Anda akan merasa aura gelap tersebut menghilang. Beban di bahu Anda akan terasa jauh berkurang. Anda akan semangat pergi bekerja lagi karena Anda tidak perlu lagi melihat wajah-wajah dan mendengarkan alasan-alasan konyol mereka. Selamat! Anda berhasil!
Tarik semua orang unggul
Lionel Messi tidak akan mau bermain untuk divisi tiga suatu klub sepakbola, kecuali—tentu saja—hanya untuk beramal. Ini bukanlah karena ia arogan. Tapi, bermain pada level rendah di klub bisa menyebabkan kemampuan merosot dan bahkan menurunkan harga pasarannya dengan drastis! Bahkan jika ia ditawari gaji atau kompensasi finansial menarik sekalipun, saya yakin ia akan menolaknya dengan sopan, karena bermain pada level rendah di klub akan memberikan dampak yang sangat negatif pada kariernya sebagai profesional.
Sama halnya, apa yang harus Anda lakukan supaya perusahaan mampu menarik orang-orang unggul untuk ikut bergabung dalam tim penjualan?

Tentu saja, gaji dan kompensasi adalah sebuah faktor penting. Anda mungkin harus menaikkan kompensasi finansial secara signifikan agar penawaran Anda dianggap menarik oleh para penjual unggul. Tetapi, itu bukanlah gaji pokok saja. Anda juga harus lebih kreatif dalam memberikan sistem penghargaan dan insentif. Dengan kata lain, persiapkanlah bujet besar! Ingatlah ini.


Sudah jelas bahwa gaji dan kompensasi finansial bukanlah satu-satunya faktor penting. Faktor yang lain adalah:
  • peluang untuk peningkatan karier;
  • peluang untuk belajar lebih banyak, maju, dan mengembangkan diri;
  • reputasi perusahaan—nilai perusahaan dan mengapa perusahaan bisa dikatakan bagus (walaupun tidak terlalu terkenal);
  • peluang untuk bekerja di bawah manajer yang kompeten.
Jadi, ini adalah masalah “ayam dan telur” kan? Mana yang lebih dulu? Sayangnya, dalam kasus ini Anda harus merapikan dulu “dapur” Anda sebelum bisa mulai menarik orang-orang unggul tersebut.
Anda harus melakukan ini karena tanpa orang-orang unggul tersebut, hampir tidak mungkin bisa dicapai hasil yang bagus.

Ciptakan tim orang-orang dengan performa top dan Anda pun akan sukses. Tetapi, jika menyimpan banyak orang di bawah standar, Anda pun akan gagal.
Saya yakin poin-poin di atas sudah memberikan Anda banyak buah pikiran untuk dipertimbangkan dan dilakukan. Satu hal yang sangat saya sarankan adalah jangan membawa masalah karyawan di bawah standar tahun ini ke tahun depan.

Mulailah tahun baru dan tahun ini dengan kondisi segar. Jangan membawa masalah dan penderitaan menuju tahun baru! Ingat orang-orang negatif yang sama akan membawa masalah yang sama.
Jika Anda tidak melakukan pembenahan sekarang, Anda akan mengalami frustasi yang sama dengan penderitaan yang tengah dialami selama 12 bulan terakhir ini, dan tidak akan ada orang yang mengasihani Anda. Hanya diri Anda sendiri yang patut disalahkan!

Jadi, gunakan waktu untuk memikirkan “strategi pembenahan” dan bertindaklah untuk merombak tim dari kondisi di bawah standar menjadi tim dengan performa top menuju tahun depan dengan optimisme baru.

The  Sales  Routine








Saya menyadari topik “The Sales Routine” jarang dibahas pada buku-buku tentang sales. Walaupun demikian, setelah mengamati semua individu yang sukses—termasuk penjual sukses, saya menyadari bahwa semuanya mempunyai aktivitas rutin dan mereka komit dengan rutinitas mereka tersebut.

Beberapa dari mereka bangun pagi hari, berdoa, berolahraga pagi, sarapan, membaca koran, dan lain-lain. Beberapa yang lain bangun pagi, minum segelas jus jeruk, pergi berlari pagi atau berenang, sarapan, lalu pergi bekerja. Kebanyakan olahragawan bangun pagi, lalu langsung berlatih. Setelah itu, mereka sarapan dengan menu yang sudah diatur secara hati-hati dengan gizi dan kalori yang terpilih. Ketika sampai di kantor, mereka juga mempunyai aktivitas rutin yang biasa mereka kerjakan. Bahkan petani pun mempunyai kegiatan rutin, seperti bangun pagi, menyirami tanaman, memberikan pupuk, serta mengurus dan merawat semua tanaman.

Mereka semua mempunyai aktivitas rutin yang terstruktur setiap harinya, dan mereka disiplin dalam melakukan rutinitas tersebut. Mereka tetap komit pada aktivitas rutin mereka sehari-hari dan terus-menerus melakukannya. Hal itulah yang membuat mereka sukses. Mereka merencanakan kegiatan mereka dan melakukan semua rencana itu, tak peduli cuaca sedang panas atau hujan dan apa pun mood yang sedang mereka rasakan. Inilah sebabnya mereka berhak memanen benih-benih kesuksesan mereka.

Sama halnya, saya telah menemukan bahwa para tenaga penjual yang sukses pun mempunyai aktivitas rutin setiap hari, setiap minggu, dan setiap bulan. Sederhananya, saya sebut saja sebagai, “The Sales Routine”.
Tentu saja, sales routine ini bervariasi, tergantung industrinya (misalnya sales routine penjual dalam bisnis properti akan sangat berbeda dengan sales routine penjual yang bekerja di ritel yang menjual mainan). Sales routine dari penjual yang masih relatif junior juga mungkin berbeda dengan para penjual yang sudah senior. Walaupun demikian, keduanya pastilah mempunyai sales routine masing-masing.

Jadi, apa yang umumnya ada dalam sales routine?

Menelepon Satu Hingga Dua Jam Terus-menerus
Maaf jika sudah mengecewakan Anda…. Tetapi, memanfaatkan benar-benar waktu untuk menelepon adalah salah satu investasi paling berguna yang bisa dilakukan oleh seorang penjual. Coba saja bayangkan, berapa waktu yang harus dihabiskan untuk mengunjungi hanya satu klien yang prospektif di Jakarta? Satu jam habis di jalan, 30 menit habis untuk menunggu di kantor klien (menunggu sampai dipanggil), setelah itu 30 menit lagi dihabiskan untuk memperkenalkan dan menjelaskan produk Anda, dan lain-lain. Tak hanya itu, satu jam lagi habis di jalan untuk mengunjungi klien prospektif lainnya.

Total tiga jam habis hanya untuk mengunjungi satu klien, dan bahkan tidak ada jaminan Anda bisa langsung closing! Bayangkan berapa banyak klien prospektif yang bisa Anda telepon dalam durasi waktu tiga jam!

Jadi, suka atau tidak, salah satu tugas yang paling basic tetapi paling penting bagi seorang penjual adalah menghabiskan satu hingga dua jam menelepon klien. Ini adalah aktivitas yang harus dilakukan dalam sales routine hariannya.


Jadi, siapa yang harus ditelepon si penjual dalam waktu satu hingga dua jam tersebut?

Pelanggan Top yang Sudah Ada
Pelanggan yang dimaksud ini adalah mereka yang berada di top 10 peringkat klien Anda. Mereka adalah pelanggan yang:
  • membeli dari Anda dengan jumlah uang terbanyak;
  • paling sering membeli dari Anda;
  • paling sering mereferensikan Anda pada orang lain;
  • telah bertransaksi dengan Anda hingga bertahun-tahun.
Anda perlu terus menjaga hubungan dengan semua pelanggan tersebut. Teleponlah mereka untuk sekadar menyapa, supaya mereka tahu bahwa Anda masih mengingat mereka, dan Anda menghargai mereka sebagai pelanggan setia. Anda tidak perlu menjual apa pun pada mereka, dan teleponlah mereka hanya untuk menyapa.

Walaupun kebanyakan pelanggan tidak mau menghabiskan waktu untuk berbicara dengan sales, mereka akan menghargai si sales yang menelepon untuk menyapa dan tidak menelepon kalau ingin menjual saja. Hal ini akan menciptakan perbedaan! Ini akan membuat Anda berbeda dan menciptakan impresi tersendiri di mata pelanggan-pelanggan top Anda. Jadi, teleponlah mereka hanya untuk menyapa, tanpa mencoba untuk menjual apa pun. Jadilah berbeda, spesial, dan dihargai.
Dengan menelepon para pelanggan top, Anda sebenarnya menyegarkan kembali ingatan mereka tentang segala jasa Anda, dan sekali lagi Anda akan berada di urutan teratas dalam benak pelanggan. Jadi, jika mereka sedang benar-benar membutuhkan produk, maka nama Anda akan muncul di ingatan mereka.

Pertanyaan: Pada saat ini, jika pelanggan Anda ingin membeli sesuatu, nama Anda harus muncul di atas daftar mereka. Jika tidak, Anda akan cenderung terus kehilangan order. Jika pelanggan top Anda bahkan tidak ingat pada Anda, maka salah siapa? Pelanggan atau Anda?
Inilah mengapa orang-orang sales top menghabiskan satu hingga dua jam di telepon setiap hari. Mereka menghabiskan sebagian waktu berkomunikasi dengan orang-orang terpenting untuk mendapatkan sukses, yaitu pelanggan top mereka. Bagaimana dengan Anda?


Jadi, siapa yang harus ditelepon si penjual dalam waktu satu hingga dua jam tersebut?
Pelanggan Top yang Sudah Ada
Pelanggan yang dimaksud ini adalah mereka yang berada di top 10 peringkat klien Anda. Mereka adalah pelanggan yang:
  • membeli dari Anda dengan jumlah uang terbanyak;
  • paling sering membeli dari Anda;
  • paling sering mereferensikan Anda pada orang lain;
  • telah bertransaksi dengan Anda hingga bertahun-tahun.
Anda perlu terus menjaga hubungan dengan semua pelanggan tersebut. Teleponlah mereka untuk sekadar menyapa, supaya mereka tahu bahwa Anda masih mengingat mereka, dan Anda menghargai mereka sebagai pelanggan setia. Anda tidak perlu menjual apa pun pada mereka, dan teleponlah mereka hanya untuk menyapa.

Walaupun kebanyakan pelanggan tidak mau menghabiskan waktu untuk berbicara dengan sales, mereka akan menghargai si sales yang menelepon untuk menyapa dan tidak menelepon kalau ingin menjual saja. Hal ini akan menciptakan perbedaan! Ini akan membuat Anda berbeda dan menciptakan impresi tersendiri di mata pelanggan-pelanggan top Anda. Jadi, teleponlah mereka hanya untuk menyapa, tanpa mencoba untuk menjual apa pun. Jadilah berbeda, spesial, dan dihargai.

Dengan menelepon para pelanggan top, Anda sebenarnya menyegarkan kembali ingatan mereka tentang segala jasa Anda, dan sekali lagi Anda akan berada di urutan teratas dalam benak pelanggan. Jadi, jika mereka sedang benar-benar membutuhkan produk, maka nama Anda akan muncul di ingatan mereka.

Pertanyaan: Pada saat ini, jika pelanggan Anda ingin membeli sesuatu, nama Anda harus muncul di atas daftar mereka. Jika tidak, Anda akan cenderung terus kehilangan order. Jika pelanggan top Anda bahkan tidak ingat pada Anda, maka salah siapa? Pelanggan atau Anda?
Inilah mengapa orang-orang sales top menghabiskan satu hingga dua jam di telepon setiap hari. Mereka menghabiskan sebagian waktu berkomunikasi dengan orang-orang terpenting untuk mendapatkan sukses, yaitu pelanggan top mereka. Bagaimana dengan Anda?




Pada artikel terdahulu, kita sudah membahas Sales Routine bagian 1 dan bagian 2, sampai pada bahasan tentang pelanggan top yang sudah ada. Kini kita akan teruskan bahasan selanjutnya.

Pelanggan yang Sudah Ada dan Berpeluang untuk Menjadi Pelanggan Top di Masa Depan
Ini adalah kelompok pelanggan selanjutnya yang harus Anda hubungi. Mengapa? Karena kelompok pelanggan ini akan menjadi “masa depan Anda”. Mereka berpotensi lebih banyak dari Anda. Tetapi, mungkin mereka belum mulai membeli dari Anda karena:
  • mereka memang tidak butuh pemesanan banyak saat ini;
  • anggaran mereka memang terbatas;
  • kondisi di kantor mereka tidak memungkinkan untuk melakukan pembelian saat ini.
Tetapi, segala kondisi di atas tentu hanya sementara. Tak ada yang bertahan selamanya dan kondisi mungkin saja berubah. Ketika kondisi berubah, mereka mungkin saja membeli lebih banyak dari Anda dan mereka akan menjadi pelanggan favorit Anda.

Inilah mengapa Anda perlu membangun hubungan yang baik dengan para pelanggan tersebut, seperti menanam benih sekarang, mempertahankan hubungan, sehingga mereka lebih percaya, lebih suka, dan lebih lama ingat pada Anda. Jadi, jika kondisinya tengah berpihak pada Anda, merek Andalah yang pertama kali muncul di daftar para pelanggan.

Itulah sebabnya para sales top yang rajin menelepon sepertinya sering mendapat “keberuntungan”. Sepertinya ada saja pelanggan yang menghubungi dan hendak membeli. Sementara sales lainnya harus bersusah payah mengetuk pintu demi pintu hanya untuk menghadapi penolakan demi penolakan. Para sales top malah ditelepon oleh pelanggannya dan mendapatkan penjualan. Sungguh beruntung!

Jadi, setelah penjelasan ini, apakah Anda masih bisa menyebutnya “keberuntungan”? Jadi, apakah Anda ingin beruntung? Berapa jam waktu yang Anda habiskan setiap harinya untuk menelepon? Siapa saja yang Anda hubungi? Buatlah daftar dari semua pelanggan yang sudah dimiliki yang berpotensi untuk menjadi pelanggan top di masa depan, dan mulailah menghubungi mereka besok.
Terapkan aktivitas ini ke dalam sales routine harian, dan Anda bisa yakin bahwa satu hari kelak, Anda akan sangat beruntung. Orang-orang yang Anda cantumkan pada daftar tersebut akan menghubungi Anda untuk mengajukan pesanan.

Tapi, sebelumnya Anda perlu menabur benih terlebih dahulu. Jadi, mulailah menelepon!
Pelanggan Lama yang Mungkin Tidak Berpotensi untuk Menjadi Pelanggan Top di Masa Depan (Pelanggan Rata-rata)

Ya, kelompok pelanggan ini ternyata sama pentingnya, karena—akui sajalah—berapa banyak pelanggan top yang Anda miliki? Mungkin hanya 10% dari keseluruhan basis pelanggan Anda. Kebanyakan pelanggan Anda kemungkinan masuk dalam kelompok pelanggan rata-rata. Jadi, apabila Anda tidak menghubungi basis kelompok pelanggan yang jumlahnya sangat besar ini, Anda sebenarnya mengabaikan kepentingan dari mayoritas pelanggan Anda sendiri! Hal ini tentu sangat berbahaya!

Jadi betul, Anda perlu memasukkan kelompok pelanggan rata-rata yang jumlahnya besar ini ke dalam sales routine sehari-hari Anda:
  1. Pelanggan potensial: jika Anda hanya menghubungi pelanggan-pelanggan yang sudah dijelaskan pada artikel terdahulu, maka Anda bergantung pada kelompok (basis) pelanggan yang sama. Anda mungkin tidak bisa berkembang cepat. Jika basis pelanggan baru dari setiap penjual tidak bisa bertumbuh, market share perusahaan pun tidak bisa bertumbuh!  Jadi, para penjual top memang menghubungi calon-calon pelanggan yang prospektif. Siapa saja pelanggan prospektif tersebut? Mereka adalah:
  • orang yang sudah Anda hubungi, bicara, bahkan dikunjungi, sudah dipresentasikan, diserahkan proposal, (tapi karena suatu alasan tertentu), mereka belum membeli dari Anda. Semua orang ini masuk ke dalam kelompok pelanggan yang potensial;
  • orang-orang yang pernah Anda temui (mungkin pada pesta pernikahan teman), berasal dari referensi orang lain, atau dari daftar yang diberikan bos, dan lain-lain. Orang-orang yang Anda hubungi untuk pertama kalinya.
Ya, Anda harus mengalokasikan waktu untuk menghubungi orang-orang ini. Semakin banyak orang yang Anda hubungi, semakin besar kesempatan Anda mendapatkan pelanggan baru. Itu adalah bagaimana para penjual top bisa mendapatkan pelanggan baru, yaitu dengan menelepon satu per satu. Maaf karena tidak ada trik sulap, tak ada jalan pintas. Hanya karena mereka menghubungi pelanggan atau calon pelanggan satu per satu. Itu adalah realitasnya.

Jadi, sekarang Anda sudah mengetahui salah satu tugas sales routine dari para penjual top. Satu cara yang terbaik di industri ini adalah menginvestasikan satu atau dua jam waktu setiap hari untuk menelepon secara terus-menerus, konsisten, dan disiplin. Berapa banyak panggilan telepon yang bisa Anda lakukan dalam waktu dua jam?

Rata-rata 45 panggilan telepon per jam; 90 panggilan telepon dalam waktu 2 jam. Anggap 50% panggilan telepon tidak terjawab. Itu berarti sebanyak 45 panggilan bisa terjawab, 10%–20% success rate. Berarti ini berlaku untuk 4 sampai 9 janji yang didapat dari semua panggilan telepon selama 2 jam.

Semua janji tersebut bisa dilakukan pada hari yang sama, hari berikutnya, pada minggu yang sama, pada minggu selanjutnya, atau untuk beberapa minggu ke depan.

Jadi, jika Anda mempunyai komitmen menelepon selama dua jam, Anda tidak akan pernah kehabisan orang untuk ditemui. Anda mungkin bisa mempunyai janji meeting dengan klien yang jadwalnya masih tiga minggu ke depan. Sangat mengesankan!

Sebelum lanjut, mari kita review sedikit bahasan artikel terdahulu, Sales Routine bagian 3 dan bagian 4.

Jadi, sekarang Anda sudah mengetahui salah satu tugas sales routine dari para penjual top. Satu cara yang terbaik di industri ini adalah menginvestasikan 1 atau 2 jam waktu setiap hari untuk menelepon secara terus-menerus, konsisten dan disiplin. Berapa banyak panggilan telepon yang bisa Anda lakukan dalam waktu dua jam?

Rata-rata 45 panggilan telepon per jam; 90 panggilan telepon dalam waktu 2 jam. Anggap 50% panggilan telepon tidak terjawab. Itu berarti sebanyak 45 panggilan bisa terjawab, 10%–20% success rate. Berarti ini berlaku untuk 4 sampai 9 janji yang didapat dari semua panggilan telepon selama 2 jam.

Semua janji tersebut bisa dilakukan pada hari yang sama, hari berikutnya, pada minggu yang sama, pada minggu selanjutnya, atau untuk beberapa minggu ke depannya.

Jadi, jika Anda mempunyai komitmen menelepon selama dua jam, Anda tidak akan pernah kehabisan orang untuk ditemui. Anda mungkin bisa mempunyai janji meeting dengan klien yang jadwalnya masih tiga minggu ke depan. Sangat mengesankan!
Satu hal lagi sebelum kita menyimpulkan bahasan sales routine ini, Anda akan menyadari bahwa kelompok-kelompok pelanggan yang sudah kita bahas sebelumnya adalah kategori yang berbeda satu sama lainnya:

Pelanggan top yang sudah ada
Apakah tujuan spesifik menelepon para pelanggan ini? Hasil apa yang diharapkan setelah menelepon mereka? Apa kalimat pembuka saat menelepon supaya mereka bisa santai dan menerima telepon Anda? Apa saja yang perlu Anda minta atau tanyakan supaya Anda bisa mendapat hasil yang diharapkan?

Pelanggan yang sudah ada dan punya potensi untuk menjadi pelanggan top
Apakah tujuan spesifik menelepon para pelanggan ini? Hasil apa yang diharapkan setelah menelepon mereka? Apa kalimat pembuka saat menelepon supaya mereka bisa santai dan menerima telepon Anda?
Apa saja yang perlu Anda minta atau tanyakan supaya Anda bisa mendapat hasil yang diharapkan?

Pelanggan yang sudah ada dan tidak berpotensi untuk menjadi pelanggan top (pelanggan rata-rata)
Apakah tujuan spesifik menelepon para pelanggan ini? Hasil apa yang diharapkan setelah menelepon mereka? Apa kalimat pembuka saat menelepon supaya mereka bisa santai dan menerima telepon Anda? Apa saja yang perlu Anda minta atau tanyakan supaya Anda bisa mendapat hasil yang diharapkan?

Pelanggan potensial
Apakah tujuan spesifik menelepon para pelanggan ini? Hasil apa yang diharapkan setelah menelepon mereka? Apa kalimat pembuka saat menelepon supaya mereka bisa santai dan menerima telepon Anda? Apa saja yang perlu Anda minta atau tanyakan supaya Anda bisa mendapat hasil yang diharapkan?
Maafkan saya jika bahasan di atas terlalu detail.
Tidak ada orang yang merencanakan kegagalan, tetapi kebanyakan orang gagal membuat rencana.

Dan ketika Anda gagal membuat rencana, Anda sudah merencanakan untuk gagal!
Pada setiap kategori di atas, pikirkan dengan matang tujuan Anda, hasil yang diharapkan, persiapkan dan latihlah script telepon Anda. Saya jamin, Anda pasti mendapat hasil di atas rata-rata!
Well, kini Anda sudah mengetahui salah satu rahasia dari para penjual top dunia:
  1. mereka punya daily sales routine;
  2. tugas pertama dari daily sales routine adalah menghabiskan waktu satu hingga dua jam sehari untuk menelepon;
  3. mereka merencanakan dengan matang setiap panggilan teleponnya;
  4. mereka bertindak dan benar-benar menghubungi 90 kontak telepon dalam waktu dua jam tersebut.
Joe Girard, salah satu penjual terbaik dunia berkata, “Saya menelepon begitu banyak orang sampai angka-angka pada tombol telepon saya memudar semua. Anda tidak lagi bisa melihat nomornya.”
Itulah sebabnya ia bisa menjadi penjual terbaik dunia. Itulah mengapa ia layak menjadi penjual terbaik dunia.

Joe Girard bisa membuat panggilan telepon. Para penjual lainnya juga bisa menelepon. Anda juga bisa menelepon. Pertanyaannya, “Apakah Anda punya niat?” “Apakah Anda akan melakukannya?” “Apakah Anda cukup disiplin untuk melakukannya setiap hari?”

Relasi Sosial dan Relasi Ekonomi


Pertanyaan sederhana, “…transaksi ekonomi itu bagian dari hubungan sosial manusia, ataukah sebaliknya?” (B. Herry Priyono, Dalam Pusaran Neoliberalisme, 2003).
***
Dulu memang transaksi ekonomi merupakan salah satu bagian saja dari pelbagai macam hubungan manusia (sosial). Namun, dalam penilikan lebih lanjut, semakin disadari bahwa sekarang ini telah (semakin) terjadi perihal sebaliknya, ketika hubungan sosial—termasuk relasi persahabatan, bahkan untuk mengikat tali perkawinan—pun semakin dikuasai kalkulasi ekonomi. Sehingga relasi sosial malah jadi bagian dari pertimbangan transaksi ekonomi, sekadar kalkulasi untung-rugi finansial.
***
Dilaporkan (The Business Times, 19 Juli 2012) bahwa pertumbuhan pasar barang mewah pun diperkirakan masih bakal turun ke 3,7%. Apa pasal? Rupanya, seperti dikutip kantor berita Xinhua, penguasa Cina akan melarang aparat pemerintahannya belanja barang-barang mewah mulai 1 Oktober nanti. Ini juga akibat melemahnya kinerja ekonomi Cina yang semakin jauh dari prestasi pertumbuhan dua digitnya. Di samping itu juga upaya serius penguasa Cina membabat korupsi di kalangan pejabat. Akibatnya, dalam perkiraan CLSA (Credit Lyonnais Securities Asia) Ltd, pasar barang mewah Cina yang senilai €22 miliar (atau 35,4 miliar dolar Singapura) ditengarai bakal mengerut.

Seketika setelah berita ini menyebar, beberapa produsen merek global sangat terpukul. Misalnya produsen Swatch, yang juga memayungi beberapa brand seperti jam tangan Omega dan Richemont, dikabarkan telah memotong perkiraan per-share earnings dari merek Richemont sebesar 7% pada tutup tahun Maret 2014 nanti. Sedangkan untuk merek Swatch dipotong sekitar 5% pada tahun ini sampai Desember 2013.

Praktik beri “hadiah” kepada para pejabat pemerintahan adalah praktik yang umum dilakukan demi mempererat hubungan, dan “memperlancar” urusan bisnis. Memang yang selalu jadi soal adalah ukuran kelayakan dari “hadiah” yang diberikan, selain maksud dan cara memberikannya. Memang ukuran kewajaran di sini jadi serba sulit sehingga diperlukan banyak pemakaian “tanda kutip” sebagai penekanannya. Di Jepang misalnya, praktik membawa “buah tangan” (kado, yang dibungkus indah) adalah bagian dari tradisi (budaya) saat kunjungan formal atau jika kita diundang makan malam oleh kolega atau keluarga bos.

Laporan The Business Times menyebutkan, “Rolex watches and bars of gold are often handed out by those seeking favours from business associated in China. Now the gift-givers are cutting back, and the luxury industry is holding its breath.” Diceritakan, misalnya Vivian So, pemilik salon kecantikan berusia 38 tahun di Shanghai, yang biasa memberikan jam tangan Rolex kepada para relasi bisnisnya sekarang mesti beralih memberikan kado dalam bentuk dompet yang tidak semahal jam tangan bergengsi itu. Juga kesaksian William Li, manajer di Hong Kong’s King’s Watch Co yang sudah biasa melihat pelanggannya yang datang dari mainland Cina belanja jam tangan seharga 100 ribu dolar Hong Kong (16.500 dolar Singapura) untuk hadiah bagi pejabat pemerintahannya. Sekarang ini mereka tetap belanja jam tangan, hanya saja anggarannya turun sekitar 40%.

Fenomena ini di satu sisi merupakan terobosan dalam rangka good-governance otoritas di Cina, namun di sisi lain memukul pasar luxurious-goods seperti misalnya Cie Financiere yang menjual Cartier, Swatch Group, dan Luk Fook Holdings International di Hong Kong yang menjual perhiasan mewah. Padahal—dalam analisis CLSA Ltd—corporate-gifts ini menduduki posisi kelima dalam urutan pengeluaran belanja (spending) di Cina. CFO (chief financial officer) Luk Fook Holdings Paul Law, mengakui bahwa “Lower earnings resulting from China’s economic slowdown may lead to companies spending less on business gifts.” Padahal di lain pihak ia juga meyakini bahwa “Corporate gifting helps foster business relationships: You can cut the red tape and speed up approval processes when you have good relations.”

Barang mewah seperti apa sih yang biasa dibelanjakan sebagai corporate-gifts? Menurut pengakuan Paul Law, biasanya berupa emas batangan dengan tulisan “keberuntungan” di atasnya (seharga 20.000 dolar Hong Kong) adalah bentuk yang paling jadi favorit. Lalu bola basket emas, kartu poker emas, dan set permainan catur dari emas merupakan simbol atau tanda berikutnya yang dipilih untuk “mempererat kerja sama,” dengan mitra-mitra usaha.
***
Sementara itu di tempat lain, demi memperlancar bisnis dan “mempererat kerja sama” tidak lagi digunakan simbol atau tanda, tapi blatantly dengan uang! Hanya namanya saja yang disamarkan, kalau dolar namanya “apel Washington”, sedangkan rupiah disebut dengan “apel Malang”.
Pada ujungnya, memang sulit menarik batas yang kasat mata, di mana garis kepantasan pemberian itu bisa ditarik. Ada bauran dimensi tradisi, kebudayaan, besaran uang (atau kadar kemewahan), bentuk dan cara pemberiannya. Misalnya gratifikasi dalam format jalan-jalan (tur) ke luar negeri atau dibungkus dalam bentuk yang lebih rapi: seminar/kongres ke luar negeri (beserta seluruh anggota keluarga). Macam-macam bentuk dan latar belakang maksud pemberiannya. Di titik ini kita semakin merasakan imperatif dari etika pemasaran pada khususnya, dan etika bisnis pada umumnya.
***
Marketing memang semakin dirasakan kepentingannya demi survival di kancah globalisasi ini. Tetapi, ideologi-pasar yang memandang semua relasi manusia dilandasi pertimbangan kalkulasi untung-rugi rupanya menyempitkan realitas manusia yang seyogianya jauh lebih bernuansa dari cuma sekadar transaksi ekonomi

Brand  Media  Survivor




Menjadi diperbincangkan secara terus-menerus dengan positif memang merupakan keasyikan tersendiri dalam mengelola brand. Ada semacam adrenalin yang diproduksi saat telinga kita mendengar brand kita kembali meluncur dari mulut orang lain. Malah bisa lebih indah daripada nama kita sendiri yang disebut.

Maka, berbondong-bondonglah kita menyiapkan strategi out of the box agar target market terkesima, terkagum-kagum, dan membicarakan brand kita. Dan bersamaan penyebutan nama tersebut, serombongan demi serombongan konsumen mendatangi brand kita, berinteraksi, dan melakukan transaksi. Indah sekali.

Apalagi, kita sudah tahu rumusan menciptakan word of mouth yang mampu membuat tentara-tentara sukarela yang membicarakan brand kita. Kuncinya adalah memenuhi kebutuhan bawah sadar konsumen. Bila brand kita adalah taksi, maka bawah sadar konsumen adalah mengendarai taksi kendaraan termewah (kenyataannya taksi adalah kendaraan nyaman tapi irit). Maka, hebohlah kita ketika ada taksi Ferrari. Saat brand kita adalah seafood, basic needs penggemar seafood adalah membayar dengan harga murah (kenyataannya seafood mahal), maka berbondong-bondonglah kita ketika D’Cost menciptakan program bayar semaunya.

Jadi, sederhana kan, bagaimana basis word of mouth dilakukan; cukup membuat lebay dalam pemenuhan basic needs customer; dikaitkan dengan brand value yang kita miliki. Bila brand kita asuransi, karena ketakutan bawah sadar konsumen adalah klaim ditolak, maka buat program klaim semudah mungkin. Kalau perlu, cukup dengan menyebut nama kecil.

Selanjutnya, perkuat pola penyaluran brand experiential customer lewat jalur-jalur komunitas, baik public area, community line, ataupun social media. Tolong jangan sekali-kali menggunakan iklan ya, kredibilitas programnya malah jadi anjlok.

Untuk mengukur seberapa jauh word of mouth dapat menunjang perusahaan, cukup banyak yang bisa dilakukan. Mulai dari pola partisipasi, lingkar pengaruh (influence degree), hingga aktivitas di jaringan distribusi. Bila mau detail, cukup dengan menggunakan riset. Bisa dengan riset tradisional, atau riset yang lebih sophisticated dengan nett promotor score.

Yang menjadi tantangan word of mouth sekarang justru berapa bujet yang mesti disiapkan. Legitimasi anggaran yang diperlukan masih jadi perdebatan di kalangan brand ataupun financial management. Beberapa brand global punya cara cerdik menyiasati program word of mouth ini, yaitu mengurangi jatah satu atau setengah halaman iklan di media cetak dan memindahkan jadi program word of mouth (WoM).

Patokannya sederhana, praktisi iklan jelas-jelas akan mengatakan kalau iklan setengah halaman saja di satu media jelas sama sekali tidak efektif. Kalau sekadar membuat orang baca, sudah pasti ada. Tapi, bila ingin menciptakan sikap positif, apalagi sampai terjadi akuisisi, rasanya orang iklan harus berpikir ulang seribu kali. Karenanya, setengah halaman iklan surat kabar tidaklah masalah kalau diambil untuk bikin program word of mouth.

Maka, jadilah angka Rp400 juta sebagai program word of mouth kita dapatkan. Nilai tersebut untuk iklan berwarna di koran nasional. Itu setara dengan program WoM di dua kota besar, dengan mind area terdampak langsung hingga 2.000 orang. Belum lagi yang terdampak tidak langsung (mendengar dari orang lain), bisa sekitar 20.000 orang. Dan liputan medianya jelas jauh lebih besar ketimbang setengah halaman di koran nasional tadi, mengingat WoM memiliki nilai berita yang kuat.

Pertanyaan berikutnya, lantas media akan dapat uang dari mana dong, bila semua iklan ditarik jadi program WoM? Ini dia tantangannya, media memang harus mengubah pola bisnisnya. Bertahan dengan iklan belaka tidak akan berumur panjang pasti. Kita sudah tahu persis bagaimana media-media cetak mulai kewalahan mendapatkan order iklan.

Maka, media harus siap dengan program-program WoM yang kreatif juga. Alih-alih sekadar menawarkan space iklan, sudah banyak media yang menawarkan program jangka panjang untuk public engagement. Jadi, bila sebelum era digital media hanya sebatas menyelesaikan masalah publik di tingkat wacana pemberitaan, sekarang media harus menguatkan ruggedness-nya di akar rumput. Media harus turun tangan langsung untuk ikut “menyelesaikan” masalah publik, mengajak publik untuk menyingsingkan lengan baju.

Butuh kecerdasan baru memang, itu sebabnya beberapa media secara khusus merekrut manajer komunitas untuk membangun bisnis-bisnis baru. Mengandalkan iklan dan advertorial belaka, rasanya akan sulit bersaing

e - CRM 


 

 Tanggal 4 September dikenal sebagai Hari Pelanggan Nasional dan banyak diperingati oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sejak tahun 2003.

Gagasan untuk membuat Hari Pelanggan Nasional sederhana, yaitu bahwa pelangganlah yang menggerakkan sebuah bisnis. Sampai kapan pun, di mana pun, selama bisnis ingin terus bertumbuh, maka perusahaan harus dekat dengan pelanggan. Aset sesungguhnya dari sebuah bisnis adalah memiliki pelanggan yang puas dan loyal. Tidak mengherankan, strategi dan program yang terus bertujuan membuat pelanggan bisa semakin lengket dengan perusahaan atau merek, menjadi pilihan strategi dan program yang paling favorit.
Customer relationship management atau CRM merupakan salah satu strategi yang paling bersahabat dengan pelanggan. Industri perbankan Indonesia termasuk yang terdepan untuk masalah CRM. Lihat saja pertumbuhan call center di perbankan yang terus naik selama 10 tahun terakhir. Call center memainkan peranan yang penting untuk berinteraksi dengan pelanggan. Call center bukan saja untuk memberi pelayanan, tetapi mampu melaksanakan fungsi sebagai media untuk melakukan cross-selling. Menjual produk lain kepada pelanggan yang sama adalah esensi dari tujuan implementasi  CRM.

Tidak ada industri airline di seluruh dunia yang tidak menerapkan program frequent flier. Mereka perlu untuk mengenal pelanggannya dengan baik melalui program ini. Ke mana saja pergi, menggunakan kelas apa, bagaimana frekuensi dan perilaku terbang lainnya dengan mudah dilihat dari program seperti ini. Dengan CRM, maskapai penerbangan dapat membuat program yang sesuai dengan keinginan dan harapan pelanggannya.

Yang semakin marak mengimplementasikan CRM di Indonesia adalah industri ritel. Perusahaan-perusahaan ritel banyak meluncurkan program membership. Melalui program ini, perusahaan bisa mengidentifikasi pelanggan melalui database yang mereka bangun. Paling tidak, informasi seperti nama, alamat, nomor ponsel, email dan informasi dasar lainnya bisa mereka peroleh. Kemudian, mereka berharap untuk dapat melakukan berbagai program campaign yang sesuai untuk mereka. Hanya saja, implementasi CRM di industri ritel relatif masih belum sophisticated. Banyak program yang harusnya lebih bersifat personal jarang dilakukan. Pelanggan masih diberlakukan sama semuanya.


Benefit CRM
Meningkatnya strategi dan CRM ini sudah pasti karena memang manfaat yang dirasakan oleh perusahaan. Bayangkan, sebuah perusahaan B to B misalnya, melalui CRM mereka mampu mengidentifikasi pelanggan mereka dan membangun pusat database. Dengan langkah seperti ini, perusahaan mengetahui perilaku pelanggannya lebih baik, termasuk perilaku transaksi. Perusahaan B to B itu akhirnya menggunakan interaksi sebagai bagian untuk membangun relationship. Interaksi ini mereka lakukan dengan berbagai media, termasuk kunjungan langsung, telepon, buletin, SMS, email, website, dan berbagai saluran komunikasi lainnya. Interaksi adalah jantung dari program CRM.

Perusahaan B to B ini kemudian membuat berbagai program, sesuai dengan segmentasinya. Program ini bisa berupa insentif, layanan, konsultasi, atau layanan-layanan solusi lain. Dengan implementasi seperti ini, lengkaplah sudah implementasi CRM. Perusahaan berharap untuk memetik hasilnya, yaitu pelanggan yang loyal, pelanggan yang siap membeli lagi dan mau membeli produk atau layanan lain yang ditawarkan.

Perusahaan yang menerapkan CRM biasanya sudah mampu mengintegrasikan tiga proses bisnisnya, yaitu sellingmarketing, dan service. Perusahaan yang semula fokus pada proses selling yang transaksional sekarang bisa mengubah paradigma melalui proses selling yang fokus pada relationship. Perusahaan yang semula banyak mengandalkan strategi pemasaran yang bertumpu pada mass communication kemudian mengubah paradigma untuk menjalankan komunikasi dua arah yang interaktif. Perusahaan yang semula berupaya meningkatkan pelayanan prima untuk kepuasan pelanggan dengan CRM, mereka mengubah paradigma menjadi pelayanan yang menghasilkan bonding dengan pelanggannya.


Internet kemudian mengubah banyak implementasi CRM. Internet sebagai teknologi, kemudian menjadi bagian dari pengembangan database pelanggan. Efisiensi yang ditawarkan media ini membuat proses membuat database menjadi lebih mudah. Banyak perangkat CRM, misalnya dalam aplikasi call center, sales force automation, business intelligence, dan peranti lunak CRM lainnya, diuntungkan dengan adanya teknologi digital ini. Kemampuan mendapatkan database yang baru, mengolah, dan menyimpan, menjadi lebih mudah dan efisien.
Internet sekaligus sebagai bagian channel untuk komunikasi. Karena esensi komunikasi dari CRM adalah interaktif atau bersifat dua arah, internet kemudian menjadi pilihan media komunikasi yang efektif. Web, email, rich video, RSS, dan tool-tool lainnya telah mengubah CRM menjadi e-CRM. Bahkan, perusahaan-perusahaan airline atau jasa pemasaran hotel seperti Booking.com, Agoda.com, Hotels.com, dan sejenisnya mampu menciptakan e-CRM yang sangat efisien dan efektif. Berbagai program yang bersifat customized bisa ditawarkan dengan cara yang cepat dan efisien.
e – CRM kemudian mengubah perusahaan untuk merancang ulang database mereka.

Masalah yang dulu dianggap kecil, semisal tidak adanya data email pelanggan dalam database, kemudian membuat proses interaksi dengan pelanggan tidak berjalan dengan efektif. Perusahaan harus melakukan update data yang baru dan mengubah cara untuk mendapatkan data pelanggan yang baru. Melalui e-CRM, website diubah menjadi lebih interaktif. Pelanggan diberi kesempatan untuk terlibat. Tidak mengherankan, berbagai cara melibatkan pelanggan, misalnya dengan memberi kesempatan untuk melakukan voting di web banyak dilakukan. Perusahaan berharap mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan para pelanggan dan akhirnya menciptakan bonding yang kuat.


e-CRM telah mengubah keseluruhan tahapan dalam CRM. Proses identifikasi dan pembangunan database pelanggan berubah. Cara berinteraksi pelanggan berubah. Demikian pula, produk dan layanan yang lebih customized jauh lebih mudah untuk diciptakan. Tapi, e-CRM hanyalah transisi untuk menuju perubahan yang lebih besar, dari CRM tradisional menjadi CRM 2.0 atau juga disebut dengan “Social CRM”.

Perubahan ini sudah pasti dipicu oleh berbagai situs media sosial seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, YouTube, Google+, Pinterest, dan lain-lain. CRM pun tiba-tiba mengalami perubahan yang lebih besar lagi. CRM 2.0 membuat perusahaan benar-benar harus outsidein. CRM tradisional masih menjebak perusahaan untuk mengelola database internal, melihat kebutuhan dan keinginan pelanggan, kemudian menawarkan produk atau layanan yang sesuai untuk setiap segmen pelanggan mereka.

Interaksi dua arah yang menjadi jantung komunikasi CRM tradisional masih dikendalikan oleh perusahaan. Dengan CRM 2.0, pelangganlah yang mengendalikan. Perusahaan harus melakukan kolaborasi dengan pelanggan. Di satu sisi, ini menjadi ancaman besar untuk melakukan bonding dengan pelanggan. Di sisi lain, bila berhasil, maka menjadi engagement yang sangat kuat dan cepat menyebar ke pelanggan lain melalui proses viralisasi.

Bagaimana dengan proses identifikasi dan database? Dalam CRM tradisional, diperlukan langkah-langkah yang terstruktur untuk menghasilkan database yang terstruktur dengan baik. Diperlukan seorang arsitek database untuk merancang. Tiba-tiba, konsep ini berubah. Database pelanggan bisa merupakan kombinasi antara yang terstruktur dengan yang tidak terstruktur. Database bisa berupa fans di Facebook atau follower di Twitter. Mereka relatif tidak terstruktur dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Perubahan besar lainnya adalah dalam hal penyediaan sumber daya dan teknologi. CRM tradisional lebih tepat diterapkan perusahaan yang besar. Dibutuhkan banyak teknologi dengan investasi yang cukup besar. Dibutuhkan sumber daya manusia yang harus direkrut, dilatih, dan di-manage oleh perusahaan sendiri. Dengan CRM 2.0, tiba-tiba perusahaan kecil pun dapat melakukan CRM. Bahkan, seorang individu yang tidak memiliki karyawan satu pun, bisa melakukan CRM 2.0 atau Social CRM.

Untuk menyimpan database, tidak diperlukan server yang besar. Teknologi cloud menjadi salah satu solusinya. CRM bisa dimulai dengan skala yang kecil. Peranti lunak tidak perlu dibeli. Sudah disediakan peranti yang open source. Dalam CRM  tradisional, perusahaan-perusahaan sangat familier dengan Siebel, Microsoft, Oracle, SAP, dan peranti lainnya. Sekarang, banyak peranti lunak yang tersedia secara cuma-cuma. Sebagian bisa juga disewa dengan harga yang terjangkau. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan besar haruslah semakin waspada. Kemampuan untuk berkolaborasi dengan pelanggan menjadi tantangan baru yang bersifat multidimensi. CRM 2.0 adalah CRM untuk dekade yang akan datang.

 Analisis Sidik Jari 

(Dermatogyliphics)

 

Sebuah penelitian di tahun 2011 dari sejumlah perusahaan besar di Indonesia mengungkap bahwa setelah delapan tahun lulus S1 dan bekerja, ternyata 59% profesional perusahaan-perusahaan tersebut tidak lagi bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan S1 mereka. Data lain menunjukkan, ternyata perputaran keluar-masuk sales/marketing executive jenjang first line/entry hingga supervisor/middle level manajemen adalah 19%. Padahal untuk profesi akuntan, insinyur, produksi dari jenjang serupa adalah sekitar 12%!

Temuan ketiga, dari sebuah penelitian oleh klinik pengobatan terkemuka—yang merupakan cabang dari klinik spesialis terkenal di luar negeri—atas gangguan seksual, persentase terbesar (27%) pasien yang berobat datang dari kalangan profesional yang memiliki kompetensi utama di bidang sales dan marketing dibanding sembilan kategori profesi lainnya yang mereka pantau.

Apa yang terjadi dengan para sales & marketing profesional sehingga mereka menghadapi tiga kendala di bawah ini:
  • berkarier tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan (kurang memiliki hard/technical skills yang sepadan dengan kualifikasi pekerjaan yang ditekuni)
  • cenderung sering berpindah bagian/beralih profesi atau keluar perusahaan tempat bekerja (kurang cocok dengan pekerjaan sehari-hari);
  • mengalami banyak disfungsi ereksi seksual walau masih di usia produktif akibat persaingan tinggi dan tekanan bekerja dalam meraih target-target tertentu.
Salah satu kemungkinan jawaban adalah perusahaan tidak menganut azas manajemen perekrutan dan seleksi “the right man for the right job”. Proses perekrutan dan seleksi sejak awal dilakukan secara “normatif” dengan seleksi psikotes dan wawancara berlapis, atau—yang lebih parah—hanya mengandalkan koneksi karyawan/relasi usaha dan wawancara berlapis.

Hasilnya?
Tidak heran, dalam 3–4 tahun kemudian terjadi keluar-masuk karyawan sales & marketing di atas 19% dan tingkat kesuksesan mereka ketika dipromosikan menjadi area sales manager atau regional sales manager atau senior brand/product manager atau market development manager yang andal dan qualified ternyata di bawah 60% (setelah satu tahun dipromosikan). Sebuah tingkat kegagalan dalam promosi yang tinggi! (>40%).

Akibatnya, perusahaan terhambat bertumbuh cepat di atas 25% per tahun dan melakukan pemubaziran senilai Rp 28 juta per karyawan yang mengundurkan diri setelah mereka direkrut , dilatih, dan dibina sebelum usai masa kerja empat tahun di perusahaan.

Salah satu cara efektif dalam mengatasi tantangan di atas adalah melakukan proses pemeriksaan dan analisis 10 sidik jari dari calon karyawan yang akan direkrut, atau dari karyawan yang baru akan menyelesaikan masa 3–6 bulan percobaan, atau calon pimpinan manajemen atas. Tiga tujuan utama memasukkan ini dalam proses seleksi calon karyawan dan pengembangan karyawan adalah:
  • menerapkan dengan konsekuen dan intensif azas perekrutan dan seleksi karyawan dengan titik berat “the right man for the right job” yang dikaji dari segi bakat alami atau talenta genetik mereka yang kuat atau yang sudah terasah, maupun yang masih terpendam/belum terlatih;
  • membedakan secara spesifik dan praktis antara minat versus bakat karyawan dan memastikan bahwa perusahaan tidak begitu saja menyeleksi calon karyawan berdasarkan minat tanpa menelusuri lebih jauh bakat atau talenta yang menunjang minat itu. Minat diibaratkan sebagai wants (keinginan), sedang bakat identik dengan needs (kebutuhan) dalam menekuni pekerjaan atau karier;
  • melengkapi perusahaan dengan sebuah alat diagnostik tambahan (selain CV, psikotes, dan wawancara berlapis) yang cepat (dalam 15 menit pemeriksaan 10 sidik jari dan hasil 1X24 jam setelah pemeriksaan) dan harga rekomendasi analisis yang terjangkau (mulai dari Rp 300 ribuan per karyawan).
Bagi perusahaan yang belum terbiasa menerapkan pemeriksaan psikotes dalam menerima karyawan baru, pemeriksaan, analisis, dan rekomendasi 10 sidik jari bisa merupakan sebuah pilihan alat penyaring yang ampuh, efektif , praktis, dan terjangkau.

Laporan dan rekomendasi analisis 10 sidik jari terdiri dari tiga format pilihan, yaitu (1) basic report berisi 2 halaman; (2)
comprehensive report berisi 9 halaman; (3) report & recommendation berisi 15 halaman.
Format “report & recommendation” berisi: (1) kecenderungan bakat sesuai dengan pemetaan kekuatan 5 bagian otak; (2) kecenderungan 4 karakter utama sesuai dengan kekuatan 10 sub bagian otak; (3) kecenderungan bakat sesuai dengan 8
kecerdasan majemuk Dr. Howard Gardner; (4) tiga gaya terbaik untuk penyerapan informasi, proses belajar, dan mengasah bakat; (5) pola motivasi terbaik dalam bekerja dan belajar; (6) bakat terbaik dalam kuadran 4 quotient/kemahiran (IQ/EQ/SQ/AQ); (7) bakat terbaik dalam kuadran disc (directing/influencing/ supportive/ contemplative); (8) bakat terbaik dalam 8 tipe profesional/karyawan; (9) kesimpulan dan rekomendasi penempatan karyawan.

 

 Bag. 2

Analisis 10 sidik jari diusulkan sebagai salah satu cara untuk perekrutan dan seleksi karyawan yang tepat bagi pekerjaan yang cocok. Di sini dibahas lebih lanjut mengenai analisis tersebut. Jika psikotes dalam proses perekrutan karyawan lebih menekankan aspek peminatan dan keterampilan yang sebelumnya sudah dipelajari atau dilatih (pengaruh lingkungan yang disengaja)—jadi, sama sekali tidak memetakan bakat turunan atau talenta alami, analisis 10 sidik jari dilakukan melalui pemeriksaan fisik 10 jari tanpa ada tes yang harus dikerjakan. Cukup menempelkan setiap jari ke toggle yang disediakan, lalu dikoneksikan ke laptop untuk merekam dan membuat gambar aktual dengan menekan agak keras sambil menggulirkan 2–3 cm ke arah kiri-kanan atas-bawah semua “10 telapak jari” melalui proses pencitraan. Sehingga, permukaan sidik jari terekam luas secara visual (hingga ke sisi paling pinggir permukaan jari) dan alur garis jari akan terekam jelas.
Manusia tercatat memiliki 16 model guratan alur garis jari. Model guratan alur garis 5 jari kanan tidak sama dengan guratan alur garis 5 jari kiri. Biasanya dalam 10 jari setiap manusia terdapat 3–7 guratan garis yang berbeda dari 16 jenis  guratan yang ada. Setiap model guratan sidik jari memperlihatkan sejumlah bakat turunan/talenta alami dengan tingkat akurasi 90%–95% (sesuai jenjang umur), berdasarkan analisis dan penelitian rekaman sidik jari dari lebih 12 juta database responden yang telah diperiksa dan dianalisis selama delapan tahun terakhir oleh puluhan pakar dan veteran psikolog, sosiolog, IT,  dermatolog, pendidik anak usia dini antara lain di USA, Kanada, Australia, UK, India, Jepang, Korea, Cina, Singapura, Taiwan.
Guratan garis 2 jari jempol dan 2 jari telunjuk merupakan yang terpenting karena berkaitan langsung dengan bakat alami seseorang. Sidik jari juga berkaitan langsung (berkorelasi positif ) dengan 10 struktur otak yang ada di setiap manusia, seperti frontal lobe, parietal lobe, temporal lobe, occipital lobe (5 ruang besar yang dijabarkan lagi menjadi “10 kamar otak”). Setiap kamar otak memiliki ciri khas atau karakter alami yang berbeda secara signifikan “satu dengan kamar otak lainnya”.

Perbedaan bakat turunan dan karakter alami ini kemudian dijelaskan dalamsejumlah konsep ilmu psikologi terapan terkenal, antara lain 8 kecerdasan majemuk – Dr. Howard Gardner; DISC (dominance influence steadiness compliance) – Dr. William Marston; gaya belajar mendengar vs melihat vs mengerjakan langsung – Dr. DePorter dan Hernacki (2002); 4  kuadran kecerdasan – IQ, EQ, AQ, CQ; dan sejumlah tabel struktur otak yang intensitas bakatnya diukur secara numerik/kuantitatif.

Analisis sidik jari di atas bisa diterapkan untuk meningkatkan kinerja seorang sales profesional dalam konteks mengaitkan langsung bakat dan karakter turunan seseorang dengan nama jabatan > uraian tugas di jabatan tersebut > kinerja pokok yang diharapkan dari pemegang jabatan > kompetensi pemegang jabatan (diuraikan dalam keterampilan teknis/soft skills dan keterampilan kontekstual/hard skills).

Dalam profesi marketing & sales kita menjumpai 86 nama jabatan yang terbagi dalam 8 management functions yang lebih spesifik:
  • sales management (16 jabatan);
  • product management (5 jabatan);
  • promotions management (22 jabatan);
  • price management (4 jabatan);
  • place management (7 jabatan);
  • customers yield & mix management (5 jabatan);
  • marketing supports/services (17 jabatan);
  • marketing management (10 jabatan).
Dari 86 jabatan dibutuhkan sejumlah kompetensi yang diuraikan secara spesifik dalam 36 hard skills dan 16 soft skills. Skills ini tidak berbeda jauh secara jenjang (direktur vs manajer vs asisten manajer/offi cer vs executive). Perbedaannya hanya pada kadar wewenang dan tanggung jawab. Skills di atas bisa berbeda signifikan apabila mempertimbangkan jabatan di management functions yang berbeda. Di sinilah justru pemeriksaan analisis sidik jari menjadi krusial karena dikaitkan secara langsung antara karakter turunan dan bakat genetika dengan job title dan job competencies yang dituntut perusahaan.

Sudah terbukti secara empiris bahwa seseorang akan bekerja optimal dan tetap bahagia juga puas terhadap perusahaan dan dirinya sendiri apabila yang dilakoninya merupakan sebuah panggilan dan hobi, sesuai jabatan yang diemban. Karyawan tersebut akan loyal di perusahaan, memiliki passion dan komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan.

Apabila sudah bekerja sesuai bakat turunan maupun karakter alaminya, seorang profesional akan memiliki “turbo boost” atau “double power” untuk mengambil keputusan yang sulit menjadi serasa mudah, mengatasi tingkat persaingan dengan pikiran yang positif dan konstruktif. Ia juga punya kemampuan problem solving yang baik serta keinginan selalu belajar untuk menyempurnakan diri dan senantiasa meningkatkan prestasi

Cara Agar Apartemen Mungil Tampak Lebih Luas

img
Bagi sebagian orang memiliki apartemen jauh lebih praktis dan nyaman ketimbang mempunyai rumah. Sayangnya, banyak apartemen yang hadir dengan ukuran ruangan tidak terlalu luas.

Untuk menyiasati bentuk ruangan yang sempit, ada beberapa trik yang bisa dilakukan. Misalnya dengan mengatur dan menambah perabotan tertentu. Seperti yang dikutip dari freshome, berikut lima trik agar apartemen Anda terlihat lebih luas.

1. Pemilihan Warna
Ubahlah warna dinding Anda agar ruangan terlihat lebih besar. Warna cerah dan terang bisa membuat ruang keluarga tampak lebih luas. Kombinasi warna krem dan biru langit adalah salah satu kombinasi warna yang tepat karena dapat memberikan ilusi lebih luas. Warna terang dan cerah membuat ruangan terasa lapang dan terbuka, terutama jika tersinari oleh cahaya alami matahari.

2. Tata Cahaya
Untuk menjadikan ruangan lebih besar, usahakanlah agar apartemen Anda dimasuki cahaya dari luar. Jangan lupa mengaplikasikan tirai tipis agar cahaya yang masuk memberi kesan dramatis. Jika pemandangan di luar jendela Anda tampak kurang indah, ada baiknya menaruh beberapa pot tanaman di sekitar jendela. Selain itu, Anda juga bisa menambahkan jumlah lampu di langit-langit ruangan, selain terlihat lebih cerah, ruangan juga tampak lebih luas.

3. Jaga Agar Tetap Rapi & Terorganisir
Tak ada hal lain yang memberi kesan sempit selain barang yang berserakan di mana-mana. Barang yang tersusun rapi akan membuat ruangan tampak lebih lapang. Jaga agar lantai Anda tetap terlihat dan tidak tertumpuk banyak perabotan atau barang. Selain itu, hindari menaruh banyak lukisan atau foto di dinding, karena akan berikan kesan sempit.

4. Taruh Cermin
Cermin besar dapat merefleksikan sebuah ruangan sehingga membuatnya lebih luas hingga dua kali lipat. Pengaplikasian cermin yang terbaik adalah di seberang vocal point dari sebuah ruangan. Vocal point sendiri, bertujuan agar ketika melihat ruangan tersebut, mata seseorang langsung tertuju pada titik tersebut. Anda bisa menjadikan meja atau sofa yang menjadi vocal point dalam ruang keluarga.

5. Pilih Furniture yang Multifungsi
Furniture seringkali memakan banyak tempat. Solusinya, pilih furniture dengan desain ramping dan multifungsi. Misalnya seperti sofa bed, lemari peti yang bisa dijadikan coffee table atau sofa yang juga berfungsi sebagai penyimpanan buku. Selain itu pilih meja makan yang bisa dilipat ketika Anda sedang tidak membutuhkannya.

Cloud  Computing ; Basic

 

Selain listrik, infrastruktur masa depan yang tidak kalah mengerikan jika mengalami kerusakan adalah data center. Meledaknya UPS di internet data center Jakarta lalu sempat melumpuhkan beberapa jaringan online, termasuk Jardiknas dan media online seperti detik.com.

Seperti halnya listrik, internet memiliki banyak “power plant” di dalamnya. Ada banyak server yang terhubung ke jutaan komputer di dunia dan jika power plant ini mati maka bisa mengakibatkan bisnis di berbagai belahan dunia pun terganggu. Kompleksitas kehidupan manusia—termasuk juga bisnis—semakin ada di internet.

Mari kita pikirkan hidup kita yang semakin kompleks dengan kehadiran IT: data file yang terus bertambah setiap menit (atau detik?), file musik dan video dengan kapasitas besar yang memenuhi komputer kita. Software yang setiap bulan harus di-update dengan berbagai produk baru. Sampai akhirnya grafik-grafik, data-data pelanggan, dan dokumen penjualan kita yang harus kita jaga terus.
Kehadiran layanan cloud computing diperkirakan akan semakin penting pada masa mendatang. Pernahkah Anda terpikir untuk memiliki sebuah komputer atau laptop tanpa data di dalamnya? Anda hanya cukup memiliki software browsing dan antivirus. Semua data Anda sudah disimpan di internet sementara semua program office dan bisnis Anda dijalankan lewat internet.
Cloud computing adalah jasa layanan penggunaan resources (baik hardware maupun software) melalui jaringan (dalam hal ini internet). Sebetulnya kita sudah mulai bekerja dengan cloud computing. Setiap kali membuka email dengan attachment file seperti MS Word sebenarnya kita tidak perlu mengunduhnya dan membuka dengan program word processing yang kita miliki. Google memiliki perangkat Google Apps dimana kita bisa membuka, mengedit, dan men-share file tersebut. Praktis karena kita sebenarnya tidak perlu program office di dalam komputer kita.

Pada masanya ketika sebagian besar konsumen kita berkomunikasi lewat internet, marketer akan semakin membutuhkan cloud computing. Memahami kebutuhan pelanggan dengan baik adalah kunci setiap penjualan. Oleh karenanya Anda akan butuh berbagai data mereka yang berserakan di dunia maya.

Situs seperti salesforce.com misalnya, menjadi pihak outsourcing company Anda di internet. Mereka akan menggali data prospek Anda lewat media sosial dan memberi informasi kepada Anda, siapa-siapa saja yang butuh produk Anda. Situs ini bisa mengirimkan sales lead kepada jajaran salesman Anda, mengirimkan video presentasi produk ke Facebook prospek sampai menghitung semua return on investment dari semua jerih payah Anda.

Cloud computing membuat pekerjaan marketing menjadi lebih efisien. Anda tidak butuh tim IT sendiri untuk membangun software khusus. Di internet Anda hanya butuh media dan tools. Media yang digunakan bisa bermacam-macam, mulai dari Facebook, Twitter, YouTube dan lain-lain. Sementara tools yang dipergunakan pun bermacam-macam, seperti Google Analytic, Kiss Metric, SEO Management, dan lain-lain. Semua tersedia di internet dan Anda tinggal “plug and play”.
Nicholas Carr sudah memprovokasi hal ini lewat tulisannya di Harvard Business Review pada tahun 2003 dan beberapa tahun kemudian dia bukukan dengan judul Big Switch: Rewiring the World from Edison to Google. Artinya cloud computing akan sama seperti listrik, Anda hanya tinggal “plug” ke internet dan menjalankan semua pekerjaan Anda secara wireless.

Nah, bayangkan jika semua pekerjaan sudah dibantu oleh cloud computing. Bisa jadi Anda akan merasakan kiamat saat cloud computing Anda tidak bisa bekerja!

Lakukan 7  Hal Ini 

Ketika Anda Dipecat dari Kantor

img


Dok. Thinkstock
Dipecat dari kantor, merupakan hal yang tidak menyenangkan. Tak heran banyak yang merasa putus asa, bahkan stres sekalipun saat mengetahui dirinya dikeluarkan dari pekerjaannya. Sebab, Anda akan memulai semuanya dari nol lagi, baik itu mencari lowongan pekerjaan, memperbarui CV, melakukan tes, wawancara kerja dan lain sebagainya.

Apapun itu alasan atasan memecat Anda, dikutip dari US News, ada beberapa hal penting yang harus segera dilakukan setelah mengalaminya. Apa saja?

1. Jangan Panik
Ketika bos mengatakan, "Anda dipecat," sebaiknya jangan panik. Berusahalah untuk tetap tenang. Jangan sampai emosi Anda meluap. Semakin Anda merasa tenang, maka semakin cepat pula Anda melalui masa-masa sulit ini.

2. Jangan Bersikap Negatif
Bersikap negatif maksudnya yaitu ketika si bos memecat Anda, jangan sampai Anda melakukan tindakan yang tidak seharusnya, misalnya memaki-maki atasan atau bahkan memukulnya. Hal tersebut hanya akan membuat reputasi Anda menjadi buruk. Agar tidak menyesal nantinya, jadi sebaiknya tetaplah berusaha untuk tenang.

3. Tanyakan Alasan Bos Memecat Anda
Jika Anda merasa tidak melakukan kesalahan yang fatal, dan menjadi bingung kenapa Anda bisa dipecat, tak ada salahnya bertanya kepada atasan alasan ia memecat Anda. Hal ini dilakukan untuk dapat membantu Anda menjawab pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh pewawancara saat Anda melakukan interview kerja di perusahaan lain.

4. Mengatur Keuangan
Apabila Anda tidak langsung mendapatkan pekerjaan yang baru, Anda haru segera mengatur keuangan lebih disiplin dan teratur. Prioritaskan segala macam kebutuhan Anda. Jangan sampai uang yang ada dipergunakan untuk hal-hal yang tidak penting. Cara iini untuk bisa membantu Anda lebih menghemat uang yang dimiliki.

5. Tetap Menjalin Hubungan yang Baik
Meskipun dipecat merupakan kenyataan pahit yang perlu Anda terima, namun jangan sampai Anda memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan yang baik dengan bos, maupun rekan kerja di perusahaan lama. Sebab, sebelumnya Anda dan mereka pernah bekerja bersama dan di kantor yang sama pula.

6. Tetap Objektif
Sbeaiknya tetaplah objektif. Anggaplah bahwa pemecatan yang dialami merupakan pembelajaran berharga. Jika memang Anda telah melakukan kesalahan fatal, maka pengalaman ini dapat membuat Anda untuk tidak melakukan hal yang sama di tempat kerja baru nantinya.

7. Anggaplah Ini yang Tebaik
Bukan hanya Anda saja yang pernah dipecat oleh atasan di kantor. Ada begitu banyak orang di luar sana yang mengalami hal yang sama, namun bisa sukses di kemudian hari. Oleh karena itu, anggaplah bahwa pemecatan ini merupakan jalan terbaik dan awal menuju sebuah kesuksesan.

4  Aplikasi iPhone 

untuk Atasi Pertengkaran dalam Pernikahan

img
Dok. Thinkstock



Gadget kerap dituding sebagai penyebab pasangan bertengkar terutama jika masing-masing pihak sibuk sendiri-sendiri dengan alat tersebut. Namun ternyata di balik dampak negatifnya, ada juga manfaat dari gadget seperti iPhone.

Lembaga yang bergerak di bidang hubungan percintaan yaitu PAIRS (Practical Application of Intimate Relationship Skills) menciptakan aplikasi yang tersedia untuk iPhone. Aplikasi itu diklaim dapat menjadi solusi bagi segala masalah dalam rumah tangga. Aplikasi yang ditawarkan oleh PAIRS terdiri dari empat macam.

Pertama yaitu aplikasi 'DTR'. Aplikasi tersebut memungkinkan pasangan suami-istri untuk saling berbagi mood yang sedang dirasakan sehingga masing-masing mengetahui apa yang diinginkan oleh pasangan. Aplikasi ini terhubung langsung dengan Facebook sehingga memungkinkan penggunanya mempublikasikan mood yang dirasakan tersebut di Facebook.

Kedua yaitu aplikasi 'Mind Over Marriage'. Aplikasi tersebut menawarkan solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang umum terjadi dalam pernikahan. Cara penggunaannya adalah dengan mengirim e-mail tentang masalah yang dialami dan aplikasi ini akan membalas e-mail Anda dengan beberapa masukan. Sembari menunggu balasan e-mail, pengguna bisa mencari daftar solusi dari masalah yang umum terjadi di pernikahan dengan mengetikkan kata kunci.

Ketiga yaitu aplikasi 'Marriage Fight Tracker' berisikan daftar hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Untuk menggunakannya, Anda harus menulis pertengkaran apa saja yang dialami dalam pernikahan terlebih dahulu. Aplikasi ini juga menyediakan tab yang terhubung pada video YouTube ataupun situs yang membahas masalah serupa.

Terakhir adalah aplikasi 'Fix A Fight' yang memberikan nama julukan konyol pada pertengkaran yang Anda alami lalu memberikan delapan petunjuk hal jenaka yang harus dilakukan. 'Fix A Fight' mengajak Anda dan suami yang sedang bertengkar menjadi tertawa bersama karena hal-hal konyol yang disarankan oleh aplikasi ini. Selain itu, Anda juga dapat memilih berbagai emoticon yang mewakili perasaan lengkap dengan tingkatan seberapa besar perasaan tersebut.

3 Cara Agar Urusan Uang Tak Membuat Pasangan Bertengkar & Cerai

img
Dok. Thinkstock
  Uang seringkali jadi penyebab pasangan menikah berakhir dengan perceraian. Urusan uang ini memang cukup sensitif dan terkadang pasangan memilih menghindari pembicaraan mengenai isu tersebut.

"Orang-orang kurang suka membicarakan masalah uang ketimbang seks karena ada banyak hal yang memalukan dan terlalu rahasia," ujar Dr. Linda Olson, seorang psikolog dan pendiri Smart Money Educators seperti dikutip Huffington Post.

Dr. Olson yang telah membantu banyak pasangan melalui masalah mengenai uang ini kini berbagi tips untuk suami-istri agar tidak sering bertengkar dan berujung cerai. Berikut ini penjelasan Dr. Olson:

1. Sebelum menikah atau sesaat setelah menikah, bicarakan dengan terbuka sejarah keuangan masing-masing. Pembicaraan mengenai sejarah keuangan ini bisa membantu Anda dan suami mengidentifikasikan apakah uang akan jadi sumber masalah atau tidak ke depannya.

"Pasangan harus meluangkan waktu yang cukup lowong untuk membicarakan mengenai uang ini," jelas Dr. Olson. "Tentunya sangat tidak pintar jika Anda mengabaikan hal yang bisa jadi penyebab kegagalan hubungan Anda," tambahnya.

2. Usahakan Anda dan pasangan jujur mengenai tipe keuangan masing-masing. Pahami apa yang jadi ketakutan terbesar masing-masing mengenai uang. Apakah Anda tipe yang menghindari uang karena merasa uang itu bisa berdampaj buruk atau justru Anda atau pasangan termasuk tipe pengagum uang dengan anggapan makin banyak uang hidup jadi bisa lebih baik?

"Kalau pasangan tidak membicarakan ketakutan mereka (soal uang), kemungkinan mereka untuk sukses kecil," ujar Dr. Olson.

3. Saat berbicara mengenai isu uang ini, coba untuk membuat perencanaan keuangan dan jalani rencana tersebut dengan baik. Setelah sebelumnya saling terbuka mengenai masalah uang, Anda dan pasangan bisa menciptakan visi keuangan yang sesuai dengan harapan.

"Tujuannya adalah agar pasangan bisa jadi lebih seimbang dengan tipe keuangan mereka," tuturnya. Menciptakan visi keuangan seringkali tidak mudah dan butuh bantuan ahli. Namun kalau memang Anda bisa membayar ahli tersebut, itu akan jadi investasi terbaik.

Kompetisi  Bisnis  Rumah  Sakit

 

WALAUPUN rasanya kurang pantas dikatakan Bisnis "Orang Sakit", namun kenyataan yang ada adalah rumah sakit yang memiliki bidang utama pelayanan terhadap orang sakit menjadi sebuah bisnis yang memiliki pertumbuhan cukup pesat dan menguntungkan.

Perkembangan industri rumah sakit swasta telah mengalami perkembangan yang cukup berarti, terutama beberapa tahun belakangan ini. Hal ini terlihat dengan bermunculannya rumah sakit swasta di negeri ini baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Jumlah rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008 adalah sebanyak 1.320 rumah sakit, dimana 657 di antaranya adalah rumah sakit milik swasta. (Depkes, 2009).

Pertumbuhan rumah sakit swasta ini di tahun-tahun mendatang akan semakin pesat, apalagi berdasarkan Keputusan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi No.111 tahun 2007 yang menyatakan bahwa investor asing bisa menguasai 67 persen kepemilikan.

Kebutuhan rumah sakit berdasarkan rasio tempat tidur rumah sakit dibandingkan dengan jumlah peduduk masih sangat rendah. Artinya bisnis rumah sakit ini adalah bisnis yang menggiurkan bagi para pelaku bisnis. Modal yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah rumah sakit tidaklah kecil, nilai investasi bisa mencapai miliaran rupiah, terutama rumah sakit yang memiliki segmentasi sosial ekonomi kelas menengah ke atas dan secara geografis berada di kota besar.

Dengan entitas sebuah bisnis, maka mekanisme pasarpun berlaku dan dengan nilai investasi yang tidak sedikit maka kompetisi pun menjadi tak terelakan, agar rumah sakit masih bisa tetap hidup dan berkembang. Namun kemana arah kompetisi bisnis ini?

Sedikitnya ada tiga unsur yang terlibat dalam bisnis rumah sakit yakni penyedia pelayanan kesehatan (rumah sakit), pasien sebagai penerima pelayanan dan pihak ketiga yang secara tidak langsung terlibat yakni asuransi kesehatan atau perusahaan lainnya, dan pemerintah.

Dalam menghadapi kompetisi saat ini, rumah sakit melakukan investasi berupa alat-alat yang canggih, namun sangat disayangkan karena tidak adanya regulasi yang jelas, dalam satu kota bisa terdapat beberapa jenis alat canggih yang sama yang dimiliki setiap rumah sakit, padahal mungkin kebutuhannya tidak sebesar itu.

Hal tersebut bisa berdampak pada mahalnya tarif yang dikenakan, karena rumah sakit harus menghitung pengembalian investasi, atau yang lebih berbahaya adalah penggunaan alat yang tidak seharusnya pada pasien untuk mengejar pengembalian investasi.

Pada umumnya rumah sakit masih menerapkan pola tarif berdasarkan fee for service, hal ini seringkali dikeluhkan oleh pasien yang tidak dapat mengetahui secara pasti biaya yang harus dikeluarkan ketika berada di rumah sakit.

Pola pentarifan prospective payment masih dianggap kurang bisa diterapkan oleh rumah sakit swasta, padahal metode tersebut dapat menjadi salah satu strategi dalam peningkatan mutu dan penurunan biaya. Bahkan pada umumnya rumah sakit masih menerapkan pola tarif operasi mengikuti kelas perawatan, yang disegmentasikan berdasarkan kemampuan bayar pasien.

Ruangan rawat inap pun hampir seluruhnya dinamai berdasarkan strata kelas, yang juga dianggap menunjukan kemampuan bayar pasien.

Perilaku dari konsumen atau pasien juga sangat mempengaruhi kompetisi ini.Saat ini sistem rujukan sepertinya sudah mulai melemah, pasien terutama kelas menengah dan atas, selalu lebih puas jika langsung bertemu dengan dokter spesialis. Bahkan saat ini rumah sakit juga berkompetisi secara tidak langsung dengan praktek swasta dokter spesialis.

Pasien yang sepenuhnya dijamin oleh asuransi atau dijamin oleh perusahaan tempatnya bekerja memiliki kecenderungan menghabiskan biaya yang lebih besar. Hal ini juga ditangkap oleh rumah sakit sebagai salah satu target captive market-nya. Rumah sakit berlomba-lomba bekerja sama dengan perusahaan dan asuransi bahkan dengan menawarkan tarif yang lebih rendah.

Pada akhirnya rumah sakit sebagai sebuah bisnis boleh berlomba-lomba menyasar segmen sosial ekonomi kelas menengah atas dan di kota besar, namun jangan dilupakan bahwa rumah sakit pada dasarnya memiliki azas pemerataan. Rumah Sakit boleh memiliki strategi pentarifan sebagai sebuah bisnis dan mengikuti mekanisme pasar namun jangan dilupakan rumah sakit memiliki azas persamaan hak dan antidiskriminasi.

Rumah sakit harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi namun jangan dilupakan rumah sakit memiliki asas nilai etika dan profesionalitas, nilai perlindungan dan keselamatan pasien yang menjadi tanggung jawab rumah sakit dan dokter.

Karena itu Rumah Sakit bukan bisnis biasa tapi bisnis yang luar biasa, yang pemilik dan semua orang yang di dalamnya tidak cukup hanya memiliki modal keuangan yang besar, keilmuan yang tinggi namun yang paling penting adalah modal hati yang mau melayani bagi sesama. Sehingga kompetisi yang seharusnya terjadi antarrumah sakit bukanlah kompetisi melawan rumah sakit satu sama lain, bahkan yang lebih baik adalah co-operation.

Kompetisi yang sebenarnya adalah bagaimana memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna, bermutu, efisien, terdepan dalam ilmu kedokteran, dan bisa menyentuh hati para pasien.(*)

Rambu-Rambu Promosi Rumah Sakit





Di Indonesia sampai saat ini promosi rumah sakit masih dianggap hal yang tabu, karena kata “promosi” berkonotasi membujuk serta mengarahkan seseorang agar mengunjungi rumah sakit tertentu. Padahal, promosi jika disampaikan dengan jujur dan mendidik, akan bermakna positif.  Promosi merupakan salah satu wadah yang efektif untuk menginformasikan adanya layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.
 
Ketika rumah sakit di Indonesia masih ragu dan takut berpromosi, rumah sakit di negara lain justru gencar menjadikan Indonesia sebagai ajang promosi. Mereka bukan hanya memasang iklian, tetapi juga melakukan berbagai kegiatan kehumasan (public relations) untuk menarik masyarakat Indonesia agar mau menjadi konsumen mereka. Tak heran, arus berobat ke luar negeri semakin tinggi.

Berubahnya nilai-nilai secara global dan masuknya Indonesia ke dalam persaingan pasar bebas, mengharuskan kita mengubah paradigma tentang rumah sakit. Perlu dipahami, rumah sakit tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai institusi sosial belaka, melainkan sudah menjadi institusi yang bersifat sosio-ekonomis.

Dengan paradigma baru in kaidah-kaidah bisnis juga berlaku bagi industri rumah sakit tanpa harus meninggalkan jatidirinya sebagai institusi sosial yang sarat dengan norma, moral, dan etika.

Dalam berpromosi rumah sakit memerlukan pedoman etika tersendiri, karena jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit bersifat unik dan sangat berbeda dengan bidang jasa pelayanan lainnya. Dengan demikian dirasa perlu menyusun satu pedoman yang bersifat self regulating. Dengan pedoman ini komunitas numah sakit dapat mengatur dirinya sendiri dan kepentingan rumah sakit untuk melakukan promosi dapat terlindungi. Dengan pedoman ini pula masyarakat akan terlindungi dari promosi yang menyesatkan.

Melihat kebutuhan yang ada, PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) berinisiatif membuat Buku Pedoman Etika Promosi Rumah Sakit. Uraian dalam pedoman etikapromosi ini telah disetujui dalam Rapat Kerja Nasional Majelis Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) di Semarang tanggal 23 Juli 2005. Beberapa bagian dan Pedoman Etika Promosi Rumah Sakit diulas berikut ini.

PENGERTIAN
Promosi rumah sakit adalah salah satu bentuk pemasaran rumah sakit ([hospital marketing]) dengan cara penyebarluasan informasi tentang jasa pelayanan rumah sakit serta kondisi rumah sakit itu sendiri secara jujur, mendidik, informatif, dan dapat membuat seseorang memahami tentang pelayanan kesehatan yang akan didapatkannya.

Dasar Hukum
Undang-undang nomor 88 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Perundang-undangan RI yang mengacu kepada Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia yang disempurnakan pada 19 Agustus 1996. KODERSI 2001, Bab VI Pasal 23. Keputusan Rapat kerja Nasional Majelis Etika Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) tanggal 23 Juli 2005.

Azas Umum Promosi
Promosi harus jujur, bertanggung jawab, dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Promosi tidak boleh menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara, agama, tata susila, adat, budaya, suku dan golongan. Promosi harus dijiwai dengan nasa persaingan yang sehat.

Promosi yang dilakukan harus tetap memiliki tanggungjawab sosial.
Layanan yang ditawarkan harus profesional dan bermutu. Setiap institusi/pelaku Iayanan kesehatan harus selalu mengacu kepada etika rumah sakit, serta bekerja sesuai pedoman dan standar layanan yang ada.
Tarif layanan yang ditawarkan wajar dan dapat dipertanggungjawabkan serta memperhatikan ketentuan yang ada.
Layanan yang ditawarkan harus merata dan ditujukan kepada seluruh anggota masyarakat. Layanan yang ditawarkan harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengguna layanan.
Promosi layanan kesehatan adalan fundamental, yang mengacu kepada: Falsafah promosi: setiap mnstitusi/pelaku layanan kesehatan harus berada pada koridor kompetisi yang sehat.
Misi promosi, tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pengguna jasa (yang sekaligus akan meningkatkan pendapatan). Sistem promosi, bukan hanya menjual tetapi sekaligus akan meningkatkan pengetahuan anggota masyarakat untuk memilih bentuk layanan kesehatan yang paling tepat untuk dirinya.

Secara umum promosi harus bersifat:
Informatif: memberikan pengetahuan mengenai hal ihwal yang ada relevansinya dengan berbagai pelayanan dan program rumah sakit yang efektif bagi pasien/konsumen.
Edukatif: memperluas cakrawala khalayak ramai tentang berbagai fungsi dan program rumah sakit serta penyelenggaraan.
Preskriptif: pemberian petunjuk-petunjuk kepada khalayak ramai umumnya dan pasien khususnya tentang peran pencari pelayanan kesehatan dalam proses diagnosis dan terapi.
Preparatif: membantu pasien/keluarga pasien dalam proses pengambilan keputusan.

Kesemuanya ini harus diberikan secara kongkrit dan berdasarkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia.

Asas Khusus untuk Promosi Rumah Sakit
Harus rela tetap mencerminkan jatidiri rumah sakit sebagai institusi yang memiliki tanggung jawab sosial. Penampilan tenaga profesi dokter, ahli farmasi, tenaga medis, dan paramedis lain atau atribut-atribut profesinya tidak boleh digunakan untuk mengiklankan jasa pelayanan kesehatan/rumah sakit dan alat-alat kesehatan. Menghargai hak-hak pasien sebagai pelanggan.

HAL-HAL LAIN
RS luar negeri tidak diperkenankan berpromosi dengan menggunakan pembicara dokter luar negeri tanpa melalui kerja sama dengan IDI, PERSI, DEPKES, instansi terkait. Hal ini dilakukan untuk melindungi masyarakat.
Agensi rumah sakit asing bila ingin berpromosi di Indonesia harus bekerja sama dengan sepengetahuan organisasi profesi dan PERSI. Pembuatan film di sekitar rumah sakit:
Personil rumah sakit tidak terlibat. Nama rumah sakit hanya dicantumkan pada bagian akhir film.

Penyelenggara/Pelaksana Promosi
Pihak rumah sakit sendiri.
Perusahaan periklanan.
Pihak-pihak lain.

Pengawasan dan Pembinaan
Pengawasan dan pembinaan dilakukan oleh Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan dan PERSI MAKERSI secara khusus melakukan pemantauan dalam pelaksaan sehari-hari. Bila terjadi pelanggaran maka akan diberikan sanksi etik berupa:
Teguran lisan maupun tertulis oleh MAKERSI Informasi kepada masyarakat lewat media massa Rekomendasi kepada yang berwenang untuk meninjau kembali izin rumah sakit.

PENUTUP Etika bersifat dinamis dan selalu dapat berubah berdasarkan pengaruh perkembangan nilai- nilai yang ada di masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula etika promosi rumah sakit, tidak tertutup kemungkinan suatu saat akan berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan layanan kesehatan. Oleh karena itu, evaluasi berkala terhadap isi pedoman etika promosi rumah sakit ini sangat diperlukan agar tetap sesuai dengan kebutuhan penyedia dan pengguna jasa pelayanan kesehatan.