Rabu, 19 Maret 2014

10 Sopan Santun yang harus di ajarkan kepada Anak - Anak


Tentu setiap orangtua ingin memiliki anak yang sopan dan tahu tata krama. Tugas Andalah sebagai orangtua untuk memberi contoh dan mengajarkan mereka tentang hal ini.

Sopan santun hendaknya diajarkan sejak si anak masih kecil karena mereka lebih mudah dibentuk dan lebih suka mencontoh perilaku orang di sekitar mereka, terutama orangtua. Mulailah mengajarkan dari hal sederhana sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Jangan lupa menjelaskan kepada anak alasan mengapa ia harus berlaku sopan dan menghargai orang lain sehingga mereka lebih termotivasi.

1. Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua
Menghormati orangtua dan orang yang lebih tua adalah salah satu norma kesopanan penting yang berlaku di masyarakat. Ajarkan anak-anak untuk selalu berlaku dan berbicara sopan kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Misalnya, memberikan tempat duduk di kendaraan umum kepada ibu hamil atau orang lanjut usia.

2. Minta maaf
Banyak orang beranggapan bahwa meminta maaf berarti menunjukkan kelemahan. Namun, sebaliknya, minta maaf sebenarnya menunjukkan kekuatan dan kelapangan hati seseorang. Ajarkan anak-anak Anda untuk selalu minta maaf ketika ia melakukan kesalahan.

3. Table manner
Jangan anggap sepele masalah table manner. Anak-anak yang paham masalah table manner di rumah biasanya akan menjadi lebih sopan ketika mereka makan di luar rumah. Anda tak mau kan kalau saat diajak makan di restoran, anak berlarian dan memainkan alat makannya? Cara mengajarkan yang terbaik adalah memberi contoh. Jangan berharap si kecil tertib di meja makan jika orangtua selalu makan di depan televisi, misalnya.

4. Ajarkan untuk tak menjawab ulang
Terkadang saat marah Anda mungkin saja mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan kepada anak. Tak jarang anak juga menjawab balik kata-kata tersebut. Namun, sangat penting untuk mengajarkan anak bahwa hal ini tidaklah baik karena menunjukkan ketidakhormatan kepada orangtuanya.

5. Mengucapkan kata "tolong" dan "terima kasih"
Ada banyak anak yang tidak tahu bagaimana caranya meminta tolong dan juga berterima kasih. Ini sebenarnya adalah masalah kebiasaan, maka biasakan anak-anak untuk mengucapkan kata-kata ini setiap hari. Berilah contoh kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang sudah membantu, termasuk kepada tukang sayur langganan atau asisten rumah tangga.

6. Menghormati sesama
Ajarkan anak untuk selalu bisa memahami dan juga menghormati sesamanya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa ia dan teman-temannya punya hak yang sama. Norma kesopanan ini akan membantu mencegah terjadinya bullying pada anak-anak.

7. Kesamaan derajat antarsesama
Ajarkan mereka untuk tidak mendiskriminasikan orang berdasarkan kekayaan, warna kulit, pekerjaan, ras, jender, atau agama. Ajarkan mereka bahwa setiap orang berhak diperlakukan sama derajatnya tanpa kecuali.

8. Perlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri
Tak ada orang yang mau memperlakukan dirinya sendiri dengan buruk. Anak harus tahu kalau mereka seharusnya memperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Hal ini akan membantu meningkatkan kemampuan sosialisasi si anak di lingkungannya.

9. Tak pelit pujian
Orangtua memuji ketika anaknya melakukan hal-hal terpuji dan hebat. Hal ini akan membantu anak untuk menyadari perlunya menghargai upaya seseorang. Namun, ajarkan juga untuk tidak bersikap palsu saat sedang memuji seseorang.

10. Membantu yang lemah
Di sekitar kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan. Misalnya, kakek atau nenek yang ingin menyeberang jalan, anak yatim piatu, dan lain-lainnya. Pastikan mengajarkan anak untuk selalu membantu yang lemah dan membutuhkan bantuan

Jumat, 07 Maret 2014

Tips Membuka Bisnis Jasa Penitipan Anak


Seiring waktu kebutuhan pengasuh semakin meningkat. Apalagi orangtua semakin sibuk dengan pekerjaannya. Peluang itu dapat dimanfaatkan untuk membuka bisnis jasa pengasuh dan penitipan anak.

Memang ada sejumlah lembaga untuk menyediakan pengasuh yang dapat dipercaya. Badan-badan ini bertindak sebagai mediator untuk memberikan pengasuh tepat kepada rumah tangga berdasarkan kebutuhan. Lembaga itu mendapatkan komisi dari bisnis tersebut, sedangkan pengasuh mendapatkan porsi hampir 60%.


Menyediakan jasa pengasuh dapat dijadikan peluang bisnis terutama jika Anda memiliki pengalaman bekerja sebagai pengasuh. Pengalaman Anda dapat jadi panduan untuk memilih calon pengasuh tepat. Selain itu, Anda juga dapat mendirikan sebuah bisnis online agar membantu melayani daerah lebih luas.

Formalitas Hukum
Saat menjalani bisnis pengasuh, Anda mungkin perlu menyelesaikan formalitas tertentu tergantung tempat Anda memulai bisnis. Lalu konsultasikan dengan ahli pajak dan asuransi untuk memahami apa kebutuhan bisnis Anda.

Pemasaran lewat Iklan
Anda dapat beriklan produk jasa mengenai bisnis pengasuh lewat website yang telah dibuat agar mendapatkan klien dan pengasuh. Selain itu, Anda dapat memanfaatkan iklan di koran. Cobalah juga untuk membuat poster dan memasang selebaran di sekitar kampus, yang mungkin mahasiswi sedang mencari pekerjaan. Pemasaran lewat mulut ke mulut juga sangat penting, jadi bangunlah reputasi yang baik.

Wawancara dan Referensi
Saat merekrut pengasuh, jangan memilih lewat wawancara telepon. Anda sebaiknya bertemu langsung dengan kandidat pengasuh agar mengetahui sifat kepribadiannya, penampilan, kebersihan dan mengisi formulir aplikasi untuk mengetahui kualifikasi yang diinginkan.
Lalu wawancara kandidat satu per satu dengan menanyakan pengalaman, hobi dan apakah mereka menyukai anak-anak. Anda juga harus melakukan verifikasi terhadap kandidat pengasuh yang direferensikan. Hal ini karena banyak risiko yang terlibat dalam bisnis ini. Oleh karena itu, Anda harus cek dan verifikasi terhadap formulir pendaftaran dan aplikasi yang sudah diisi oleh calon pengasuh.

Keterampilan yang Harus Diperhatikan
Untuk merekrut pengasuh ada sejumlah keterampilan yang harus dimiliki. Menjadi hal utama yaitu menyukai dan peduli terhadap anak-anak. Dua hal itu menjadi kualitas yang dimiliki pengasuh yang baik. Selain itu, pengasuh itu dapat diandalkan dan dipercaya.
Tak hanya itu saja, ia juga diharapkan dapat memberikan motivasi dan memberi kontribusi terhadap perbaikan dan perkembangan anak. Pengasuh tersebut juga dapat bersikap disiplin dan komunikatif.

Melakukan Pemeriksaan Latar Belakang
Anda tidak ingin merusak reputasi dengan mempekerjakan orang yang salah untuk pekerjaan itu. Oleh karena itu, pastikan Anda untuk memiliki orang handal agar menyelidiki latar belakang calon pengasuh. Selain itu, Anda juga dapat memeriksa latar belakang kriminal seseorang lewat Kepolisian.
Untuk memastikan, Anda juga dapat meminta calon pengasuh agar mengisi catatan kriminal bila memiliki catatan kriminal. Anda juga harus memberitahukan kepada calon kandidat mengenai pemeriksaan latar belakangnya.

Aplikasi Klien
Serupa dengan formulir aplikasi pengasuh, Anda sebaiknya membuat formulir aplikasi klien. Formulir aplikasi untuk klien ini agar mengetahui rincian tentang anggota keluarga, usia anak-anak dan agar dapat mengetahui apakah pengasuh diperlukan untuk waktu penuh dan part time.
Lalu bila pengasuh perlu bepergian ke luar negeri dengan keluarga juga harus disebutkan dalam aplikasi. Bila anak membutuhkan bantuan khusus juga harus disebutkan dalam aplikasi.

Membuat kontrak
Anda harus membuat dua kontrak yaitu satu untuk pengasuh dan untuk klien. Anda harus mempersiapkan kontrak ini setelah berkonsultasi dengan pengacara Anda.
Dalam kontrak pengasuh harus mencakup informasi seperti durasi kerja, pembayaran dan tugas. Sedangkan kontrak klien akan mencakup persyaratan pembayaran, syarat dan ketentuan lainnya.

Pengaturan Tarif
Anda akan harus mengatur tingkat yang sesuai dengan kebutuhan klien. Jika diperlukan, Anda dapat memasukkan jumlah jam per minggu untuk pengasuh yang dibutuhkan dan masa kerja.

Adapun kriteria untuk menentukan tarif antara lain seperti jam kerja full time atau tidak, jumlah jam kerja, total jumlah anak, umur anak, anak-anak yang membutuhkan bantuan khusus, pekerjaan rumah tangga, dan transportasi anak.

Selasa, 04 Maret 2014

Manager ; Tips Menyampaikan VISI ke Pemegang Saham


Membuat visi strategis memang bukan sesuatu yang gampang. Namanya juga visi yang berarti ada makna pandangan ke masa depan, tentunya tidak mudah dimengerti dalam kacamata jangka pendek. Visi harus ada karena ini yang membuat perusahaan bisa strategis karena memberikan peta dan gambaran tentang masa depan perusahaan, khususnya paska transformasi. Tentunya, menyampaikan visi kepada pemegang saham dengan kepada konsumen itu sesuatu langkah yang berbeda. Kata kunci menyakinkan pemegang saham adalah sustainaibility.

Visi di sini juga mengandung unsur menyakinkan seluruh unsur di dalam perusahaan tentang alasan mengapa perusahaan itu perlu mengarah ke sebuah tujuan. Visi itu akan mengarahkan, meluruskan, sekaligus menginspirasi gerak seluruh langkah jajaran perusahaan dalam mencapai perubahan. Sebab itu, visi juga memiliki nilai motivasi untuk menggapai masa depan perusahaan yang gemilang.

Perusahaan yang tidak memiliki visi yang jelas dipastikan ada dalam bahaya. Banyak program dan proyek transformasi yang gagal karena perusahaan menganggap remeh visi tersebut. Akibatnya, seluruh jajaran perusahaan akan bingung, merasa berada di persimpangan jalan, salah arah, dan tercekam ketidakpastian.

Namun, sering tidak mudah menyakinkan perusahaan visioner akan profit di masa depan. Ketegangan sering terjadi ketika para pemegang saham ingin mendapatkan hasil yang cepat. Visi jangka panjang sering bertabrakan dengan keinginan jangka pendek. Maklum, sudah menjadi karakter dasar manusia yang ingin memeroleh keuntungan dalam waktu pendek.

Sebagai gambaran, berikut tahap-tahap jatuhnya perusahaan yang tidak visioner dan bernafsu mengejar keuntungan jangka pendek dari buku James Collins berjudul “How The Mighty Fall”. Ada beberapa tahapan sebuah perusahaan besar akan kolaps. Pertama, perusahaan itu bersikap arogan dan ingin melakukan dan menggarap banyak hal alias serakah. Kedua, perusahaan itu kemudian malah lebih agresif mengejar pertumbuhan. Ketiga, saat tanda-tanda kegagalan di depan mata, perusahaan justru tampak acuh. Keempat, mereka kemudian tahu publik mulai tahu perusahaan sedang mengalami masalah dan terancam bangkrut. Kelima, bila perusahaan tidak berbenah, perusahaan itu akhirnya bangkrut.

Memang, untuk meyakinkan para pemegang saham, manajemen perusahaan perlu membuat dan mengomunikasikan visi perusahaan secara baik dan persuasif. Visi yang baik selalu mencantumkan atau mengusung konsep keberlangsungan bisnis (sustainability).

Mengapa konsep keberlangsungan bisnis ini penting? Jawabannya, karena konsep ini memberikan keunggulan kompetitif dalam jangka panjang. Hal ini juga didukung dengan logika bahwa di lanskap bisnis yang berubah dan ditandai dengan polarisasi pasar serta kelangkaan sumber daya alam, konsep keberlangsungan ini makin diperlukan. Hal kemudian adalah bagaimana menyakinkan para pemegang saham. Khususnya, visi yang mengusung konsep keberlangsungan ini bakal meningkatkan produktivitas biaya, pendapatan, dan nilai merek dari perusahaan tersebut.

Seperti dikatakan Philip Kotler (2010), beda dengan konsumen, para pemegang saham tidak akan terkesan dengan kisah-kisah sukses perusahaan. Para pemegang saham lebih peduli pada hasil dan benefit dari investasi mereka ke dalam perusahaan. Pada dasarnya, ketika pemegang saham berpikir mengenai kinerja, mereka berpikir soal keuntungan (profitability) dan kemampuan pengembalian (returnability). Keuntungan itu merupakan tujuan jangka pendek dan pengembalian sebagai tujuan jangka panjang.

Pemegang saham juga berbeda dengan para karyawan yang memiliki ikatan kuat dengan kultur perusahaan yang ada. Kepentingan mereka satu, yakni pengembalian dari investasi mereka. Mereka juga menjadi orang yang bertugas mengawasi proses bisnis serta memastikan eksekutif perusahaan melakukan pekerjaannya dengan baik. (Kotler et. al, 2010).

Untuk menggawangi dan mengawal hal ideal tersebut membutuhkan sebuah kemampuan yang tidak standar saja. Khususnya kemampuan yang dikenal dengan strategic foresight. Kemampuan ini sangat jarang ditemukan kecuali pada diri seorang pemimpin yang memiliki pandangan visioner dan kekuatan karismatik untuk memperkenalkan ide-ide perubahan itu kepada seluruh pemangku kepentingan—baik kepada pelanggan, karyawan, maupun pemegang saham. Mungkin tipe pemimpin ini bukanlah tipe pemimpin yang tidak populer. Ia berani menerobos cara konvensional dalam berbisnis. Termasuk keberanian dan kemampuan menyakinkan pemegang saham.

Management : 10 Tips Agar Lingkungan Kerja Lebih Inovatif


Pada kenyataannya, banyak sekali cara yang bisa ditempuh untuk menciptakan atmosfer inovatif di dalam lingkungan kerja Anda. Jika nda tengah menghadapi masalah minimnya inovasi bisnis Anda sekarang, tak ada salahnya mencoba menerapkan 10 saran berikut ini dalam keseharian menjalankan bisnis . Semua saran ini dibuat sebagai panduan bagi siapa saja untuk mengembangkan filosofi inovatif di lingkungannya.

Saat semua saran tersebut diikuti dan dilaksanakan dengan baik, Anda akan menyaksikan sebuah lingkungan kerja yang kondusif bagi munculnya berbagai pemikiran entrepreneurial potensial. Hasilnya? Sebuah filosofi yang mendukung perilaku inovatif semua awak perusahaan Anda.

Saran 1: Mendorong tindakan
Ide hanyalah tetap ide jika belum pernah diwujudkan dengan tindakan. Berikanlah dorongan bagi para karyawan dan mitra kerja untuk selalu datang bukan hanya dengan ide cemerlang tetapi memberikan sesuatu yang nyata, yang sudah dikerjakan meski itu sedikit dan belum menghasilkan secara signifikan.

Saran 2: Adakan rapat informal jika memungkinkan
Rapat formal membuat waktu kita terbuang percuma. Dengan mengadakan rapat informal yang singkat dan langsung membahas mengenai isu penting, Anda dan karyawan tak perlu membuang waktu untuk hal lain yang kurang esensial. Jika memungkinkan, lakukan rapat dengan berdiri dan batasi waktunya. Dengan begitu, Anda semua akan terpacu untuk berdiskusi secara efektif.

Saran 3: Tolerir kegagalan dan gunakan kegagalan sebagai pengalaman pembelajaran
Tak akan ada yang mau mengalami kegagalan, tetapi hanya dengan kegagalanlah kita belajar dengan cara yang terbaik. Mengalami langsung kegagalan membuat kita belajar banyak dari hanya sekadar membaca buku tentang kisah sukses dan gagal entrepreneur lain yang super sukses. Untuk itu, bersikap bijaklah saat orang di sekeliling kita gagal. Jangan kucilkan orang yang gagal. Namun, tentu saja berikan batas yang jelas toleransi kegagalan sehingga meskipun gagal orang juga tidak lupa untuk belajar.

Saran 4: Gigih dalam menerapkan ide ke pasar
Penerapan ide dalam pasar bukan sesuatu hal yang mudah. Diperlukan kerja keras untuk itu. Untuk itu, jangan lekas menyerah saat gagal menerapkan ide ke pasar.

Saran 5: Berikan apresiasi atas inovasi
Jika sudah ada inovasi yang dihasilkan sekecil apapun itu, berikan penghargaan. Terlebih jika inovasi itu bisa diterapkan secara nyata dan bermanfaat bagi perusahaan secara signifikan.

Saran 6: Rencanakan tata letak fisik perusahaan untuk mendorong terbangunnya komunikasi informal
Komunikasi yang formal akan mengarah ke suasana yang kaku. Dengan mencairkan suasana kerja, komunikasi antarstaf bisa lebih terjalin kuat. Untuk memudahkan terciptanya kondisi ini, Anda sebagai pemilik bisnis atau entrepreneur perlu sekali memikirkan bagaimana mengatur kantor atau tempat kerja staf sehingga mereka bisa berinteraksi dengan lebih leluasa.

Saran 7: Lakukan bootlegging  (mewujudkan sebuah ide cerdas dengan mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi saat jam kerja dan waktu pribadi)
Terapkanlah bootlegging dalam perusahaan Anda agar akan selalu ada inovasi dalam perusahaan. Setelah menyelesaikan sebuah ide dan membuatnya berjalan pada konteks nyata, cobalah untuk menunjukkan hasil kerja pada rekan atau karyawan. Mungkin mereka bisa memberikan ide perbaikan atau terkejut dan memuji hasil kerja keras ini.

Saran 8: Kelompokkan staf dalam grup-grup kecil untuk proyek-proyek berorientasi masa depan
Jangan terpaku dengan kegiatan dan rutinitas sehari-hari. Perusahaan dengan visi jauh ke depan perlu juga merancang masa depannya. Untuk itu, bagilah staf dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek yang mungkin tidak akan menghasilkan apapun dalam waktu dekat ini tetapi akan sangat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan di masa datang. Inilah investasi tak kasat mata yang sering dilupakan.

Saran 9: Dorong staf untuk mengakali prosedur dan birokrasi yang berbelit dan rumit
Indonesia terkenal dengan prosedur dan birokrasi yang rumit. Mungkin ini kelemahan kita tetapi dalam lingkungan yang penuh kendala, pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul karena kejengkelan atas berbelitnya aturan bisa menjadi ide inovatif yang amat ‘menjual’. Tentu saja ide inovatif itu harus berada dalam koridor hukum dan etika yang berlaku.

Saran 10: Berikan apresiasi dan promosikan personel yang bekerja dengan inovatif
Yang terakhir dan tak kalah penting ialah pemberian penghargaan dalam berbagai bentuk bagi mereka yang mampu menelurkan ide inovatif dan mengapilkasikannya dalam kehidupan nyata sheingga bermanfaat bagi orang di sekitarnya

7 Tanda Pegawai Layak Pecat


Mengutip Business Insider, Selasa (25/2/2014), para pegawai yang cenderung menganjal laju perputaran bisnis perusahaan sebaiknya tidak dipertahankan. Apalagi jika keputusan menahan pegawai hanya didasarkan pada faktor belas kasihan.


Imbasnya, pegawai yang sebetulnya layak dipecat tersebut hanya akan menjadi penghalang majunya perusahaan.

Untuk menghindarkan diri dari kemungkinan terperangkapnya Anda dalam masalah ini, berikut tujuh tanda pegawai yang memang layak dipecat:

1. Tidak memenuhi ekspektasi perusahaan

Pegawai yang terlalu sering menguras perhatian Anda sebagai atasan dan banyak meminta bantuan pada rekan kerjanya merupakan salah satu tanda dirinya tidak cukup mampu bekerja di kantor. Dirinya bisa jadi hanya membuang waktu dan uang perusahaan.


2. Sering mangkir tugas

Sikap positif para pegawai seringkali berperan sebagai nafas perusahaan. Akan tetapi jika pegawai Anda mulai bicara hal-hal negatif soal atasan dan mengabaikan perintah pimpinan, mungkin ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal.


3. Tidak mau berubah

Perubahan merupakan hal yang biasa di setiap perusahaan khususnya yang tumbuh dengan cepat. Tetapi jika karyawan tidak mampu mengikuti perubahan tersebut, sebaiknya relakan saja dirinya untuk mencari pekerjaan lain.


4. Tidak punya motivasi

Perasaan dan sikap negatif dapat menyebar dengan cepat dalam sebuah tim kerja di kantor. Maka penting bagi setiap atasan untuk memecat karyawan yang seringkali mengeluhkan tugas tambahan bagi dirinya. Sebaiknya lepaskan saja pegawai yang tidak punya ketertarikan para perusahaan atau pekerjaannya.


5. Sering membuang waktu

Sering datang terlambat ke kantor merupakan salah satu contoh pergawai yang tidak menghargai waktu dan perusahaan. Tak peduli betapa berbakatnya pegawai tersebut, jika dia sering membuang waktu dengan datang terlambat, menghentikan karirnya di perusahaan merupakan cara terbaik.



6. Kepribadiannya tidak sesuai dengan tugas-tugas di kantor

Para atasan seringkali merekrut karyawan karena kemampuannya. Tetapi kadang kepribadiannya tidak sejalan dengan perusahaan. Karena dia hanya akan memperlambat laju pertumbuhan perusahaan, sebaiknya hentikan saja.



7.  Perusahaan tidak lagi membutuhkan pegawai tersebut

Kadang bisnis Anda melambat karena terganjal pegawai yang tidak mampu lagi mengemban tugas dengan baik. Saat itu, dirinya sudah tak lagi membantu perusahaan maka lepaskan saja

Jumat, 07 Februari 2014

10 Tips Rahasia Sukses Orang Jepang


Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata tidak untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena hai belum tentu ya bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Berikut adalah 10 rahasia sukses orang Jepang :
      1. Kerja Keras
      2. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan agak memalukan di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan.
      3. Malu
      4. Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena mengundurkan diri bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
      5. Hidup Hemat
      6. Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.
      7. Loyalitas
      8. Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
      9. Inovasi
      10. Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.
      11. Pantang Menyerah
      12. Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
      13. Budaya Baca
      14. Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
      15. Kerjasama Kelompok
      16. Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa 1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan rin-gi adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam rin-gi.
      17. Mandiri
      18. Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka meminjam uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
      19. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
      20. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. (bn/dari berbagai sumber)

Ini Solusi .. Lingkungan Kerja yang Tidak Inovatif


Pada kenyataannya, banyak sekali cara yang bisa ditempuh untuk menciptakan atmosfer inovatif di dalam lingkungan kerja Anda. Jika nda tengah menghadapi masalah minimnya inovasi dalam bisnis Anda sekarang, tak ada salahnya mencoba menerapkan 10 saran berikut ini dalam keseharian menjalankan bisnis. Semua saran ini dibuat sebagai panduan bagi siapa saja untuk mengembangkan filosofi inovatif di lingkungannya.

Saat semua saran tersebut diikuti dan dilaksanakan dengan baik, Anda akan menyaksikan sebuah lingkungan kerja yang kondusif bagi munculnya berbagai pemikiran entrepreneurial potensial. Hasilnya? Sebuah filosofi yang mendukung perilaku inovatif semua awak perusahaan Anda.

Saran 1: Mendorong tindakan
Ide hanyalah tetap ide jika belum pernah diwujudkan dengan tindakan. Berikanlah dorongan bagi para karyawan dan mitra kerja untuk selalu datang bukan hanya dengan ide cemerlang tetapi memberikan sesuatu yang nyata, yang sudah dikerjakan meski itu sedikit dan belum menghasilkan secara signifikan.

Saran 2: Adakan rapat informal jika memungkinkan
Rapat formal membuat waktu kita terbuang percuma. Dengan mengadakan rapat informal yang singkat dan langsung membahas mengenai isu penting, Anda dan karyawan tak perlu membuang waktu untuk hal lain yang kurang esensial. Jika memungkinkan, lakukan rapat dengan berdiri dan batasi waktunya. Dengan begitu, Anda semua akan terpacu untuk berdiskusi secara efektif.

Saran 3: Tolerir kegagalan dan gunakan kegagalan sebagai pengalaman pembelajaran
Tak akan ada yang mau mengalami kegagalan, tetapi hanya dengan kegagalanlah kita belajar dengan cara yang terbaik. Mengalami langsung kegagalan membuat kita belajar banyak dari hanya sekadar membaca buku tentang kisah sukses dan gagal entrepreneur lain yang super sukses. Untuk itu, bersikap bijaklah saat orang di sekeliling kita gagal. Jangan kucilkan orang yang gagal. Namun, tentu saja berikan batas yang jelas toleransi kegagalan sehingga meskipun gagal orang juga tidak lupa untuk belajar.

Saran 4: Gigih dalam menerapkan ide ke pasar
Penerapan ide dalam pasar bukan sesuatu hal yang mudah. Diperlukan kerja keras untuk itu. Untuk itu, jangan lekas menyerah saat gagal menerapkan ide ke pasar.

Saran 5: Berikan apresiasi atas inovasi
Jika sudah ada inovasi yang dihasilkan sekecil apapun itu, berikan penghargaan. Terlebih jika inovasi itu bisa diterapkan secara nyata dan bermanfaat bagi perusahaan secara signifikan.

Saran 6: Rencanakan tata letak fisik perusahaan untuk mendorong terbangunnya komunikasi informal
Komunikasi yang formal akan mengarah ke suasana yang kaku. Dengan mencairkan suasana kerja, komunikasi antarstaf bisa lebih terjalin kuat. Untuk memudahkan terciptanya kondisi ini, Anda sebagai pemilik bisnis atau entrepreneur perlu sekali memikirkan bagaiaman mengatur kantor atau tempat kerja staf sehingga mereka bisa berinteraksi dengan lebih leluasa.

Saran 7: Lakukan bootlegging (mewujudkan sebuah ide cerdas dengan mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi saat jam kerja dan waktu pribadi)
Terapkanlah bootlegging dalam perusahaan Anda agar akan selalu ada inovasi dalam perusahaan. Setelah menyelesaikan sebuah ide dan membuatnya berjalan pada konteks nyata, cobalah untuk menunjukkan hasil kerja pada rekan atau karyawan. Mungkin mereka bisa memberikan ide perbaikan atau terkejut dan memuji hasil kerja keras ini.

Saran 8: Kelompokkan staf dalam grup-grup kecil untuk proyek-proyek berorientasi masa depan
Jangan terpaku dengan kegiatan dan rutinitas sehari-hari. Perusahaan dengan visi jauh ke depan perlu juga merancang masa depannya. Untu itu, bagilah staf dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan proyek yang mungkin tidak akan menghasilkan apapun dalam waktu dekat ini tetapi akan sangat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan di masa datang. Inilah investasi tak kasat mata yang sering dilupakan.

Saran 9: Dorong staf untuk mengakali prosedur dan birokrasi yang berbelit dan rumit 
Indonesia terkenal dengan prosedur dan birokrasi yang rumit. Mungkin ini kelemahan kita tetapi dalam lingkungan yang penuh kendala, pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul karena kejengkelan atas berbelitnya aturan bisa menjadi ide inovatif yang amat menjual. Tentu saja ide inovatif itu harus berada dalam koridor hukum dan etika yang berlaku.

Saran 10: Berikan apresiasi dan promosikan personel yang bekerja dengan inovatif
Yang terakhir dan tak kalah penting ialah pemberian penghargaan dalam berbagai bentuk bagi mereka yang mampu menelurkan ide inovatif dan mengapilkasikannya dalam kehidupan nyata sheingga bermanfaat bagi orang di sekitarny

Kamis, 30 Januari 2014

Manager ; Tips Branding yang Efektif


Branding yang baik dan tepat memampukan bisnis dan merek menjadi sesuatu yang ikonik. Hal ini juga dikarenakan merek dan bisnis tersebut memiliki diferensiasi yang tidak dimiliki oleh pesaingnya. 

Termasuk memiliki positioning yang jelas dan kuat di pasar.   

Branding menjadi bagian upaya untuk mengomunikasikan diferensiasi serta positioning dari merek tersebut.

Lalu, bagaimana membangun efektivitas dalam proses branding tersebut..? 

Berikut adalah beberapa hal yang layak diperhatikan:

Pertama, centered. Bisnis dengan merek yang sukses adalah bisnis yang memiliki fokus. Bisnis ini memiliki tujuan yang jelas dan nilai-nilai yang mereka hidupi. Tujuan ini harus bisa dirumuskan secara jelas. Ketika bisnis ini berkembang, bisa jadi pengelolanya menggeser positioning merek untuk memastikan keselarasan dengan pesan dan tujuan semula tersebut. 

Kedua, clarify. Pesan dan citra merek harus senantiasa diklarifikasi secara kontinu. Pasalnya, lanskap pasar senantiasa berkembang dan berubah. Klarifikasi dilakukan agar merek senantiasa tetap relevan dengan zamannya. Posisi merek juga terus menerus diklarifikasi di tengah persaingan yang makin ketat dan kreatif.  Jampai merek menjadi kabur dan malah hilang ditekan hiruk pikuk kompetisi karena tidak melakukan klarifikasi tersebut.

Ketiga, contribute. Era sekarang adalah era komunitas. Internet telah menjadi konektor orang untuk terhubung dengan komunitasnya. Sebab itu, agar merek juga bisa eksis di tengah-tengah mereka, merek tersebut harus bisa terlibat dalam aktivitas dan perbincangan dalam komunitas tersebut. Semakin banyak merek berkontribusi dan memberikan nilai tambah bagi komunitas, brandingnya akan semakin kuat.  Meminjam istilah Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Tbk Arief Yahya dalam bukunya berjudul "The more you give, the more you get" bisa diterapkan di sini.

Keempat, connect. Era sekarang menghadirkan connected society-- masyarakat yang terhubung. Sebab itu, agar merek tetap eksis, merek ini harus senantiasa membangun konektivitas dengan elemen masyarakat kontemporer tersebut. Lebih utama lagi, merek harus bisa membangun konektivitas dengan pelanggannya, kapan pun dan di mana pun. Jangan sampai ketika pelanggan membutuhkannya, yang terjadi justru diskonektivitas.

Kelima, creat community. Internet menyerukan satu pesan tandas: tidak ada bisnis yang sukses karena mengeksklusifkan dirinya dalam silo-silo (tembok-tembok pembatas). Bisnis yang sukses saat ini harus bisa keluar untuk bergabung dengan komunitas-komunitas pelanggan. Bisnis membutuhkan komunitas, khususnya komunitas pelanggan masing-masing. Di era New Wave Marketing, komunitisasi ini merupakan cara baru merek dalam mengelola segmentasinya. 

Keenam, exude confidence. Dalam proses branding, keyakinan dan tampil percaya diri itu penting. Karena ini menjadi tolok ukur pertama bahwa branding akan sukses. Bagaimana akan sukses kalau dari para pengelolanya saja tidak yakin dengan apa yang dilakukan?  Untuk membangun keyakinan ini, pebinis bisa memulai dengan mengutamakan kompetensinya. Kompetensi inilah yang harus ditonjolkan agar  masyarakat konsumen pun juga makin yakin akan posisi merek tersebut.

Ketujuh, be congruent. Bisnis dan merek harus bisa dikelola secara kongruen. Artinya, baik bisnis maupun merek senantiasa mempromosikan pesan yang sama. Misalnya, bila merek Anda sangat concern pada kehidupan anak-anak, bisnis Anda tidak perlu mensponsori aktivasi yang tidak ada kaitannya kehidupan anak-anak. Misalnya, mensponspori program-program orang dewasa. Inkonsistensi bisa membingungkan pasar yang ditarget. 

Kedelapan, be consistent. Pastikan produk dan jasa bisa tersampaikan kepada target audiens secara konsisten.  Ingat, reputasi merek dibangun bertahun-tahun, tapi bisa hancur karena kesalahan sekecil dalam sekejap.

Kesembilan, create clout. Lakukan segala hal dengan komptensi Anda untuk memberikan pengaruh pada merek. Bila perlu, Anda mengundang tokoh publik dan selebriti untuk menjadi endorser merek Anda. Namun, Anda harus selektif dalam memilih tokoh tersebut agar tidak kontraproduktif terhadap merek Anda.

Tips 6 Langkah Menjadi Mentor


Aku sudah mentoring orang dan mencari mentoring sendiri selama 12 tahun terakhir ini, terutama karena aku telah memutuskan bahwa mentoring tidak benar-benar kegiatan opsional dalam bisnis. 

Orang memiliki keinginan bawaan untuk menyampaikan apa yang mereka ketahui. Ini hampir seperti pengetahuan menumpuk di kepala Anda dan kebutuhan untuk menemukan host baru, dan, tindakan berbagi memperkuat apa yang Anda ketahui.
Setiap pemain pemula atau pendatang baru pastinya membutuhkan sosok pembimbing yang biasa disebut mentor. 

Tetapi sosok yang penuh opsional dalam berbisnis ini selalu memiliki cerita yang berbeda-beda. Pada umumnya masing-masing orang punya kemampun untuk menjadi mentor yang disesusaikan dengan bawaan dirinya dalam menyampaikan apa yang diketahui. 

John Brandon dari Inc.com meluapkan pendapatnya dalam memaksimalkan keuntungan sebagai mentor. Berikut adalah 6 langkah untuk memaksimalkan keuntungan menjadi mentor.]

1. Jangan hanya mencari, jadilah seorang mentor.
Penting untuk memiliki mentor pribadi dalam berbisnis, dalam waktu yang bersamaan cobalah untuk menjadi mentor juga bagi orang lain. Ini artinya Anda dapat menerima dan memberi pada waktu yang bersamaan. Dalam pengalamannya menjadi mentor, John juga memiliki sosok yang ingin dibagikan ilmu. Sebagai contoh, John belajar bagaimana untuk menjadi lebih gigih dalam menjual dirinya disaat berkerja sebagai pekerja lepas.

2. Ajarkan apa yang Anda ketahui
Mungkin Anda berpikir belum layak menjadi seorang mentor sampai saat ini. Tapi ada pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi "Write about what you know" yang berbalik menjadi "mentor about what you know." John pernah menjadi mentor untuk seorang penulis hanya lewa surat elektronik, pihak yang dimentori pun berkembang pesat. Mentor yang baik siap membantu dalam konflik, hanya sekedar untuk meberikan saran berdasarkan pengalam pribadi. Tujuannya adalah untuk memberikat nasihat dan melihat yang bisa dipelajari dari masalah tersebut untuk menambah pengetahuan. Mentor tidak harus bersertifikat, cukup dengan kesediaanya dalam berbagi apa yang dibutuhkan.

3. Hindari jebakan menjadi seorang pengendali.
Di masa mudanya, John mengakui kesalahannya sebagai mentor yang bersikap mengendalikan orang lain. Disaat seseorang membutuhkan sarang dari mentor, janganlah menyia-nyiakan kesempatan membantu orang lain  hingga merusak hubungan dengan orang yang dimentori. Pastikan motif dalam berbagi saran berjalan dengan murni, dan hanya ingin melihat orang lain ikut berkembang dan sukses.

4. Temukan mentor dengan alasan yang benar.
Mentor juga bisa melakukan kesalahan, terkadang untuk mendapat masukan gratis pun berujung jasa berbayar. Ada saja orang yang melakukan tipu muslihat lewat meminta sara. John pernah menemukan orang yang dimentorinya termakan ego, alhasil orang itu pun berbalik mempunyai motif curang untuk mencuri informasi. Tidak semua orang mempunya motif baik disaat mencari mentor. Hal ini penting untuk mengetahui terlebih dahulu motivasi seorang mentor dalam berbagi. Yaitu sama-sama belajar.

5. Gunakan waktu sebijak mungkin
Menjadi mentor membutuhkan waktu sesuai pengalaman pribadinya. John pernah bertemu dengan seseorang yang tertarik untuk menjadi mentor, dirinya pun berbagi apa yang ia dibagikan dalam menjadi seorang mentor. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, orang tersebut menyatakan mulai kurang tertarik untuk menjadi seorang mentor. Mentor juga perlu mengamati karakter orang yang dimentori, dan memperhatikan pertanda-pertanda negatif dari pihak yang dibantu. Waktu yang telah dipersiapkan khusus pun akhirnya terbuang secara cuma-cuma.

6. Jangan menunggu lama
Jika saat ini Anda belum menjadi seorang mentor, cobalah untuk segera melakukan kegiatan mentor. Pelajaran yang didapat setiap hari membutuhkan mentor. Jika Anda baru memulai bisnis dan membutuhkan mentor, jangan menghabiskan waktu menunggu untuk mencari mentor. John membagikan slogan lamanya "Information wants to be free." Jadilah mentor untuk berbagi dan menerima informasi yang dicari.

Senin, 27 Januari 2014

Management : Inilah Ciri Kategori Kita sudah menjadi Pemimpin INOVATIF


Bapak manajemen modern, Peter Drucker, pernah menyatakan bahwa ada dua, dan hanya ada dua fungsi utama dari semua bisnis, yaitu pemasaran (bagaimana perusahaan mendapatkan segmen pasar yang mau menerima penawaran perusahaan) dan inovasi (bagaimana perusahaan selalu dinamis mengadaptasi penawarannya agar tetap relevan dengan kondisi pasar). Dengan demikian, jika pada hari ini suatu perusahaan berhasil mengidentifikasi segmen pasar yang tepat bagi produknya sehingga mendapatkan laba dari kegiatan pemasarannya, hal yang sama belum tentu akan dapat dipertahankan pada esok, lusa, atau di masa depan, jika perusahaan tersebut tidak melakukan inovasi.

CEO adalah pimpinan puncak perusahaan yang diharapkan menjadi lokomotif bagi penciptaan inovasi perusahaan. Untuk dapat menjadi lokomotif inovasi, seorang CEO tentunya juga harus memiliki DNA sebagai inovator. Bagaimana dia dapat mengawal proses inovasi jika secara karakter, dia tidak suka terhadap perubahan dan malahan cenderung menikmati status quo. Dari hasil penelitian selama enam tahun terhadap 25 CEO dan tokoh inovasi, 3.000 manajer puncak, dan 500 penemu produk baru, yang hasilnya dimuat diHarvard Business Review, Dyer, Gregersen, dan Christensen menemukan bahwa memang tidak semua CEO adalah inovator. Banyak CEO yang merasa bahwa kewajiban mereka adalah sebatas menyediakan fasilitas dan sistem sebagai enabler bagi terjadinya inovasi. Mereka mendelegasikan inovasi kepada para manajer dan stafnya.

Para CEO ini tidak berkontribusi langsung dalam proses penciptaan ide sebagai dasar inovasi. Sebaliknya, sebagian kecil perusahaan (15%) dalam sampel penelitian Dyer dan kawan-kawannya, memiliki CEO yang dapat dikategorikan sebagai inovator. Mereka tidak mendelegasikan proses penciptaan ide kepada orang lain. Dengan kata lain, mereka sendiri yang menjadi gudang ide-ide baru yang nantinya menjadi cikal bakal inovasi. Almarhum Steve Jobs tentunya termasuk golongan CEO yang seperti ini. Contoh lainnya adalah Herb Kelleher (Southwest Airlines), Pierre Omidyar (eBay), Michael Dell (Dell Computer), A.G. Lafley (P&G), dan beberapa tokoh lainnya.

Apa ciri utama dari para inovator ini? Mereka memiliki inteligensia tinggi dalam hal kreativitas (creative intelligence). Inteligensia ini memadukan kekuatan otak kiri dan otak kanan sehingga ide yang dikeluarkan tetap orisinal, tetapi pada saat yang sama juga tetap realistis. Dalam buku The Opposable Mind, Roger Martin—dia adalah Dekan Rothman Business School—menyatakan bahwa seorang inovator memiliki kapasitas di kepalanya untuk menampung dua ide yang sangat berseberangan (two diametrically opposing ideas). Mereka tidak takut untuk kelihatan “aneh” dengan ide-idenya, karena mereka sadar sepenuhnya bahwa inovasi yang radikal harus memiliki elemen kebaruan (novelty) dan juga unsur kejutan (surprise). Di samping inteligensia kreatif yang tinggi, para inovator ini ternyata memiliki lima keahlian khusus yang unik, yang membedakan mereka dari para manajer atau CEO yang lain. 

Keahlian pertama adalah kemampuan membuat asosiasi. Kemampuan ini berguna untuk menghubung-hubungkan hal yang tampaknya tidak berkait, menjadi saling berkait. Konon, ide-ide brilian mendiang Steve Jobs muncul dari obsesi dan ketertarikannya pada seni kaligrafi, aliran meditasi, dan kemewahan mobil Mercedes Benz. Ketiga hal yang tampaknya tidak berkaitan, tapi di dalam otak seorang Jobs, ketiga hal tersebut bercampur dan kemudian menelurkan ide-ide inovatif dalam produk yang diluncurkan Apple.

Keahlian kedua adalah kemampuan bertanya kritis. Drucker menyatakan bahwa hal yang sulit bukanlah menemukan jawaban yang tepat, tetapi menemukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang tepat sifatnya provokatif, menolak status quo, dan menjangkau masa depan. Para CEO inovatif selalu bertanya apakah ada cara baru dalam membuat produk, teknologi baru untuk melakukan distribusi, pasar baru yang belum tercipta, mengapa kita melakukannya seperti ini, pihak mana yang harusnya diajak kerja sama, dan banyak lagi pertanyaan mendasar lainnya. Omidyar (pendiri eBay) mengatakan bahwa di masa sekolahnya dia cenderung tidak disukai guru dan teman sekelasnya, karena dia selalu aktif bertanya dengan kritis, sehingga dia dianggap “memojokkan” guru dan teman sekelasnya.

Keahlian ketiga dan keempat adalah kemampuan mengobservasi lingkungan dan kemampuan melakukan eksperimen. Para CEO inovatif selalu mengamati apa yang terjadi di lapangan dan di kehidupan sehari-hari, kemudian bereksperimen untuk melihat kemungkinan-kemungkinan. Dari observasi dan eksperimen ini muncul ide-ide untuk melakukan sesuatu yang baru untuk memenuhi kebutuhan di lapangan atau membantu orang menjalankan tugasnya sehari-hari.

Keahlian yang kelima adalah kemampuan membuat jejaring (networking). CEO inovatif aktif bertemu dengan orang-orang di luar perusahaan dan bahkan di luar industrinya. Dari hasil interaksi dengan berbagai kalangan ini, akan muncul ide-ide kreatif yang bisa jadi tidak terpikirkan jika mereka hanya nyaman bergaul dengan orang di dalam perusahaan atau hanya para pelaku di industri yang sejenis. Michael Lazaridis (Research in Motion) mendapatkan ide untuk menciptakan BlackBerry ketika menghadiri seminar sistem transfer data nirkabel untuk mesin vending milik Coca Cola.

Setelah mengetahui pentingnya peranan CEO dalam inovasi, kita tentunya berharap para CEO di Indonesia—khususnya perusahaan nasional dan BUMN—dapat menjadi lokomotif inovasi di perusahaannya masing-masing. Jika dunia di belahan Barat saja—yang masyarakatnya lebih ekspresif dan terbuka terhadap hal-hal baru dan power distance yang relatif rendah—tetap membutuhkan peranan CEO yang inovatif, apalagi perusahaan di Indonesia dengan budaya yang lebih patriarkis, power distance yang tinggi, dan masyarakatnya membutuhkan figur panutan (role model). Kebutuhan terhadap CEO inovatif di perusahaan Indonesia menjadi sangat relevan.